Laskar Sang Fajar

Oleh: Tyas W.
Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Lelaki itu terbaring di ranjang rumah sakit. Jarum infus tertancap di lengannya. Wajahnya pucat. Matanya sembab terpejam. Tampak lemah tak berdaya. Detik bunyi elektrokardiografi terdengar nyaring mengisi ruangan steril ICU. Tak satu pun pengunjung boleh masuk kecuali dokter dan perawat. Sekiranya dua minggu Pak Fajar mendekam di sana akibat kecelakaan motor hingga terpental sejauh lima meter. Kondisinya drop, ia harus menjalani operasi di kepala dan beberapa bagian tulang sendi yang retak.

Nabil-seorang bocah sepuluh tahun begitu sedih atas peristiwa yang menimpa lelaki itu hingga hampir setiap hari meminta orang tuanya menjenguk ke rumah sakit meski ia hanya melirik dari balik jendela kamar. Baginya, Pak Fajar seperti orang tuanya sendiri yang sangat ia cintai. Beliau adalah kepala sekolah yang juga guru kelas Nabil. Guru yang begitu sabar dan telaten membimbingnya di saat teman-temannya tak begitu memperhatikannya sebab ia istimewa, memiliki khas ADHD atau disorder hiperaktif. Selama belajar di sekolah, Pak Fajar-lah yang mampu mengendalikannya, menyemangati, dan memahamkan kepada siswa yang lain agar ia turut disayangi.

Nabil sangat cerdas. Berkas tes intelektual menuliskan ia anak jenius, beberapa kali ia mampu menjawab pertanyaan yang belum pernah ia ketahui. Namun satu persoalannya, mental tempramen yang tak terkendali membuat beberapa sekolah ternama enggan menerimanya. Sore itu, sepulang orang tua Nabil berkeliling mencari sekolah, alunan murotal surat Al Muzzamil menggema di tengah persawahan mengiringi kepulangan siswa. Terdengar syahdu. Pas sekali dengan suasana hati mereka yang penat. Mereka terdiam jenak mengamati sekeliling sekolah. Tak ada yang menarik, bangunan itu hanya satu atap di pinggir jalan setapak sawah yang masih bebatuan dan tampaknya ada sekitar tiga ruangan berukuran 3 x 3 m saja. Kesannya seperti sekolah di film Laskar Pelangi. Sederhana dan terpencil. Itulah sekolah yang didirikan Pak Fajar. Sekolah yang dikelilingi sawah dengan model bangunan ala kadarnya.

Tak ada yang memperdaya pikiran mereka selain lantunan ayat suci Al Quran. Tak ada brosur atau pamflet profil sekolah. Sekolah itu baru berdiri. Visi dan misi sekolah itu langsung mereka dengar dari sang kepala sekolah. Kalimat sederhana tapi sangat bermakna. Mendidik dengan cinta dan teladan dari Rasulullah. Meski baru bertemu Pak Fajar, aura Nabil terpancar girang, orang tuanya pun mantap menyekolahkan anaknya di sana.
Empat tahun berajalan memberi perubahan sikap pada Nabil. Meski masih tempramen, ia mulai memahami nasihat orang lain.

“Assalamualaikum, Pak Guru,” kata Nabil sambil mencium tangan Pak Fajar.
“Waalaikumussalam, Mas Nabil.”
“Da-da pak….” Nabil melambaikan tangan.
Pak Fajar tersenyum.
Setiap datang dan pulang sekolah Nabil memang punya ciri khas. Ya, seperti itu, mengucap salam ditambah lambaian tangan untuk sang guru. Wajah dan kata-katanya yang polos semakin memberi ciri khas tersendiri. Suatu ketika ia terjebak dalam persoalan kecil dengan teman. Nabil mulai emosi. Wajahnya berubah kaku seketika, bibirnya manyun, dahinya mengerut. Hampir ia memukul teman di depannya tapi tangan Pak Fajar segera mencengkeram kedua lengan Nabil. Bersumber sepele, sampah di bangku kelas.
“Ayo, Nak, bungkus kue siapa ini yang berserakan?” tanya Pak Fajar.
“Bukan punyaku, Pak. Aku nggak makan kue itu tadi,” jawab Hafis.
“Ayo siapa yang bertanggung jawab. Silahkan dibersihkan sebelum pelajaran dimulai.”
“He, Bil, itu bungkusmu lho,” kata Hafis.
Nabil dengan garangnya, “Lho aku nggak makan di situ.”
“Itu, Pak, tadi aku lihat Haqqi makan ditempatku.” Nabil melanjutkan.
“Hey, kok aku, aku lho tadi bawa bekal sendiri,” bantah Haqqi.
Pak Fajar menggelengkan kepala.
Anak-anak masih protes karena saling tuduh. Nabil mulai berkaca-kaca ingin marah dan menangis. Kepalan tangannya seolah siap menghantam lawan bicaranya.
“Nak, sesiapa yang berbuat kebaikan sekecil apa pun pasti akan mendapat pahala dari Allah. Termasuk membuang sampah yang bukan miliknya.” Pak Fajar mengarahkan.
“Ayo tidak saling menuduh, Nabil, Hafis, Haqqi dan sepuluh teman yang ada di sini boleh berebut pahala bukan berebut mangsa. Harus bersabar dan saling membantu satu sama lain,” lanjut pak Fajar sembari masih mencengkeram lengan Nabil untuk menghindarkan pukulan.
“Aku mau buang, Pak.” Nabil memungut sampah sambil sesenggukan menyeka air matanya.
Pak Fajar lega. Ia melepaskan cengkeramannya dari lengan Nabil. Beberapa jenak kemudian, Nabil mengabarkan.
“Pak Fajar, sepertinya aku lupa,” kata Nabil.
Pak Fajar mendengarkan.
“Iya, tadi kayaknya bener sampahku, aku lupa,” lanjutnya.
Spontan teman-temaannya gemas mendengar kata-kata Nabil. “Huuu….”
Pak Fajar tersenyum dan ikut gemas.
“Syukurlah jika Nabil ingat. Terima kasih telah mengakui dan bertanggung jawab. Baik, Nak, semuanya, ayo saling bermaafan dulu supaya hati-hati kita bersih.”
Orang tua Nabil sangat lega mengetahui perkembangan sikap anaknya. Mereka beruntung telah bertemu Laskar Sang Fajar. Ya, ayah Nabil menyebutnya laskar bentukan Pak Fajar sebagai wadah yang telah bersedia menerima anaknya apa adanya.
Wadah pendidikan yang dengan kesungguhan Pak Fajar mengajar berhasil membuahkan perubahan yang tampak. Orang tua Nabil paham sepak terjang Pak Fajar mulai dari menyewa gedung sederhana, berpindah areal, merintis bangunan dengan biaya kecil, ijin kelegalan, menyiapkan perangkat belajar hingga mencari siswa. Hal itu sangatlah tak mudah. Tapi kini sekolah itu diakui. Meski belum memiliki lulusan, beberapa siswa mampu bersaing di ajang lomba pendidikan antar sekolah. Tertera di sana, spanduk ucapan keberhasilan siswa yang berhasil menyabet juara MTQ se-kabupaten.
Pak Fajar kerap menuliskan kata-kata bijak di mading sekolah untuk membuat siapa pun yang membacanya tergugah dan termotivasi. Kata-kata dari hadits dan terjemah potongan ayat Al Quran. Yang tak sekedar kata namun ditunjukkan dengan perangainya. Lelaki itu rendah hati. Ia tak canggung mengungkapkan rasa bangga kepada anak-anak didiknya dan para pejuang yang telah mendidik mereka. Padahal justru guru-guru di sanalah yang merasa bangga terhadapnya.
Teladan Pak Fajar memang telah sampai kepada siswa dan rekan guru di sana. Di pagi buta, ia datang ke sekolah untuk menyapu pelataran, menyiram sederet botol bekas yang berisi tanaman serta menata bangku yang belum rapi. Tak pelak senyum sumringahnya siap menyambut guru-guru dan siswa yang mulai berdatangan. Inilah yang membuat Pak Fajar disayangi banyak orang. Sekali saja ia tak pernah menunjukkan kegarangan. Ia bak motivator, perilakunya santun, kata-katanya sarat makna, membuat orang sekelilingnya tersihir dengan kehadirannya. Itulah sebabnya para guru bertahan bekerja di sana meski gaji tak seberapa.
Sebagai pimpinan, ia kerap memanfaatkan handphone sebagai wahana nasihat bergilir pesan renungan inspiratif. Saling mendukung, berbagi kebahagiaan, bahkan saling mendoakan. Sentuhan-sentuhan hati inilah yang semakin merekatkan persaudaraan diantara mereka. Menjadi bagian dari yayasan sekolah pak Fajar seakan memiliki keluarga baru, begitu kata seorang guru.
Hari itu seluruh warga sekolah dibuat haru. Berita kecelakaan pak Fajar mengisahkan kesedihan mendalam. Nabil jadi ingat saat ia sempat tak sehat. Ia tidak seperti biasanya. Keceriaan di raut wajahnya surut sejak pagi. Pak Fajar yang melihatnya langsung merasa aneh karena Nabil yang biasa heboh hanya diam di bangku dengan kepala di sandarkan di atas meja. Usai doa pagi, pak Fajar langsung menegurnya.
“Nabil, ada yang ingin diceritakan pada pak guru?”
Ia hanya menggeleng tanpa kata.
“Nabil kenapa pak guru?” tanya Fazal.
Pak Fajar ikut meggeleng. Lalu memegang kepala Nabil. Panas.
“Nabil sakit ya, pak?” kata teman-temannya.
Pak Fajar mengulum senyum.
“Tadi sudah sarapan?” katanya memastikan.
Nabil mengangguk.
“Baik istirahat di UKS ya, Nak, nanti kalau sudah merasa enak, Nabil boleh ikut pelajaran kembali di kelas.”
Nabil menggeleng.
Akhirnya sepatah kata diucapkan, “Disini aja.”
Sang guru menghela nafas. Lalu sembari teman-temnnya mengikuti pelajaran, Pak Fajar mengoleskan minyak angin di leher Nabil. Dengan lembut lelaki itu melayani dan merawat Nabil hingga jam belajar berakhir.
Nabil sangat ingat hal itu dan kali ini ia ingin sekali merawat Pak Fajar agar gurunya itu segera sembuh. Tapi apa daya, perawatan Pak Fajar tidak boleh sembarangan. Hanya dokter khusus yang bisa menanganinya.
“Pak Guru, bangun,” lirih Nabil dari balik jendela ICU.
Orang tua Nabil mengelus-elus kepala anaknya agar tetap tenang.
“Nabil janji, Nabil tidak akan nakal lagi,” katanya.
Kedua orang tua Nabil berpandangan.
“Nabil akan belajar, Nabil akan baik, Nabil akan menyayangi semua orang,” lanjutnya.
Mendengar ucapan anaknya, ibu Nabil jadi trenyuh. Pak Fajar telah mengubah anak lelakinya menjadi anak normal pada umumnya.
Di kesempatan yang sama, para guru dan keluarga menggelar doa bersama untuk Pak Fajar. Mereka termenung membayangkan kehadiran sosok bapak yang selama ini dirindukan. Seorang bapak yang telah memberikan pelajaran berharga. Tidak hanya materi pelajaran di sekolah, tetapi pelajaran kehidupan. Inilah sejatinya pendidikan. Manfaatnya sampai kepada tujuan. Hati mereka yakin, ada atau pun tidak keberadaan sang guru, ilmu yang telah diberikan akan selalu melekat kuat dalam langkah perjuangan selanjutnya.

——– *** ——–

TYAS W.
Tyas W. adalah anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Sidoarjo. Tulisannya pernah dimuat dalam beberapa antologi salah satunya Guratan Kisah Anak-anak Istimewa. Selain itu ia juga telah menulis buku solo berjudul Muslimah in Action, Antara, dan Jejak Cinta Insan Kamil. Karya cerpennya pernah tersiar di media cetak Republika.

Rate this article!
Laskar Sang Fajar,5 / 5 ( 1votes )
Tags: