Kriya dan Fesyen Kota Malang Tembus Pasar Internasional

Fasyen karya pengrajin kota Malang ini, telah menembus pasar internasional.

Kota Malang, Bhirawa
Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji mengatakan bahwa hasil produksi para pelaku industri kriya dan fesyen di Kota Malang mampu bersaing dengan produk daerah lain. Hasil karya industri fesyen dengan berbagai produk andalan memiliki kualitas dan bersaing hingga kancah internasional.

“Kaum milenial akan sangat berpengaruh besar pada kehidupan bangsa Indonesia. Maka harapan kami di era globalisasi dan digitalisasi semua industri di Kota Malang akan berbasis teknologi. Malang termasuk menjadi kota kreatif, nanti tentu akan ada sisi lain yang bisa mengantarkan, seperti e-comerce-nya,”tutur Sutiaji.

Ia menegaskan perkembangan ekonomi Kota Malang yang tumbuh secara anomali tidak lepas dari peran ekonomi kreatif. Sehingga sektor ekonomi kreatif memang harus terus dikuatkan guna menyokokng ekonomi Indonesia. “Ekonomi kreatif yang sekarang menjadi primadona pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” sambungnya.

Kota Malang mempunyai potensi ekonomi kreatif (ekraf) luar biasa, termasuk dalam subsektor kriya dan fesyen. Berbagai Industri Kecil dan Menengah (IKM) kriya dan fesyen di Kota Malang tumbuh subur, bahkan beberapa di antaranya telah merambah pasar luar negeri.

Salah satunya House of Diamonds (HoD), sebuah usaha berbasis komunitas yang melibatkan dan memberdayakan sejumlah perempuan sebagai seniman tekstil untuk memproduksi berbagai produk jahitan tangan. Mengusung konsep sociopreneurship, HoD yang diciptakan oleh dua bersaudara Nur Cholidah (Ida) dan Noor Fadillah (Lila) ini berupaya membawa dampak sosial dan berkelanjutan atas permasalahan di lingkungan sekitarnya.

Salah satu Founders HoD Ida menuturkan bahwa, salah satu tujuan dari HoD supaya perempuan, seperti ibu-ibu yang tidak mempunyai kesempatan untuk bekerja di pabrik besar atau ada kendala dalam mendapatkan penghasilan bisa bekerja dari rumah masing-masing.

“Intinya kami ingin berkontribusi menyejahterakan mereka dalam kehidupannya. Awalnya kami mulai dengan hanya dua orang, kemudian setelah belajar dan melakukan riset pada 2015. Akhirnya kami memulai kembali HoD setelah berhenti kurang lebih dua tahun. Lalu kami berkembang hingga 16 orang pengrajin yang aktif bekerja dan mendapat pelatihan,” ujar Ida akhir pekan kemarin.

Sedangkan totalnya ada 30 orang, sebagian bekerja sebagai freelance. Kebanyakan saat ini yang bergabung ibu rumah tangga, ada yang dulu bekerja sebagai pekerja migran, korban human trafficking (perdagangan manusia). Untuk produk yang diproduksi, lanjut Ida, adalah produk-produk tekstil, seperti selimut, bed cover, home ware.

“Ada kimono, scraves, bandana, clutch, masker, istilahnya proyek-proyek gampang yang bisa dikerjakan oleh ibu-ibu yang tergabung dalam HoD. Semua produknya handmade dan slow fashion, karena belum memakai teknologi tingkat tinggi, kami masih mengerjakan secara manual,” imbuh Ida.

Awalnya dia tak menyangka bahwa akan ada orang yang membeli produk yang dijual oleh HoD. Namun kini produknya telah dijual di dalam negeri, bahkan luar negeri seperti Inggris, Amerika Serikat, Canada, Australia, Singapura, Taiwan, dan Finlandia. Ida mengaku pembelinya lebih banyak dari luar Malang, seperti Jakarta.

“Pelanggan juga bisa pesan melalui online. Kami juga jadi produsen toko-toko retail yang mendukung bisnis kecil berbasis komunitas. Itu banyak sekali di luar negeri, sehingga kami reach out (menjangkau) ke toko-toko atau organisasi yang membawahi retailer yang mau memanfaatkan produk lokal Indonesia, seperti di Canada ada satu, Amerika ada tiga, Australia ada satu, di Singapura ada tiga,” tambahnya.[mut]

Tags: