Lamongan Diserang Hama Tikus, Gus Iwan Dirikan Rumah Burung Hantu

DPRD Jatim, Bhirawa
Hama tikus sedang menyerang tanaman padi di beberapa areal persawahan. Termasuk juga yang terjadi di wilayah Gresik dan Lamongan. Untuk membasmi tikus itu, anggota DPRD Jatim Ahmad Iwan Zunaih mendirikan rumah burung hantu (Rubuha).
Burung hantu merupakan predator bagi tikus. Sehingga tikus yang hendak merusak padi dimangsa oleh burung hantu. Cara ini dinilai lebih tepat dan aman dari pada menggunakan jebakan tikus dari kawat beraliran listrik, yang malah banyak memakan korban jiwa.
“Sudah ada 10 rumah burung hantu yang dibangun. Satu Rubuha itu bisa dihuni dua pasang burung hantu,” kata politisi yang akrab dipanggil Gus Iwan ini usai menggelar reses di Solokuro, Lamongan, Minggu (15/11) kemarin.
Diterangkan, satu ekor burung hantu bisa memangsa 1.200 ekor tikus setiap tahun. “Sepasang burung hantu, itu bisa dimanfaatkan untuk 2 hektare lahan sawah. Penggunaan rumah burung hantu ini sudah diterapkan di wilayah Dusun Laren,” kata Gus Iwan.
Dari hasil laporan masyarakat, lanjut dia, burung hantu ini sangat membantu petani membasmi tikus. Namun, ada kejadian burung hantu itu ada yang mati ketika hendak memangsa tikus malah terkena setrum dari jebakan listrik yang dipasang petani.
“Kedepan saya ini ada budidaya atau peternakan burung hantu. Jika iki berhasil, pembasmian hama tikus secara alamiah bisa terjadi. Selain itu bisa jadi lahan mencari nafkah masyarakat. Harga burung hantu ini lumayan mahal. Sepasang harganya bisa sampai Rp1,2 juta,” papar politisi Partai NasDem dari dapil Gresik dan Lamongan ini.
Selain solusi pembasmian hama tikus, Gus Iwan juga memberi solusi komunikasi nelayan di wilayah perairan pantai utara (Pantura). Nelayan yang melaut selalu kesulitan berkomunikasi, baik dengan sesama nelayan yang menangkap ikan maupun dengan keluarga di rumah.
“Kalau sudah di laut, misalnya ada keluarga yang kesusahan, atau sebaliknya, mereka tidak bisa berkabar. Juga sesama nelayan. Nelayan yang satu belum dapat ikan, satunya lagi bisa dapat banyak ikan. Itu kan bisa saling memberi tahu. Tapi mereka tidak dapat sinyal di laut,” ungkap anggota Komisi B DPRD Jatim ini.
Untuk itu, Gus Iwan sudah bekerja sama dengan Balai Monitoring (Balmon) untuk bisa mendapat satu frekuensi khusus untuk nelayan di Pantura. Saat ini sudah bisa dimanfaatkan oleh nelayan di wilayah Banjaranyar, Kranji, dan Kemantren.
“Saat ini sudah mendapat 40 radio untuk nelayan. Pemancarnya sudah berdiri dengan jangkauan sejauh 75 Kilometer. Kami terus berkoordinasi dengan Balmon untul meningkat kualitas sinyalnya,” tegas Gus Iwan. [geh]

Tags: