Kurikulum Merdeka dan Agenda Penguatan Karakter Pelajar

Oleh :
Adit Hananta Utama
Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Sidoarjo.

Pembangunan karakter anak bangsa selalu disuarakan sebagai sebuah jawaban atas kian rapuhnya perilaku masyarakat kita. Cerita indah tentang masyarakat Indonesia yang santun, beradab, menjunjunung tinggi etika dan moralitas seolah hanya berlaku dalam buku dongeng tentang masyarakat Indonesia di masa lalu. Hari ini kita tengah dicemaskan oleh tumbuh dan berkembangnya generasi yang tidak lagi mencerminkan karakter kebangsaan dan keindonesiaan. Generasi yang menanggalkan akar sejarah dan tradisi leluhur yang berbudaya, berubah menjadi generasi yang terombang ambing oleh melubernya pengaruh budaya asing yang berjejalan masuk ke ruang ruang privat.

Para orang tua, guru tidak lagi bisa membendung masuknya serbuan berbagai budaya yang masuk dengan difasilitasi teknologi informasi. Melalui gadget di tangan, paparan budaya dan pengaruh global masuk langsung ke benak anak anak kita.

Cerita tentang tawuran pelajar, bullying, kasus korupsi, perampokan, narkoba, seks bebas, pelecehan seksual, pembunuhan, kasus mutilasi, penistaan terhadap umat beragama dan lain sebagainya semakin menambah tumpukan kecemasan kita bersama. Kondisi ini memberi isyarat betapa masyarakat Indonesia saat ini sedang mengalami gejala degradasi moral.

Beberapa survei tentang menguatnya radikalisme, semangat primordial keagamaan di lingkungan pendidikan semakin membuat nyali ciut ketika ingin melukiskan profil generasi masa depan. Lantaran itu, peta jalan tentang sebuah pembelajaran yang mampu menjawab kebutuhan investasi SDM masa depan menjadi sebuah keniscayaan.

Kurikulum Merdeka

Lingkungan pendidikan berupa sekolah menjadi lingkungan yang diharapkan mampu menginjeksi pengaruh positif dan memberikan suplemen bagi tumbuh dan berkembangnya karakter anak didik seperti yang diharapkan. Dengan demikian, hadirnya kurikulum pembelajaran yang mampu menawarkan konsepsi pembangunan karakter anak didik menjadi sangat dibutuhkan.

Kurikulum Merdeka memberikan tawaran untuk membangun karakter peserta didik melalui konsep tentang profil pelajar Pancasila. Kurikulum Merdeka dirancang sebagai kurikulum yang lebih fleksibel, fokus pada materi esensial, pengembangan karakter dan kompetensi siswa. Fleksibel disini artinya guru bisa menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi dan kemampuan peserta didik.

Hadirnya kurikulum merdeka bisa jadi menghadirkan kecemasan akan bernasib seperti kurikulum kurikulum sebelumnya yang nyaris tidak memberikan konsepsi utuh tentang bagaimana karakter peserta didik harus dibangun.

Dalam dunia pendidikan kita, sejak tahun 2000 lalu sudah menjalani tiga kali ganti kurikulum. Pada 2004 kita dikenalkan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), selanjutnya berganti lagi di 2006 menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidian (KTSP). Akhirnya berganti lagi menjadi Kurikulum 2013 (Kutilas). Jika Kurikulum Merdeka benar akan menjadi kurikulum nasional pada 2024, setidaknya empat kali ganti kurikulum telah terjadi dalam kurun waktu 25 tahun terakhir.

Kurikulum Merdeka didesain dengan cakupan materi yang diajarkan guru lebih sedikit, tapi mendalam. Selama ini guru dituntut untuk mencapai ketuntasan dari semua materi dan bahan ajar yang ada, dengan terkadang mengesampingkan kedalaman materi. Bahkan terkadang guru mengalami kesulitan dalam memahami kerumitan bermacam standar pencapaian peserta didik dari setiap materi.

Kurikulum Merdeka diharapkan dapat membuat sekolah tidak perlu terburu-buru menuntut guru menyelesaikan materi demi materi sehingga pembelajaran diharapkan dapat menyenangkan, bermakna, dan menghindari peserta didik dari stres.

Kurikulum Merdeka didesain agar peserta didik lebih aktif berperan dalam proses keberhasilan pembelajaran. Pembelajaran berbasis proyek dengan berkelompok dan menghasilkan sebuah karya inovatif menjadi hal yang harus lebih banyak dilakukan guru dan peserta didik. Pelibatan alam dan lingkungan sekitar dalam proyek-proyek perubahan iklim, proyek kelas kebinekaan untuk menguatkan toleransi antarsuku, agama, serta kolaborasi siswa maupun guru juga harus dipadukan seluas-luasnya dalam proses pembelajaran.

Bahwa pendidikan karakter rasa-rasanya tak mungkin diletakkan dalam kerangka formal kurikulum. Kebutuhan pendidikan karakter hanya dapat diletakkan dalam bingkai budaya sekolah. Sederhananya, panutan dari keseharian tingkah laku dan perilaku guru, siswa, dan seluruh warga sekolah akan lebih membuat pendidikan karakter berhasil di satuan pendidikan tersebut.

Profil Pelajar Pancasila

Profil pelajar pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Diharapkan peserta didik memiliki karakter dan kompetensi sesuai Profil Pelajar Pancasila, dengan dimensi : (1). Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, paham terhadap ajaran agama dan kepercayaannya serta mengimplementasikan pemahaman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. (2). Berkebinekaan global. Pelajar indonesia merupakan pelajar berbudaya dengan identitas diri yang matang, yang mampu menunjukkan dirinya sebagai representasi budaya luhur bangsanya, sekaligus memiliki pemahaman yang kuat serta keterbukaan terhadap esistensi ragam budaya daerah, nasional, dan global.

(3). Bergotong royong. Pelajar Indonesia memiliki kemampuan bergotong royong yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan sukarela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah, dan ringan serta secara proaktif mengupayakan pencapaian kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat. (4). Mandiri. Pelajar Indonesia merupakan pelajar yang mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci dari mandiri terdiri dari kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri. (5). Bernalar kritis. Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif. Membangun ketekaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. (6). Kreatif. Peajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak.

Keenam dimensi tersebut saling berkaitan dan saling menopang sehingga harus dibangun bersama secara seimbang dan menjadi budaya sekolah. Profil pelajar Pancasila merupakan kelanjutan pelaksanaan kompetensi dan implementasi pendidikan karakter dari kurikulum sebelumnya, serta bertujuan mendukung visi dan misi presiden dalam mewujudkan Indonesia maju yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian sesuai rumusan Undang-Undang.

Implementasi Dalam Pembelajaran

Dimensi profil pelajar Pancasila diintegrasikan dalam pembelajaran dengan minimal dua cara yaitu sebagai pengalaman pembelajaran atau strategi pengajaran dalam kegiatan intrakurikuler yang digunakan guru,dan sebagai projek kegiatan ko-kurikuler.

Projek Penguatan Profil Pancasila

Projek ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksporasi ilmu pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan menguatkan pengembangan enam dimensi sebagaimana paparan di atas.

Melalui kurikulum merdeka. peserta didik memiliki kesempatan mempelajari tema-tema atau isu penting seperti gaya hidup berkelanjutan, toleransi sesama manusia, kesehatan mental, budaya yang ada, wirausaha, perkembangan teknologi, dan kehidupan berdemokrasi.

Saat ini, profil pelajar Pancasila dicetuskan sebagai landasan pendidikan Indonesia. Tujuan pendidikan kita diharapkan mengacu pada apa yang diutarakan oleh Bapak pendidikan, Ki Hajar Dewantara. Menurut menteri Pendidikan pertama tersebut, tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Semangat besar yang ingin menjadikan manusia Indonesia seutuhnya menjadi pribadi yang bahagia, baik secara pribadi maupun dalam anggota masyarakat inilah yang dirangkum dalam tema besar pendidikan kita saat ini, Merdeka Belajar.

———– *** ————-

Tags: