Lebih Dekat Mengenal Erdogan

Judul Buku : Recep Tayyip Erdogan, Revolusi Dalam Sunyi
Penulis : Dr. M. Sya’roni Rofii
Penerbit : IRCiSoD
Cetakan : Agustus, 2020
Tebal : 248 halaman
ISBN : 978-623-7378-48-7-8
Peresensi : Farisi Aris*
Penulis produktif, bermukim di Garawiksa Institute Jogjakarta

Di dunia internasional, nama Erdogan banyak diperbincangkan, tak terkecuali di Indonesia. Bagi banyak orang, Erdogan adalah sosok pemimpin yang mampu menyulap Turki menjadi negara maju yang mampu bersaing dengan negara-negara Eropa. Karena itu, nama Erdogan seakan menjadi idola baru bagi banyak kalangan yang mengagumi kepemimpinannya yang tegas dan telah membawa angin segar untuk kehidupan masyarakat Turki.

Namun, terlepas dari semua itu, siapa sebenarnya sosok bernama lengkap Recep Tayyip Erdogan ini? Mengapa, di tingkat domestik, ia mempunyai banyak pendukung yang begitu solid? Buku ini membantu kita untuk menjawab pertanyaan itu. Di dalamnya didedahkan kisah-kisah masa kecilnya, hingga Erdogan masuk dalam dunia politik yang kemudian berhasil menjadi Presiden Turki yang disegani banyak pemimpin dunia dan dicintai rakyatnya.

Menurut buku ini, masa kecil Erdogan adalah masa kecil yang sederhana. Lumpur, tanah, dan hujan adalah tempat bermainnya dikala kecil dulu. Masa kecil Erdogan adalah masa kecil yang jauh dari keistimewaan dan kemewahan. Ia lahir dari seorang ayah bernama Ahmet Erdogan, seorang kapten kapal di sebuah agen pelayaran di Istambul, Turki, dari ibu Tanzile Erdogan, seorang ibu rumah tangga.

Erdogan kecil termasuk anak yang sangat aktif dan hari-harinya penuh interaksi dengan lingkungan sekitar. Ia juga merupakan anak yang cerdas, meski untuk sampai ke sekolah, ia harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk sampai di sekolah dasar (SD) Piyalepasa. Karena kecerdasannya itu, saat sudah pindah ke sekolah Imam Hatip, ia mendapat julukan “Hoca” dari teman-temannya, yang berarti guru atau ustaz.

Singkat cerita, setelah Erdogan masuk di perguruan tinggi, menjadi mahasiswa, ia tumbuh dan menjelma sebagai mahasiswa aktivis. Ia aktif di organisasi Milli Turk Talebe Birligi (MTTB), yang merupakan organisasi terbesar di Turki. Sejak bergabung dengan organisasi ini, relasi Erdogan mulai berkembang luas. Erdogan mulai berkenalan dengan orang-orang seperti Abdullah Gul, yang di masa depan bertemu dalam wadah yang sama untuk memimpin Turki dalam Partai AKP.

Organisasi MTTB, merupakan antitesa dari gerakan mahasiswa beraliran kiri nasionalis, dan gerakan mahasiswa yang ultra nasionalis. Mereka memfokuskan fondasi gerakan dengan menekankan pada penguatan pendidikan sejarah, kebudayaan dan nilai dalam setiap kegiatan mereka (hlm 40). Bulent Arinc, menyebutkan bahwa organisasi ini memiliki visi mengajarkan semua anggotanya untuk mencintai tanah air dari hati yang terdalam.

Selain aktif di organisasi MTTB, kala itu Erdogan juga aktif di organisasi sayap pemuda partai MSP cabang kota Istanbul. Dan ia menjabat ketuanya. Waktu itu, usia Erdogan baru 22 tahun, namun karena kemampuan manajerialnya untuk mengorganisir anak-anak muda MSP, namanya mulai dikenal di kalangan elite-elite partai. Dari situ, yang awalnya Erdogan hanya dipercayai untuk menahkodai MSP tingkat kota, dalam waktu singkat ia di alihkan ke tingkat MSP provinsi.

Namun, di era 1980-an, partai ini dintayatakan terlarang oleh pemerintah. Dan Erdogan, selama tiga tahun berhenti dari aktivitas politik. Pada 1983, Erdogan kembali berpolitik, ia masuk dan bergabung dengan Rartai Refah. Di sini, karir politik Erdogan juga kurang lebih sama dengan di MSP. Partai Refah juga dibekukan oleh pemerintah.

Beberapa tahun kemudian, di tahun 2021 tepatnya, dengan beberapa orang temannya di Partai Refah, yang tak lain juga teman-temannya di MTTB dulu, Erdogan mendirikan AK Parti (Adalet ve Kalkinma Partisi). Sejak mendirikan partai berideologi demokrasi konservatif ini, nama Erdogan terus naik daun.

Diawali dengan menjadi wali Kota Istanbul, ketua umum Partai AKP, menjadi perdana menteri, kemudian pada 2014 silam hingga kini dilantik menjadi orang nomor satu di Turki. Sejak menjadi wali Kota Istanbul, Erdogan menjelma menjadi sosok pemimpin yang tegas, sederhana, dan berpihak pada banyak kepentingan rakyat bawah.

Hal itu, kata Dr. M Sya’roni Rofii, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Erdogan. Bahwa kata Erdogan, Erdogan datang bukan sebagai orang yang ingin dimuliakan oleh 73 juta rakyat Turki. Tetapi, datang untuk mengabdi (hlm 22).

Kesederhanaan Erdogan sebagai pemimpin, kata Sya’roni, dapat ditemukan dari cara Erdogan bergaul dan berbaur dengan rakyatnya. Sebagai pemimpin negara, kata Sya’roni, ia cukup sering ngobrol sambil minum teh dengan tukang cukur, dan dengan orang-orang yang memiliiki profesi yang bertolak jauh dengan kedudukannya.

Dalam memimpin, Erdogan tak ingin membuat jarak dan dinding pembatas antara yang memimpin dan yang dipimpin. Karena sekali lagi, kata Erdogan, ia datang bukan untuk dimuliakan. Tetapi untuk mengabdi. Begitulah Erdogan, yang rasanya, pemimpin-pemimpin Indonesia perlu meneladaninya.

———- *** ———–

Rate this article!
Tags: