Longsor Ngetos, 9 Meninggal, 10 Belum Ditemukan

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat meninjau lokasi tanah longsor di Desa Ngetos Kecamatan Ngetos dan warga mengunsi di rumah Kepala Desa Ngetos.

Gubernur Serahkan Bantuan untuk Korban
Nganjuk, Bhirawa
Tingginya curah hujan diduga menjadi penyebab terjadinya bencana tanah longsor yang terjadi di Dusun Selopuro RT 01/ RW 06 Desa Ngetos Kecamatan Ngetos. Hingga berita ini diturunkan terdapat 9 korban meninggal dunia, sepuluh korban belum ditemukan dan masih dalam pencarian oleh tim gabungan.
Tim gabungan yang terdiri dariBasarnas bersama TNI, Polri, BPBD dan satuan tugas lainnya berjumlah sekitar 150 personel bekerja keras melakukan pencarian korban yang tertimbun material longsor di Dusun Selopuro. Pemkab Nganjuk juga mendirikan Posko yang letaknya sekitar 500 meter dari lokasi bencana.
Sebanyak 12 korban tanah longsor di Desa Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jatim, berhasil ditemukan oleh petugas dan 10 orang di antaranya meninggal dunia.
“Untuk musibah bencana tanah longsor di Dusun Selopuro, sebanyak 21 orang tertimbun. Kemudian dari hasil evakuasi, 12 berhasil ditemukan,” kata Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat di Nganjuk, Senin (15/2).
Ia mengatakan dari 12 orang itu, 10 orang dinyatakan meninggal dunia sedangkan dua lainnya berhasil selamat. Saat ini, kedua korban itu masih dirawat di puskesmas untuk pemulihan dari lukanya.
Seluruh korban tersebut dirawat oleh petugas medis. Pemeriksaan jenazah dilakukan langsung oleh Tim Inafis Polda Jatim yang sengaja datang ke lokasi, untuk mempercepat proses identifikasi.
Dengan ditemukannya 12 orang korban tanah longsor tersebut, saat ini masih ada sembilan orang korban yang hingga kini masih dalam pencarian.
Petugas gabungan dari BPBD Kabupaten Nganjuk, juga dibantu oleh TNI/Polri serta relawan. Untuk memudahkan evakuasi, petugas mengerahkan tiga alat berat. Dari jumlah itu, satu alat berat kecil, sedangkan dua lainnya besar.
Petugas terus mengoperasionalkan alat berat itu mencari para korban yang diduga masih tertimbun reruntuhan tanah longsor yang berada di belakang rumah mereka.
Kondisi rumah para korban terletak di area perbukitan dengan bagian belakang adalah bukit. Model rumah mereka seperti terasiring.
Rumah warga yang terkena tanah longsor juga hancur. Namun, beberapa barang ada yang berhasil diselamatkan dan ditaruh sementara di dekat masjid, yang juga sejajar dengan rumah mereka. Namun, masjid itu tidak terkena tanah longsor.
Warga yang berhasil selamat juga masih tinggal di tempat pengungsian. Lokasinya berada di sekolah dasar, yang dekat dengan posko utama di Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk.
Warga yang sebelumnya juga dirawat di puskesmas, mengalami luka ringan saat ini sudah diperbolehkan pulang dari puskesmas. Namun, mereka tetap dipantau kesehatannya oleh petugas medis yang selalu berkunjung.
Petugas medis yang datang pun juga mengenakan atribut lengkap, mengingat saat ini masih pandemi Covid-19.
Sementara itu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung lokasi bencana, Senin (15/2).
Didampingi Bupati Nganjuk Novi Rahman, Danrem 081, Dandim, Kapolres Nganjuk serta beberapa Kepala Dinas Pemprov Jatim. Setibanya di lokasi, Gubernur Khofifah langsung mendengarkan paparan Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat terkait kronologis bencana. Gubernur pun menyerahkan sejumlah santunan kepada korban maupun masyarakat yang terdampak bencana sekaligus meninjau Dapur Umum, Posko Bencana dan Posko Kesehatan sekaligus Pos Ante Mortem.
Gubernur Khofifah menyerahkan bantuan berupa satu ton beras, makanan anak sebanyak 200 paket, matras 200 lembar, kasur 200 lembar, kids ware 50 paket, makanan siap saji 120 paket dan selimut 50 lembar. Tak hanya itu, juga diserahkan bantuan berupa 4 set APD, 1 unit Alkom, 120 paket lauk pauk serta 120 paket tambahan gizi. Sejumlah alat berat dan beberapa ambulance juga diterjunkan. Dalam kesempatan itu, Gubernur Khofifah membagikan sejumlah bantuan dan membagikan buku kepada anak-anak terdampak.
Kepada awak media, Gubernur Khofifah menyampaikan proses pencarian korban longsor terus dilakukan sampai ditemukan seluruh korban yang tertimbun. Untuk mempercepat pencarian, pihak kepolisian akan menerjunkan anjing pelacak. “Saya telah berkoordinasi dengan Pak Kapolres dan ternyata sudah disiapkan anjing pelacak untuk mempercepat proses identifikasi,” ungkapnya.
Menurut Khofifah, lokasi bencana memang cukup curam. Kondisi tebing mengharuskan untuk meningkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan. “Utamanya alat berat dan juga dipersiapkan jalan-jalan atau akses lainnya, sehingga dapat mencapai titik tertentu agar dapat mencapai titik perkiraan korban,” terangnya.
Gubernur perempuan pertama di Jatim itu menuturkan bahwa Pemkab Nganjuk saat ini sudah memberikan edukasi kepada warganya untuk meningkatkan kewaspadaan. Itu penting dilakukan untuk mengantisipasi longsor susulan. “Banyak warga telah diedukasi dan ditingkatkan kewaspadaannya jika sewaktu waktu terjadi intensitas hujan yang cukup tinggi,” jelasnya.
Tak hanya itu, adanya retakan tanah yang berpotensi terjadinya longsor harus diberi tanda atau warning. Termasuk mengajak warga mengambil langkah evakuasi diri.
“Kita tidak bisa menduga ternyata hujan intensitas tinggi terus mengguyur wilayah ini dan akhirnya terjadi longsor. Kita semua menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban meninggal dari bencana longsor ini. Kita doakan agar warga yang telah meninggal seluruh amalnya diterima oleh Allah SWT dan seluruh khilafnya diampuni. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, keihlasan dan ketabahan. Dan bagi yang sedang dirawat di rumah sakit semoga lekas sembuh,” imbuhnya.
Khofifah berharap, ke depan daerah yang berada di sekitar lempengan yang berpotensi kerentanan lahan longsor perlu diwaspadai. Mengingat ini lahan Perhutani maka pihaknya meminta Bupati Nganjuk dapat mengkordinasikan untuk menyiapkan relokasi lahan terdekat yang aman.
Sementara itu Wakil Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengatakan, dengan intensitas tinggi merata di wilayah Kabupaten Nganjuk pada Minggu (14/2) mulai pukul 14.00 WIB. Sekitar pukul 18.30 WIB tebing di Dusun Selopuro longsor. “Setelah mendapat laporan ada bencana longsor, tim gabungan langsung datang ke lokasi dan melakukan perbersihan material longsor, pertolongan korban luka-luka dan evakuasi korban yang meninggal dunia,” terang Marhaen.
Selain bencana longsor, Wabup Marhaen juga menyebutkan banjir mengepung Nganjuk. Bahkan, ketinggian air hingga sekitar 1 meter. Akibat kejadian itu, beberapa desa di Nganjuk terkena banjir, seperti di Kelurahan Ploso, Jatirejo, Payaman di Kecamatan Nganjuk, lalu Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret. Warga yang daerahnya terkena banjir cukup tinggi juga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. [ris.tam.ant]

Tags: