Lumbung Pangan Jatim Sukses Jaga Stabilitas Harga

Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim Tiat S Suwardi bersama Dirut PWU Jatim dan Dirut PT JGU saat monitoring stok bahan pangan di Lumbung Pangan Jatim beberapa waktu lalu.

Pemprov, Bhirawa
Inisiatif Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mendirikan Lumbung Pangan Jatim berhasil menciptakan berbagai dampak positif. Salah satunya psikologi pasar yang kerap tidak stabil jelang momentum besar seperti Hari Raya Idul Fitri. Dengan adanya Lumbung Pangan Jatim, stabilitas harga pasar terkendali bahkan sejumlah komoditi mengalami penurunan harga.
Kepala Biro Administrasi Perekonomian Sekdaprov Jatim Tiat S Suwardi menuturkan, harga di Lumbung Pangan Jatim sesuai harapan Gubernur Khofifah harus berada di bawah harga pasar. Sehingga, stabilitas harga-harga kebutuhan pokok dapat terkendali.
“Misalnya gula pasir. Sempat harganya mencapai Rp18 ribu bahkan Rp 22 ribu per kilo. Sementara kita jual dengan harga Rp 12 ribu. Dengan demikian, pedagang dinluar akan berpikir ulang jika tetap mematok harga tinggi. Terbukti, harga gula mulai berangsur turun,” tutur Tiat, Selasa (26/5).
Di sisi lain, keberadaan lumbung pangan juga menjaga harga komoditi yang sempat jatuh agar tetap terserap dengan harga wajar. Misalnya telur dan ayam yang dibeli lunbung pangan dari petani dan dijual dengan harga wajar.
“Ketika, harga bahan pangan turun. Petani adalah orang pertama yang merugi. Sebab, pendapatan dari harga jual tak sepadan dengan pengeluaran untuk produksi,” ungkap Tiat.
Sementara itu, Dirut Panca Wira Usaha Jatim Erlangga Satriagung menambahkan, produk para petani diserap lalu dijual ke masyarakat dengan harga terjangkau. “Petani tidak rugi, kebutuhan masyarakat juga tetap terpenuhi,” kata Erlangga.
Sejak dibuka pada tanggal 21 April 2020, sejumlah komoditi bahan pangan berhasil diserap Lumbung Pangan Jatim, salah satunya beras. Erlangga menjelaskan setidaknya, Lumbung Pangan Jatim sudah menyerap beras petani lokal Jatim sebesar 232,42 ton. Dari jumlah total serapan beras tersebut, yang sudah terjual ke masyarakat mencapai 107,61 ton lebih atau setara dengan Rp 1,1 miliar. Sedangkan lebih dari 124,8 ton sisanya saat ini menjadi stok Lumbung Pangan Jatim. “Jumlah beras yang kita serap dari petani ini tentu bertambah seiring dengan bertambahnya waktu karena kita buka Lumbung Pangan Jatim ini hingga 21 Juli 2020 mendatang,” ucap Erlangga.
Erlangga merinci, beras lokal Jatim yang telah diserap Lumbung Pangan Jatim antara lain, beras Mojosari terserap Lumbung Pangan lebih dari 35,7 ton, beras Mojokerto sebesar 42,98 ton, beras Kediri sebesar 34,5 ton. Lalu beras Jember 13,17 ton, beras Ngawi di atas 17,86 ton, beras Lamongan sebesar 69,2 ton, serta 18,9 ton lainnya dari beberapa tempat.
Dengan hadirnya Lumbung Pangan Jatim ini, menurut Erlangga bermanfaat bagi dua sisi, baik untuk petani karena produk mereka terserap dengan harga yang layak. Serta masyarakat yang bisa membeli produk tersebut dengan harga terjangkau.
Kenaikan harga sembako ini bisa terkontrol. Sebab, stok bahan pangan di Lumbung Pangan Jatim dipastikan ada dan dengan mudah bisa diakses oleh masyarakat. [tam]

Tags: