Kukuhkan Empat Gubes, Tekankan Keunggulan dalam Riset

Rektor Unair Prof Moh Nasih lantik empat guru besar Unair dari keilmuan berbeda.

Surabaya, Bhirawa
Empat Guru Besar (Gubes) Universitas Airlangga (Unair) dikukuhkan, Kamis (8/10) kemarin. Berbeda dengan tahun lalu, pengukuhan empat guru besar yang berasal dari keilmuan berbeda itu disiarkan secara Daring melalui live streaming Youtube.
Keempat guru besar ini Prof Dr Sri Puji Astuti Wahyuningsih MSi dan Prof Dr Suryani Dyah Astuti SSi MSi dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Prof Dr Ahmad Yusuf Saiun SKp MKes dari Fakultas Keperawatan (FKp), serta Prof Diah Ariani Arimbi SS MA PhD dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB).
Rektor Unair, Prof Nasih terlihat optimis dengan dikukuhkannya empat Gubes ini. Terlebih sudah sebanyak 211 guru besar aktif yang tercatat. Sementara sejak berdiri pada tahun 1954, Unair telah melahirkan guru besar sebanyak 503 orang.
“Saya optimis dikukuhkannya empat Gubes ini untuk membuat Universitas Airlangga bergerak lebih maju lagi. Saya berharap mereka bisa menyumbangkan energi secara optimal sehingga mampu memperkuat upaya – upaya yang dilakukan kampus,” ujar Prof Nasih.
Lebih lanjut, kedepan diharapkan Universitas Airlangga terus mengembangkan keunggulannya dalam dibidang riset. Prof Nasih mengungkapkan, keunggulan suatu riset tidak berhenti hanya pada sebuah kata – kata melainkan ditentukan atas kebermaknaan terhadap apapun yang dilakukan.
“Riset yang excellent adalah riset yang bermakna, riset yang memiliki value dan memberikan kebermanfaatan baik bagi diri pribadi maupun bagi masyarakat,” jelas Prof Nasih.
Sementara itu, salah satu guru besar yang dikukuhkan, Prof Diah Ariani Arimbi SS MA PhD dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB), dalam orasinya menyerukan perlawanan terhadap stereotip dan konstruksi gender yang merugikan, khususnya pada perempuan.
Gubes aktif kedua FIB ini menyoroti, bagaimana kehadiran perempuan masih sebatas dilihat pada fisiknya saja. Padahal sebagai manusia, perempuan juga memiliki kehadiran mental, sosial, budaya, dan identitas yang harusnya dihormati oleh masyarakat.
“Karena itulah perjuangan menuju kesetaraan gender masih begitu panjang,” kata lulusan S2 English Language and Literature, University of Northern Iowa, Amerika Serikat ini.
Lebih jauh, Prof Diah juga berharap, agar kesetaraan gender baik laki – laki maupun perempuan dapat berjalan melintasi ruang, waktu, wilayah, maupun budaya.
“Saya memimpikan berbagai wajah perempuan Indonesia dengan berbagai warna dan rupa. Meski perjuangan kita masih panjang, tapi saya berterima kasih kepada pejuang gender yang menyuarakan kesetaraan dan hak – hak perempuan diantara masyarakat,” pungkas dia. [ina]

Tags: