Laki-laki itu telah pergi

Oleh :
Fery Lorena Yanni
Laki-laki itu telah pergi…
Terdengar sorak-sorai menyambut berita kepergian laki-laki itu. Kepergian yang cukup mendadak dan tak seorang pun yang bisa mencegah. Kepergian yang diiringi sorak gembira seluruh penghuni kampung.
Siang itu, cuaca sangat terik. Berkali-kali terdengar suara anjing melolong seolah hendak mengabarkan sebuah berita yang sangat penting.
“Suara anjing-anjing itu melolong terus. Bikin merinding saja. Seolah ada seseorang yang akan pulang,” tebak seorang wanita paruh baya yang rambutnya mulai memutih.
“Iya. Biasanya kalau ada suara anjing melolong pada waktu yang tidak biasanya, tandanya akan ada orang yang mau pulang,” sambung wanita satunya lagi.
Suara lolongan anjing itu akhirnya berhenti, tepat pukul dua siang, tepat saat akhirnya ada yang benar-benar pergi. Laki-laki itu, akhirnya pergi.
Laki-laki itu, semua juga mengenalnya. Laki-laki yang semasa mudanya bekerja mengayuh becak. Badannya yang kekar membuatnya tampak selalu kuat. Laki-laki itu, semua orang juga tahu, meski memiliki wajah yang terkesan polos dan sederhana, namun di balik itu tersisip sebuah kekejaman yang tak bisa termaafkan.
“Rupanya dia yang mau pulang. Banyak anjing yang mengiringi kepulangannya,” sambut yang lain.
Ya, menjelang kepulangannya, anjing-anjing melolong tiada henti. Bahkan, anjing milik Jingis, preman tersangar di kampung ini, yang merupakan anjing hitam terbesar yang pernah ada, ikut mengantarnya. Berhari-hari anjing Jingis itu menghilang. Jingis sudah mencarinya ke mana-mana. Bahkan dia sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari anjing kesayangannya, tapi nihil. Tidak ada kabar sama sekali. Dan secara ajaib, anjing itu justru ditemukan di sebelah rumah laki-laki itu dalam keadaan tak bernyawa bersamaan dengan kepergian laki-laki itu.
Laki-laki itu akhirnya pergi juga. Pergi untuk pulang ke asalnya. Pulang ke tanah. Tak ada yang mampu mencegahnya. Dia sudah waktunya pergi meninggalkan semua yang pernah dimilikinya.
“Pemakamannya kita lanjutkan malam ini saja. Tidak usah ditunda-tunda lagi. lebih cepat lebih baik,” perintah ketua RT yang tinggal di rumah paling ujung.
“Betul!!! Kita langsungkan saja, jangan ditunda-tunda,” semua setuju.
Secara gotong royong semua warga membantu persiapan pemakaman. Penggalian liang lahat juga dilaksanakan dengan cepat.
“Kabarnya dia baru bisa melepaskan nyawanya setelah dimintakan maaf pada kedua orang tuanya yang sudah mati sejak lama,” terus tersiar kabar tentang laki-laki itu. Bahkan orang-orang sampai geleng-geleng kepala. Setelah dimintakan maaf pada kedua orang tuanya barulah nyawa itu bisa terlepas. Separah itu kah dosanya?
Selama masa hidupnya, laki-laki yang bekerja sebagai tukang becak ini terkenal sebagai orang yang kejam dan tak kenal ampun pada siapa pun, termasuk pada istrinya sendiri. Tak jarang dia menghajar istrinya sendiri hingga tak sadarkan diri. Luka dan memar membiru setiap kali amarah itu datang. Lebih-lebih jika laki-laki itu pulang dalam keadaan mabuk mulut berbau alkohol murahan.
Hubungan laki-laki itu dengan para tetangga pun tak jauh berbeda. Sangat buruk. Sikap kasar dan kejamnya semua orang juga tahu. Anak-anak kecil juga tahu. Semua orang-orang uzur pun tahu tentang sikap kasar dan kejamnya. Sedapat mungkin semua akan berusaha menghindar setiap kali dia datang. Semua dihantui rasa takut setiap kali muncul sosoknya.
Menjelang detik-detik untuk mengantar kepergian laki-laki itu, tamu-tamu banyak berdatangan. Semua ingin mengantar kepergian laki-laki itu.
“Apa ya, yang akan dialaminya nanti. Bukankah apa yang dialami setelah mati adalah akibat dari sikap dan tingkah lakunya semasa masih hidup,” bisik seorang perempuan di depan jenazah laki-laki itu.
“Nanti kita semua ikut mengantarnya supaya kita bisa langsung tahu, apakah semua lancar atau tidak,” ajak yang lain.
Laki-laki itu telah pergi…
Dan saat ini para tamu semakin memenuhi hingga sampai ke halaman terdepan. Semua datang untuk menyaksikan, apa yang akan terjadi pada laki-laki itu. Semua sudah mengenal dengan baik, siapa dan bagaimana laki-laki itu semasa hidupnya. Namun mereka tetap datang untuk mengantar kepergiannya.
Di sisi tubuh laki-laki yang sudah terbujur kaku itu. Istrinya duduk dengan tatapan mata yang tak mampu diartikan oleh siapa pun. sesekali dia menangis tergugu. Sesekali dia tertawa tanpa suara. Sesekali tatapannya kosong menatap menembus setiap tirai yang menghalangi. Rambutnya terurai bebas sesekali jatuh ke pelipisnya. Ekspresi wajah yang sering berubah-ubah, membuat siapa pun tak ada yang berani mendekat.
Selepas Isya, akhirnya laki-laki itu benar-benar diantar pergi menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya. Semua mengantar dalam diam. Semua berdebar-debar, apa yang akan terjadi nanti? apakah semua akan lancar, atau akan ada kendala yang menghambat perjalanan laki-laki itu? Meski tanpa disadari, orang-orang pengantar itu sebenarnya mendoakan dan berharap perjalanan laki-laki itu terhambat. Semua mengharapkan akan terjadi sesuatu yang mengerikan selama proses mengantar kepergian laki-laki itu. Ya, semua menginginkan sesuatu yang buruk untuk laki-laki itu. Itulah yang mereka harapkan jauh di dalam lubuk hati mereka. Meski mulut mereka ikut melafalkan doa untuk memohonkan pengampunan bagi laki-laki itu, namun hati mereka tak sabar ingin melihat sesuatu yang mengerikan terjadi. Sangat berlawanan antara hati dan mulut mereka.
Mereka terus melangkah. Sejauh ini semua berjalan lancar tanpa halangan. Semua mulut ikut melantunkan doa memohonkan ampun bagi laki-laki itu. Namun para pengantar itu merasa berdebar, semakin mereka mendekati liang lahat yang disiapkan, semakin berdebar pula mereka. Apa yang akan terjadi nanti? Akankah tubuh laki-laki itu hancur sebelum masuk? Ataukah akan lebih buruk lagi? Semua saling bertanya dalam hati memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan mereka lihat nantinya.
Hingga prosesi mengantar laki-laki itu pergi untuk pulang ke asalnya, semua berjalan lancar tanpa ada hambatan. Para pengantar itu berjalan lesu. Tak terjadi apa-apa seperti yang mereka harapkan. Tak ada sesuatu yang mengerikan seperti yang mereka harapkan. Semua berjalan lancar, dan semua baik-baik saja.
“Hei… kamu bisa benar-benar menangis?” tanya salah satu pengantar itu ketika dilihatnya istri laki-laki itu duduk di pojok dekat pintu sambil menangis sesenggukan dan sesekali sedikit meraung. Semua heran, istri laki-laki itu benar-benar menangis, menangisi suaminya yang benar-benar pergi.
“Apakah kau benar-benar sedih dan kehilangan suamimu? Apa kau benar-benar menangisinya?” para pengantar suaminya itu sedikit mundur karena istri laki-laki itu mulai menangis dan mengeraskan tangisannya.
“AKu memang menangis. Tapi aku menangis bukan karena sedih, tapi justru karena bahagia, sangat bahagia. Akhirnya aku bebas dari laki-laki yang selalu menyiksaku. Aku bebas sebebas-bebasnya. Aku bebas….” Seru istri laki-laki itu sambil tertawa dengan keras. dan makin lama tawanya berubah kembali menjadi tangis. Bagaimana pun juga, pernah ada cinta di dasar hatinya untuk laki-laki yang telah pergi itu.
——— *** ———
Tentang Penulis:
Fery Lorena Yanni adalah seorang penulis buku anak yang tinggal di kota kecil nan sejuk, Salatiga. Awal hobinya menulis adalah menulis puisi-puisi yang selalu dibacakan di radio pada zaman sekolah dulu. Saat ini Fery mulai menekuni dunia menulis dan juga masih belajar menggambar supaya nantinya bisa mengilustrasi ceritanya sendiri.

Rate this article!
Laki-laki itu telah pergi,5 / 5 ( 1votes )
Tags: