Lebih Siaga Banjir

Badai, banjir dan longsor sudah mengepung di seantero negeri. Hujan terasa mengguyur lebih lebat, dan lebih lama. Menyebabkan kawasan resapan air alamiah tidak mampu menampung curah air hujan. Ribuan titik area banjir dan longsor nampak tersebar dari Lhokseumawe (di Aceh) sampai Manado (Sulawesi Utara). Bahkan setiap musim menambah area baru tergenang, dan luruhan longsor baru. Pemerintah (pusat dan daerah) seyogianya lebih tanggap menghadapi potensi hidrometeorologi.

Sudah banyak proposal direalisasi dengan aksi kinerja pemerintah (dan daerah) meng-antisipasi cepat dampak bencana banjir dan longsor. Namun tak jarang Pemda terlambat menetapkan kondisi darurat. Juga abai terhadap penyusutan daya dukung lingkungan. Terutama alih fungsi lahan kawasan perbukitan, dan semakin buruknya kondisi tebing di tepi jalan nasional, jalan milik propinsi, dan jalan milik kabupaten dan kota. Setiap saat pada musim hujan, longsor bisa mengancam jiwa masyarakat.

Sudah terbukti (awal tahun ini) di Sumedang (Jawa Barat), dengan korban jiwa lebih dari 30 orang. Juga banjir yang memicu longsor di kabupaten Tanah Laut (Kalimantan Selatan), dengan 5 korban jiwa. Serta ambruknya dua jembatan (penghubung jalan nasional), karena tergerus arus sungai. Konon banjir di Tanah Laut tahun ini merupakan yang paling parah selama 34 tahun. Sebanyak 112 ribu penduduk mengungsi.

Bersadar penjejakan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), peningkatan curah hujan disebabkan efek fenomena La Nina. Sepanjang akhir tahun 2020 hingga triwulan pertama 2021, kawasan samudera Pasifik ekuator terjadi anomaly cuaca. Kawasan di sepanjang khatulistiwa (Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua) akan terjadi peningkatan badai dan curah hujan. Serta meningkatnya ketinggian permukaan air (rob) yang bisa meluber ke permukiman, dan sawah ladang.

Peningkatan curah hujan dan rob juga meluruh ke selatan khatulistiwa, pulau Jawa, dan sederet kepulauan di Nusa Tenggara. Di Jawa, sungai-sungai yang bermuara akhir ke laut terasa berbalik arah, karena rob di pantai. Di Lamongan (Jawa Timur), sungai Bengawan Jero, meluap, merendam sawah dan sentra usaha tambak. Juga merendam 3.355 rumah di 26 desa. Kerugian masyarakat ditaksir mencapai Rp 13 milyar. Semakin banyak masyarakat menunggak hutang bank, karena gagal panen.

Dampak bencana banjir (dan longsor) selalu terasa pedih. Kerugian materi pada tingkat rakyat (rumahtangga) sangat besar, berupa kerusakan sawah dan kebun. Serta terputusnya akses infrastruktur perekonomian lain (pasar, jembatan dan jalan). Bertambah pedih, karena selalu terdapat korban jiwa. Misalnya, empat musim lalu Ponorogo mencatat korban jiwa sebanyak 60 orang, akibat longsor. Disebabkan alih fungsi lahan di perbukitan berubah menjadi areal kebun tanaman lunak.

Kawasan Jawa yang memiliki sungai besar (Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur) patut waspada. Terutama Ciliwung (Jakarta), Citanduy, dan Citarum (Jawa Barat), sungai Serayu (Jawa Tengah), dan Kali Brantas (Jawa Timur). Serta yang legendaris, Bengawan Solo (Jawa Tengah hingga Jawa Timur). Maka seyogianya, Pemerintah daerah (propinsi, serta kabupaten dan kota) menyusun mapping kebencanaan berdasar kondisi terbaru.

Banjir dan longsor, butuh penanganan lebih sistemik. Antaralain dengan metode lama (normalisasi sungai), serta membuat kanal banjir. Sampai me-masif-kan tutupan vegetatif di hulu hingga hilir, dan memperbanyak tampungan air hujan. Karena sebenarnya efek La Nina bisa memberi air lebih banyak. Jika ditampung akan menjamin ketersediaan air pada musim kemarau. Waduk tidak akan kering.

Tetapi masih diperlukan penegakan peraturan tata-ruang. Serta pendidikan masyarakat menjaga lingkungan, dan mitigasi bencana.

——— 000 ———

Rate this article!
Lebih Siaga Banjir,5 / 5 ( 1votes )
Tags: