KP3 Sosialisasikan Pelecehan Seksual ke Guru BP

3-Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya melakukan sosialisasi kekerasan terhadap anak kepada ratusan guru BP, Selasa (20,5). abednegoKP3 Surabaya, Bhirawa
Kian maraknya kasus pelecehan seksual yang melibatkan anak-anak sebagai korban, mendapat perhatian dari semua pihak. Perhatian itu juga diberikan oleh Polres Pelabuhan Tanjung Perak (KP3) Surabaya, dengan mengadakan penyuluhan terhadap ratusan guru Bimbingan Konseling (BK) sekolah, yang ada dikawasan hukum KP3, pada Selasa (20/5).
Kasubbag Humas Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP Lily Djafar mengatakan bahwa kegiatan ini mengundang 105 guru Bimbingan Penyuluhan dan Bimbingan Konnseling (BP/BK) di wilayah hukum Polres Pelabuhan Tanjung Perak. “Kami sebenarnya sudah pernah melakukan sosialisasi serupa di sekolah-sekolah,” kata Lily.
Tetapi karena terbatasnya jumlah personel serta banyaknya sekolah yang ada, maka polisi tidak bisa melakukan sosialisasi terhadap satu perstau sekolah yang ada. “Karena itu kami mengundang para guru BP/BK agar mereka langsung bisa menyampaikan ke anak didik mereka,” ujar Lily.
Sementara Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim Priyono Adi Nugroho menerangkan, berkaca dari kasus kekerasan seksual di Jakarta International School (JIS), membuka tabir kejahatan serupa di daerah lain. Satu persatu kasus kekerasan seksual dengan korban anak di bawah umur terus terungkap.
Dengan adanya kasus seperti itu, masyarakat lebih terbuka dan menyadari bahwa masih banyak kasus kekerasan seksual dengan korban anak dan remaja yang banyak terjadi di sekitar kita. Dan secara tak sadar pula kita tidak menyadari atau bahkan tidak melaporkan hal itu ke pihak berwajib dengan alasan-alasan yang ada.
“Dengan adanya penyuluhan ini, membuka mata masyarakat bahwa fenomena kasus kekerasan seksual terhadap anak masih banyak terjadi. Fenomena ini seperti gunung es, kecil di permukaan tetapi sangat besar di dasarnya,” papar Ketua LPA Jatim kepada wartawan, Selasa (20/5).
Lanjutnya, kekerasan terhadap anak tidak hanya berupa kekerasan seksual saja. Setidaknya ada empat jenis kekerasan terhadap anak yakni fisik, psikologi, seksual, dan sosial. Tidak ada yang remeh pada jenis kekerasan ini. Semuanya berbahaya dan tentu saja menimbulkan efek traumatis terhadap mental anak yang masih di bawah umur.
Terkait penyebabnya, kebanyakan yang ditemukan dilapanagan di latar belakangi oleh disfungsi keluarga, kehilangan pekerjaan, dan kekerasan dalam rumah tangga. Maka, perang serta orang tua dalam mendidik anak sangat dibutuhkan. Selain itu, lingkungan sekitar juga perlu mendapat perhatian dari orang tua anak.
“Dalam hal ini, orang tua berperan penting dalam membentuk kepribadian seorang anak. Dimulai dari lingkungan keluarga, social, dan sekolah,” urainya.
Lanjutnya, segala sesuatu yang orang tua, bisa ditiru oleh sang anak, baik itu perbuatan positif maupun negatif. “Jangan lupa, anak adalah investasi. Dia bisa meniru semua perbuatan orang tuanya. Jika si anak meniru perbuatan negatif, dia bisa mengaplikasikannya saat dia besar nanti,” ungkap Priyono.
Sembungnya, saat si anak meniru perbuatan orang tuanya yang negatif, orang tua sudah menebar bibit-bibit kekerasan pada si anak. Kekerasan itu nantinya bisa jadi mewujud menjadi kekerasan dalam bentuk lain.
“Tingkah laku yang ditunjukkan oleh orang tua terkadang ditiru. Dan ini salah satu dampak dan bisa mewujudkan kekerasan pada anak,” tandasnya. [bed]

Keterangan Foto : Polres-Pelabuhan-Tanjung-Perak-Surabaya-melakukan-sosialisasi-kekerasan-terhadap-anak-kepada-ratusan-guru-BP-Selasa-205.-[abed nego/bhirawa]

Tags: