Lebaran dan Potensi Euforia Mudik

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Pemerintah telah memutuskan bahwa masyarakat diperkenankan mudik tahun 2022 ini. Tentu dengan beberapa persyaratan yang wajib dipenuhi antara lain yang paling utama bagi mereka yang sudah mendapat vaksin dosis ketiga atau booster. Syarat dan ketentuan berlaku adalah sudah melakukan vaksinasi Covid-19 lengkap dan vaksinasi booster sebagai syarat perjalanan serta tetap menerapkan protokol kesehatan secara konsisten. Memang dua kali sudah lebaran, Hari Raya Idul Fitri dirayakan dalam kondisi abnormal. Momen Idul Fitri atau Lebaran biasanya dimanfaatkan untuk saling memaafkan dan berkumpul dengan keluarga. Akan tetapi, di tengah pandemi virus corona yang melanda dunia, memaksa semua orang untuk tetap di rumah, meminimalisir pertemuan dan mobilitas, sehingga tak bisa merayakan Lebaran seperti dalam kondisi normal. Harapan mengubah kondisi itu membuncah pada momen lebaran tahun ini pemerintah telah mengumumkan bahwa lebaran tahun ini berbeda dengan dua tahun sebelumnya yakni memperkenankan masyarakat untuk berlebaran dan melaksanakan ritual mudik, meski dengan sejumlah syarat.

Diperkirakan tahun ini jumlah pemudik mencapai 85,5 juta jiwa yang tersebar di seluruh wilayah nusantara terutama di Pulau Jawa. Tentu merupakan jumlah yang tidak sedikit apalagi dilakukan secara massal dan satu tentang waktu. Tak tanggung-tanggung jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalan diperkirakan 40 juta, 23 juta kendaraan roda emoat dan 17 juta kendaraan roda dua. Kondisi tersebut memerlukan strategi penanganan yang luar biasa dan pasti dibutuhkan sinergitas dan kolaborasi semua pihak. Di sisi lain, sampai dengan 23 April 2022, vaksin booster baru sebanyak 34.906.748 dosis atau 16,76 persen. Sedangkan dosis kedua sebanyak 163.897.956 atau 78,70 persen dan 198.852.236 dosis pertama atau 95,48 persen. Jika seseorang hanya memperoleh vaksin pertama diwajibkan tes PCR dan bila vaksin kedua harus tes antigen dalam melakukan perjalanan. Dengan kata lain masyarakat yang sudah mendapat vaksin booster boleh mudik tanpa menunjukkan hasil negatif tes Covid-19. Akibatnya saat ini masyarakat sangat antusias untuk mendapat vaksin kedua dan booster. Di sisi lain harus dibarengi dengan deteksi dini, surveilans, dan 5M di komunitas sangat penting untuk dilakukan. Moda transportasi yang akan melayani perjalanan mudik masyarakat juga harus dilakukan pembenahan terutama terkait dengan keamanannya dan memperkuat protokol kesehatannya, memperbaiki kualitas udara indoor dengan ventilasi sirkulasi udara yang baik kereta, bus maupun jalur laut.

Saat ini kita harus bersukur bahwa kondisi telah perlahan terkendali dan kasus terus mengalami pelandaian, bahkan sinyal menyambut endemi sudah diambang pintu, meski demikian sepanjang darurat pandemi belum dicabut semua tetap waspada terhadap penyebaran Covid-19. Pelajaran berharga patut menjadi perhatian pada dua tahun terakhir ketika pemerintah secara resmi melarang mudik dalam rangka menekan laju penularan dan penyebaran Covid-19 yang lebih masif. Tahun lalu sekitar 7 persen atau 13 juta dari 80 juta persen masyarakat yang nekat hendak mudik. Walhasil, meski tengah dilarang toh Sebagian masyarakat tetap berjuang untuk mudik lebaran alias pulang kampung walau terkadang harus kucing-kucingan dengan petugas. Bahkan ada yang nekat mengelabuhi petugas dengan berbagai modus seperti memakai ambulan, menyelinap dalam truk barang, bahkan ada yang mencari jalan tikus yang intinya terjadi kucing-kucingan dengan petugas. Jika sampai lolos sampai ke kampung halaman tetap mewajibkan tes Corona pada setiap pos hingga PPKM Mikro di daerah dengan biaya mandiri pada waktu itu.

Hal ini bermakna bahwa rindu kampung halaman memang melebihi segalanya termasuk risiko potensi penyebaran kasus di kampung halaman tinggi. Kondisi tersebut terbukti dua sampai empat minggu hingga dua bulan kemudian kasus Covid-19 melonjak signifikan bahwa terjadi gelombang ketiga waktu itu. Kasus harian sangat tinggi, bahkan mencapai 57 ribu kasus per hari, tingkat kematian mencapai 1-2 ribuan per hari, sungguh gambaran sebuah tragedi kemanusiaan. Rumah sakit kolaps, overload tak mampu menampung pasien Covid-19, oksigen habis, tenaga medis tak kuat melayani secara optimal dan sesuai standar. Pendek kata sistem layanan kesehatan seakan ambruk karena lonjakan Covid-19 gelombang ketiga pasca lebaran. Kondisi mengindikasikan bahwa Covid-19 memang bak sebuah monster ganas yang memakan korban secara masif tanpa pandang bulu terlebih sifat keganasan virus yang mematikan seperti Varian Delta.

Rindu Mudik

Dalam konteks ekonomi, larangan mudik dipastikan memicu efek domino yang kontraproduktif bagi aktivitas perekonomian masyarakat. Sebelum pandemi Covid-19 meluas di berbagai daerah, perputaran uang tunai seputar aktivitas mudik hingga lebaran bisa mencapai sekitar Rp 200 triliun lebih. Dikala mudik dilarang, tentu perputaran uang kontan ke berbagai desa kehilangan potensi sumber ekonomi. Mulai penjual jajanan dan oleh-oleh, depot, restoran, atau rumah makan di sepanjang rute perjalanan masyarakat mudik lebaran, tentu tidak akan lagi berharap mendapatkan kucuran dana dari para pemudik yang mampir mengisi perut sebelum sampai ke kampung halaman. Dua tahun lalu larangan mudik lebaran memukul perkembangan sektor transportasi, maskapai, perhotelan, dan berbagai hal terkait kebutuhan akomodasi para pemudik.

Ketika mobilitas dibatasi, tentu kebutuhan fasilitas transportasi dan akomodasi menjadi berkurang. Masyarakat yang diminta berdiam diri di rumah menjelang dan sesudah lebaran, tidak lagi membutuhkan kendaraan, hotel dan lain-lain seperti yang biasa terjadi pada saat mudik belum dilarang. Mudah-mudahan mudik tahun ini dapat mengembalikan kerinduan masyarakat dan membangkitkan roda dan denyut perekonomian terutama kaum perantauan untuk pulang ke kampung halaman dengan perasaan riang yang tak diperoleh selama dua tahun kemarin tentu tetap harus waspada terhadap setiap potensi ancaman Covid-19 yang saat ini terus kendali namun demikian kondisi pandemi belum benar-benar dicabut atau setidaknya telah beralih menjadi endemi yang pada gilirannya akan menjadi titik balik bagi bangsa Indonesia untuk memacu diri menjadi negara maju dan sejajar dengan negara-negara lain.

———- *** ———–

Rate this article!
Tags: