Lepas Masker Terbatas

Tanda akhir pandemi CoViD-19 semakin nyata. Indonesia secara meyakinkan men-deklarasi-kan lepas masker terbatas. Masyarakat boleh tidak mengenakan masker pada ruang terbuka. Persyaratan perjalanan dalam dan luar negeri juga mengalami “pembebasan” bersyarat. Tanpa menyertakan hasil tes antigen dan swab PCR, asalkan telah suntik vaksinasi dosis kedua. Suasana tertekan dalam pembatasan kegiatan sehari-hari, selama 25 bulan masa pandemi, telah berlalu.

Tetapi pemerintah masih berkewajiban memulihkan perekonomiana nasional. Antara lain melalui fasilitasi program jaring pengaman sosial. Terutama bantuan permodalan, akses kredit modal kerja, dan kemudahan perizinan usaha. Berdasar UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, juga mengamanatkan bantuan pinjaman lunak permodalan. Selama pandemi, sebanyak 3,5 juta buruh kehilangan pekerjaan (terkena Pemutusan Hubungan Kerja, PHK).

Berdasar data BPS (Badan Pusat Statistik), pengangguran di Indonesia ditaksir sebanyak 29,12 juta orang. Sekitar 9% pengangguran akibat pandemi. Jumlah pengangguran semakin banyak manakala memasukkan sektor in-formal. Terutama unit usaha mikro dan ultra mikro (UMUM) yang tutup usaha. Pelaku usaha ekonomi kreatif unit kuliner (makanan dan minuman), sektor transportasi, dan perdagangan mengalami dampak paling parah.

Pembatasan kegiatan (dan mobilitas) masyarakat menjadi “kulkas” yang mem-beku-kan perekonomian rakyat. Negara di seluruh dunia memberlakukan pembatasan dengan visi ke-karantina-an kesehatan. Mencegah penularan penyakit akibat CoViD-19. Namun setelah dua tahun, telah ditemukan vaksin, dan obat anti-virus SARS-2. Serta berbagai obat tradisional pencegahan. Juga tenaga kesehatan (Nakes) yang makin cakap menangani pasien. CoViD-19, kini bukan lagi ancaman.

Negara-negara di seluruh dunia telah membuka akses mobilitas orang, melalui pelabuhan, bandara, dan transportasi darat. Berbagai Pelabuhan dan bandara internasional telah dibuka. Pembatasan kedatangan orang asing (karantina) di-longgar-kan. Di dalam negeri, Satgas CoViD-19 juga sedang menyusun road-map, mengubah pandemi menjadi endemi. Dimulai dengan penghapusan karantina, dan kunjungan wisatawan manca negara, cukup menujukkan bukti vaksinasi dosis kedua.

Masyarakat menyambut gembira fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang mem-boleh-kan ibadah berjamaah dengan merapatkan barisan. Shalat boleh dengan shaf yang rapat (tanpa jarak), namun tetap menggunakan masker. Pertimbangan MUI, suasana saat ini sudah lepas dari kondisi udzur pandemi. seluruh pondok pesantren juga membuka diri untuk kunjungan keluarga, terutama pada akhir pekan. Sekolah PTM (Pembelajaran Tatap Muka) 100% normal di pesantren segera dimulai.

Seluruh perjalanan dalam negeri dengan berbagai moda transportasi (darat, laut, dan ydara) bisa dilakukan tanpa tes swab antigen. Tidak ada lagi posko swab antigen di bandara, di stasiun (dan terminal bus), serta di pelabuhan. Berdasar data Satgas Penanganan CoViD-19, sebanyak 200 juta rakyat Indonesia sudah divaksin suntik dosis pertama. Sebanyak 167 juta orang telah menerima suntik dosis kedua. Serta sebanyak 43 juta orang menerima vaksin booster.

Perubahan status pandemi menjadi endemi, sepenuhnya domain kewenangan Badan Kesehatan Dunia, (WHO, World Health Organisation). Tetapi setiap negara memiliki peran strategis mengubah pandemi menjadi endemi. Indonesia memiliki peraturan (sistem yang kokoh) perlindungan kesehatan. Termasuk jaminan konstitusi sebagai hak asasi manusia, tercantum dalam UUD pasal 28H ayat (1). Juga terdapat peraturan lex specialist, UU Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Begitu pula partisipasi masyarakat menangani CoViD-19, tak dapat di-sepele-kan. Antara lain n dengan pembentukan “kampung tangguh.” Juga kepatuhan terhadap Prokes (protokol kesehatan). Maka pelonggaran kegiatan masyarakat, dan Prokes niscaya disambut dengan sukacita. Keceriaan sosial menunjukkan tren makin guyub. Tak lama perekonomian akan segera bangkit.

——— 000 ———

Rate this article!
Lepas Masker Terbatas,5 / 5 ( 1votes )
Tags: