Kurikulum Ganda dan Peran Orang Tua

SusantoOleh :
Susanto, MPd
Instruktur Nasional K-13, Mengajar di SMAN 3 Bojonegoro,

Mendikbud Anies Baswedan beberapa waktu lalu membuat kebijakan populis. Artinya, kurikulum 13 yang dilaksanakan tiba-tiba diputuskan secara bertahap. Hal itu dimaksudkan bahwa sekolah yang sudah melaksanakan kurikulum 13 sejak tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak 6.221 tetap melaksanakan sedangkan yang baru melaksanakan tahun pelajaran2014/2015 kembali memakai kurikulum KTSP. Dan secara resmi tanggal 5 Januari 2015 dunia pendidikan kita memberlakukan kurikulum ganda, ya KSTP ya K-13.
Nah sekarang yang menjadi permasalahan apakah dengan ditinjau ulangnya pelakanaan K-13 dengan secara bertahap akan memberikan kejelasan bagi pelaksanaan mendatang? Ataukah sebaliknya? Adakah yang yang salah dengan pelaksanaan K-13 yang telah dilaksanakan selama 3 semester itu? Bagaimana dan apa yang harus dilakukan guru menyikapi “ketidakpastian” ini? Benarkah “ditundanya” K-13 menguatkan tudingan ganti menteri ganti kebijakan?
Jangan “Apriori”
Jujur harus kita akui bahwa implementasi pelaksanakan K-13 sampai saat ini masih menimbulkan pro dan kontra.  Yang pro mengatakan bahwa K-13 memberikan arahan yang positif bagi peserta didik dalam memahami materi pelajaran karena berbasis teks dengan pendekatan saintifiknya (5 M). Sedangkan yang kontra, K-13 dianggapnya terlalu politis dan dipaksakan sehingga banyak kendala baik yang menyangkut SDM siswa dan guru, juga terkait dengan buku yang dijadikan sumber belajar masih belum siap, dan juga penilaian siswa juga sangat renik, dan njlimet. Sehingga tidak mengherankan Mendikbud Anies Baswedan mengatakan bahwa K-13 setengah matang dan dipaksakan.
Lantas mengapa K-13 dituding sebagai biang masalah bagi siswa, guru dan permasalah pendidikan? Keberadaan K-13 dengan pendekatan 5 M (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan) menurut saya kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi saat ini. Artinya, K-13 ini berusaha membangun keterkaitan dalam memahami konsep secara berkelanjutan. Materi yang dipelajari oleh peserta didik menuntut kompetensi yang kreatif sesuai pada KI dan KD yang dicapai setelah proeses pembelajaran.  Dengan kata lain, esensi kurikulum adalah sesuatu yang menuntut pemahaman yang jernih. Sebab bagaimanapun esensi kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Sharp, C. (2004) dalam bukunya, Developing young children’s creativity: what can we learn from research? menjelaskan tentang bagaimana membentuk perilaku kreatif peserta didik.  Beberapa diantaranya: tugas yang tidak hanya memiliki satu jawaban benar, mentolerir jawaban yang nyeleneh, menekankan pada proses bukan hanya hasil saja, memberanikan peserta didik untuk (mencoba, menentukan sendiri yang kurang jelas/lengkap informasi, memiliki interpretasi sendiri terkait pengetahuan/kejadian, memberikan keseimbangan antara kegiatan terstruktur dan spontan/ekspresif),
Esensi pergantian kurikulum ini tetap pada spirit untuk mencerdaskan bangsa sehingga peserta didik lebih produktif, kreatif, inovatif, afektif dan bergairah dan senang selama di sekolah. Kurikulum baru ini harus dapat menjawab problematika yang ada saat saat ini dan pendidikan Indonesia sehingga lebih berkarakter, berdaya saing, dan bermartabat. Memahami K-13 harus mengedepankan semangat memahami potensi diri peserta segala kreativitasnya. Tentunya  guru harus selalu mengunakan metode yang inovatif dalam pembelajarannya. Jangan menjadi beban karena ranah penilaianya yang njlimet baik yang menyangkut sikap, pengetahuan dan juga ketrampilan.
Solusi Konkret
Lantas apa yang harus dipahami oleh siswa, guru, dan juga masyarakat  menyangkut “dihentikannya” K-13 dan juga diberlakukan KTSP? Dengan pemberlakukan dua kurikulum ini paling tidak pertama, siswa tetap semangat belajar dengan semangat. Sebab bagaimanapun tugas siswa adalah belajar demi menyiapkan masa depan yang lebih baik. Memahami pokok persoalan baik yang menyangkut sikap, pengetahuan dan juga ketrampilan dengan harapan dapat memahami persoalan secara mandiri dan penuh tanggung jawab.
Kedua, guru tetap menjalankan tugas sehari-hari dengan semangat. Jangan memakai filosofi “Apapun makanannya minumnya tetap teh botol”. Guru harus ganti filosofi “meski ganti-ganti kurikulum semangat tetap satu mencerdaskan kehidupan bangsa”. Guru tetap semangat dalam menghadapi perubahan apapun baik yang menyangkut kebijakan atau kurikulum yang jujur saja sangat membingungkan. Menurut saya, justru dengan adanya “polemik” dan “gonjang-ganjing” K-13 ini guru semakin dewasa dalam mengembangkan metode atau juga pendekatan dalam pembelajaran bagi siswa di sekolah. Dengan demikian, tugas guru untuk mencerdaskan dan menjadi inspirasi kehidupan anak bangsa akan selalu menggelora dan tidak terpengaruh terhadap pergantian K-13.
Ketiga, tugas orang tua/masyarakat tetap sebagai fasilitator untuk mendukung sekolah-sekolah agar berkembang menjadi lembaga profesional dan otonom. Sehingga mutu pelayanan mereka memberi kepuasan terhadap komunitas basisnya, yaitu masyarakat. Peran serta masyarakat dalam pengembangan mutu pendidikan di Indonesia harus menjadi hal utama dalam memberikan penguatan kearah lebih baik.
Dalam tataran ini pula orang tua/masyarakat harus tetap menjadi motivator. Hal ini dimaksudkan, motivasi bagi siswa guna menentukan pribadi yang baik, terampil dan bertanggung jawab, serta dapat menemukan inovasi-inovasi baru yang berguna bagi kehidupan umat manusia. Masyarakat bisa mengambil posisi juga sebagai pengawas dalam proses pembelajaran seorang siswa dan juga sekolah. Dengan demikian,  peran masyarakat sebagai fasilitator, motivator, dan pengawas akan mi titik tengah mengingatkan kepada lembaga penddikan jika proses pembelajaran yang dilakukan mengalami kesalahan atau penyempunaan.
Masyarakat harus tetap tanggap untuk mengetahui berbagai persoalan pendidikan yang dapat menghambat peningkatan mutu pendidikan khususnya yang menyangkut K-13. Dengan kata lain, masyarakat harus dapat berperan serta untuk membantu mengembangkan mutu pendidikan Indonesia. Mengapa demikian? Sebab bagaimanapun juga tugas pendidikan semata-mata bukan hanya dipundak guru semata tetapi juga masyarakat. Kesuksesan pendidikan tentunya peran pemerintah harus mengatur pelaksanaan kurikulum pendidikan yang bermutu.
Nah, dalam konteks pendidikan harus beroreintasi pada siswa/peserta didik untuk memiliki sikap yang mulia, pengetahuan, dan juga ketrampilan sesuai spirit K-13 harus dapat menjadi impian. Sebab bagaimanapun juga esensi kurikulum harus disesuaikan dengan kondisi objektif masyarakat dan implementasinya jelas. Kalaupun K-13 masih “setengah matang” kata Mendikbud Anies Baswedan bukan berarti K-13 harus disikapi negatif justru ini menjadi titik awal perubahan mental dalam dunia pendidikan. Pada titik ini justru dengan “dihentikannya” K-13 harus menjadi evaluasi dan implementasi bagi guru, kepala sekolah, kepala dinas, dan juga Kemendikbud yang dikendalikan  Pak Anies Baswedan ke arah yang lebih baik jangan sebaliknya.
Persoalan K-13 jangan sampai dijadikan budaya saling menyalahkan dan diseret-seret ke arah “politis” sehingga dapat dieliminir  dengan budaya kerja dan merevolusi mental melalui pendidikan. Ibarat si buruk muka bercermin lantas cerminnya dibelah. Kalau yang terjadi demikian, maka yang sakit kita semua seluruh bangsa Indonesia. Dan sakitnya tuh di sini. Bukankah begitu Pak Abies Baswedan ?

                                                            —————————- *** ——————————–

Rate this article!
Tags: