Lacak Fakta Berita, Dosen iSTTS Gunakan Big Data dan Manfaatkan Deep Learning

Esther Irawati Setiawan dan Joan Santoso Doktor Termuda ISTTS yang membuat sistem pelacak berita hoax.

Dua Dosen Raih Gelar Doktor Termuda
Surabaya, Bhirawa
Ada banyak cara dalam mengemukakan pendapat di muka umum. Di era perkembangan teknologi yang pesat, sosial media menjadi sarana utama bagi masyarakat atau netizen dalam menyampaikan pendapatnya dimuka umum maupun penyebaran informasi. Baik Facebook, Twitter dan Instagram. Sayangnya, tak sedikit pula informasi palsu atau hoax yang tersebar.
Karenanya, dosen Institute Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS), Esther Irawati Setiawan, membuat sistem untuk menyeleksi berita hoax di bidang kesehatan berdasarkan data di sosial media sebagai bahan disertasinya di Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Sistem rancangn itu juga digunakan dalam pengenalan opini masyarakat untuk analisa sentiment layanan kesehatan.
“Saya gunakan data sosial media untuk memperoleh opini masyarakat, sekaligus analisa disinformasi berita kesehatan yang beredar di masyarakat yang selanjutnya akan dianalisa,” ujar peraih beasiswa Budi DN LPDP ini.
Wanita yang baru saja mengikuti wisuda online pada 24 Oktober lalu ini, mengembangkan aplikasinya dengan metode kecerdasan buatan. Yakni Deep Learning yang merupakan metode terbaru pengolahan sistem cerdas saat ini. Sistem ini, jelasnya, akan menggantikan orang dalam mencari data apakah berita yang diterima hoax atau tidak.
“Setelah dimasukkan banyak data, komputer bisa membedakan berita palsu dan bukan berdasarkan banyaknya data dari sumber bereputasi dan pendapat masyarakat di sosial media yaitu Twitter dan Facebook,” urai ibu dua anak ini.
Kedepan, Esther berharap, penelitian ini akan terus dikembangkan agar dapat berguna bagi masyarakat khususnya Indonesia, seperti nama web yang dikembangkan yaitu GadaHoax. Tak hanya itu, ia juga berharap adanya aplikasi android tidak ada lagi yang beredar di masyarakat.
Dalam proses pembuatannya, Esther berkolaborasi dengan Joan Santoso yang melakukan Inovasi Pengembangan Tool Ekstraksi lnformasi dari Kalimat Bahasa Indonesia untuk Pembangunan Ontology berbasis Big Data dan Machine Learning. Berkat disertasinya di ITS, Joan menjadi doktor termuda di iSTTS.
“Inovasi yang saya buat ini mampu menerjemahkan data dalam sosial media agar sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan sistem yang dibuat Esther,” papar dia.
Diakui Joan, dalam pembuatan inovasi kualitas data jadi tantangan tersediri. Apalagi data yang terkait dengan bahasa, pengolahannya ada yang standar ada yang khusus. Agar data bisa di proses maka harus menerapkan data teknologi. Ia pun harus berhadapan dengan infrastruktur yang terbatas.
Namun hal ini bisa ditangani dengan perkembangan teknologi, sehingga ia bisa menuntaskan inovasinya dengan alat seadanya di kampus. [ina]

Tags: