Limbah Kayu Jati Jadi Pembeda, Usai Dijadikan Produk Kayu Berbentuk Body Gitar

Ridho Hafiedz ketika mencoba talenan kayu berbentuk body gitar ciptaanya yang diberi nama ‘Chefcaster’.

Surabaya, Bhirawa
Gitaris ternama Indonesia, sekaligus personel grup band Slank, Ridho Hafiedz bersama Legit Furniture telah berkolaborasi meluncurkan karya terbarunya, yaitu cutting board atau talenan kayu berbentuk body gitar. Terinspirasi dari salah satu merek gitar kesayangan Ridho, yaitu Peavey produk talenan ini kemudian diberi nama ‘Chefcaster’ series. Selain diberi nama yang unik, talenan pun dibentuk menyerupai gitar aslinya bahkan terciptanya ide talenan dengan bentuk menyerupai Peavey Gitar ini datang dari Ridho Hafiedz sendiri.

“Mungkin banyak orang belum tahu, kalau saya adalah orang yang suka sekali masak. Disela-sela kesibukan manggung bareng Slank ataupun project lainnya, memasak adalah bentuk terapi buat saya. Kebetulan beberapa bulan lalu, saya ketemu dan ngobrol-ngobrol bareng tim Legit Furniture dan diajak buat bikin produk bareng tapi yang nggak biasa. Jadilah Chefcaster, setelah melewati beberapa diskusi panjang yang menarik. Kebetulannya lagi, saya suka dengan barang-barang dari kayu, terutama kayu lawas atau limbah. Jadi cutting board Chefcaster ini cukup personal buat saya,” terang Ridho Hafiedz.

Ridho Hafiedz, sang pemilik ide talenan dengan bentuk menyerupai Peavey Gitar selain dikenal sebagai gitaris rock n roll yang garang di panggung, ternyata Ridho Hafiedz memiliki kecintaan sendiri pada kegiatan di dapur. Sejak muda, Ridho sudah gemar memasak berbagai macam hidangan, bahkan hobi memasaknya semakin menjadi ketika sudah berumah tangga. Ridho kerap memasak untuk keluarga dan kerabat dekat yang berkunjung ke rumah, Ridho memaknai kegiatan memasak sebagai terapi yang menyenangkan.

“Bukan cuma berkarya dari studio, diluncurkannya produk Chefcaster ini juga menampilkan sisi lain saya bahwa berkarya, sekaligus terapi bisa juga dilakukan dari dapur. Namun, dalam bentuk karya yang berbeda, yaitu masakan. Bentuk model Peavey saya jadikan inspirasi cutting board karena ini adalah salah satu gitar favorite saya. Selanjutnya saya bilang ke tim Legit soal ide ini dan ternyata mereka setuju dan hasil pengerjannya juga sesuai yang diharapkan,” ujar Ridho Hafiedz.

Sementara itu proses keseluruhan produksi talenan ini memakan waktu empat bulan. Mulai dari diskusi awal penentuan produk, pencarian bahan baku yang sesuai, pembuatan sample, hingga akhirnya talenan siap diluncurkan ke masyarakat. Terdapat beberapa hal menarik dari perilisan talenan ‘Chefcaster’ ini seperti material limbah kayu jati pilihan jadi pembeda.

“Hal pertama yang penting untuk kami tawarkan adalah fungsi, jadi talenan ini memang dapat digunakan dengan baik. Selanjutnya, yang tidak kalah penting adalah desain produk yang menarik dan estetik. Mas Ridho Hafiedz berperan besar dalam penentuan model talenan. Lalu pemilihan material utama juga kami diskusikan bersama. Sejak awal ngobrol dengan Mas Ridho Hafiedz, kami sepakat bahwa produk ini akan dibuat menggunakan limbah Kayu Jati pilihan. Kayu-kayu yang kami gunakan merupakan bongkaran dari rumah-rumah lawas yang berlokasi di Jawa Tengah. Kualitas dari Kayu Jatinya pun sudah teruji oleh alam selama puluhan tahun. Selain itu, terdapat nilai-nilai historĀ­ical juga dari setiap kayu yang digunakan,” jelas CEO Legit Furniture, Nurina Ayuningrum, Senin (28/11).

Nurina menambahkan selain itu penggunaan limbah Kayu Jati, atau reclaimed wood juga sebagai pembeda dengan produk talenan lainnya. Kelebihan dari Kayu Jati lawas adalah serat-seratnya yang terlihat lebih cantik, dan kayunya sudah matang sempurna tanpa bantuan mesin pengering. Secara kualitas, kayu yang digunakan mempunyai mutu yang tinggi.

“Menariknya lagi, dari setiap produk “Chefcaster”, teman-teman tidak akan mendapatkan produk yang yang sama persis antara satu dengan lainnya. Secara bentuk keseluruhan pasti sama. Namun, ada detail-detail yang pastinya berbeda dari setiap corak kayu yang dihasilkan. Setiap pengerjaan cutting board ini juga dibuat secara handmade oleh para pengerajin kami di Yogyakarta. Selain itu, karena produk ini memang dibuat limited edition, maka terdapat nomor seri pada setiap talenan, mulai dari nomor 1/100 sampai 100/100,” pungkas COO Legit Furniture, Panggah Pambudi.[riq.ca]

Tags: