Mahasiswa, The Last Man Standing

Oleh :
Nurudin
Penulis dosen Ilmu Komunikasi, Fisip, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Mencurigai gerakan mahasiswa di setiap aksi menuntut perubahan bisa jadi mendangkalkan masalah dan membutakan diri pada fakta. Benar bahwa gerakan mahasiswa itu dilatarbelakangi oleh kepentingan tertentu. Bisa jadi, setiap gerakan ada “penyusup” dari kepentingan di luar gerakan mahasiswa. Namun mencurigai dan melemahkan gerakan mahasiswa dengan berbagai cara cermin pikiran yang sempit.
Tentu saja, memahami dan menilai gerakan mahasiswa dengan masih meletakkan pundak seseorang pada kepentingan atau afiliasi kepentingan tertentu akan membuat penilaian tidak objektif. Objektif di sini kemampuan menilai gerakan mahasiswa dari berbagai sudut pandang, bukan sudut pandang kepentingan seseorang.
Kita bisa ambil contoh. Ada sekelomok orang yang terus curiga bahwa gerakan mahasiswa itu “ditunggangi” kepentingan kelompok tertentu. Ini bisa jadi benar. Tetapi menuduh dengan niat melemahkan gerakan mahasiswa tak kalah kejamnya dengan aksi pembunuhan.
Masalahanya akibat dari tuduhan itu bisa berakibat menelan tidak hanya nyawa, tetapi juga beban psikologis sebuah gerakan. Jika gerakan sudah kehilangan ruh, maka ia tak ubahnya sekumpulan orang tanpa jiwa. Karena, aksi melemahkan itu akan mengancam eksistensi bangsa ini di masa datang. Karena mahasiswa adalah calon pemimpin bangsa ini di masa datang.
Tidak salah menurigai gerakan mahasiswa sebagai tindakan politis. Namun, curiga yang berlebihan hanya mencerminkan seseorang itu menjadi “agen” kepentingan tertentu. Sulit memang tetapi itulah fakta yang sebenarnya terjadi.
Mengapa Curiga?
Berbagai komentar sinis, mencurgai bahkan terkesan melemahkan gerakan mahasiswa bisa kita amati dalam demonstrasi yang tuntutan utamanya soal revisi UU KPK dan RKUHP. Pelemahan itu terbukti dari tuduhan bahwa ada “penunggang gelap” dalam gerakan. Bahkan ada tuduhan bahwa mereka tidak cinta NKRI. Jika cinta NKRI mengapa harus demonstrasi pada pemerintahan yang selama ini mengklaim cinta NKRI? Ada juga yang menuduh tidak Pancasilais. Sampai komentar-komentar sinis pada gerakan mahasiswa itu di media sosial (Medsos). Tidak percaya, coba Anda lihat medosos bagaimana komentar yang beredar.
Bahkan ada juga yang menuduh bahwa gerakan mahasiswa itu untuk menggoyang Jokowi, bukan menggoyang pemerintah sebagai lembaga. Jadi rasa cinta yang berlebihan pada sosok Jokowi telah membuat seseorang menjadi curiga berlebihan.
Mengapa kecurigaan pada gerakan mahasiswa sangat berlebihan? Pertama, kepentingan politik. Tentu mereka yang berada dalam tubuh pembela pemerintah akan membela habis-habisan apa saja yang dianggap menggoyang presiden. Padahal gerakan mahasiswa itu ditujukan juga ke DPR. Namun karena DPR dan presiden seringkali kebijakannya setali tiga uang, gerakan mahasiswa yang memprotes DPR dianggap memprotes presiden pula.
Bisa jadi ini adalah akumulasi titik kulminasi rasa cinta berlebihan pada sosok Jokowi. Jadi, apapun yang berusaha untuk menggoyangnya akan dilawan. Minimal menyindir-nyindir gerakan yang mencoba dianggap memojokkan presiden. Tentu ini tidak salah. Namanya saja juga pendukung.
Sementara itu, mereka yang awalnya mendukung Jokowi terpecah menjadi dua. Mereka yang mendukung membabi buta akan berusaha untuk membela kepentingan Jokowi, apapun yang terjadi. Sementara itu, mereka yang mendukung secara rasional akan meletakkan pertimbangan kemaslahatan pada posisi depan. Buktinya, banyak teman-teman saya yang awalnya mendukung Jokowi ikut mengkritik Jokowi. Apakah mereka ini benci? Justru mereka menunjukkan kecintaannya pada Jokowi. Cinta dengan memberikan masukan agar tidak terjerembab dalam jurang kepentingan terselubung di sekitarnya. Mereka inilah yang sebenarnya pendukung setia karena kecintaannya pada kepentingan kemaslahatan umum.
Mereka yang mendukung secara emosional tentu tidak bisa berpikir jernih. Mereka sudah terlingkupi kecintaan membabi buta. Sementara itu, kelompok ini justru sedang menggali kuburan pada junjungannya. Untuk itulah kritikan pada pemerintahan Jokowi harus didudukkan pada proporsi yang sebenarnya. Memang kritikan punya unsur “tidak suka”. Tentu ini tetap ada di sebagian orang. Tetapi tak sepantasnya kritik harus dibungkam. Selamanya kritik tetaplah kritik yang mempunyai dunia dan tujuannya sendiri-sendiri. Masalahnya, kepentingan sering mengalahkan segalanya.
Kedua, buntut Pilpres 2019. Diakui atau tidak buntut “perseteruan” Pilpres 2019 masih sangat terasa. Mereka yang membela kebijakan presiden adalah para pendukung setia waktu itu. Sementara itu, sebagian besar pendukung demonstrasi adalah mereka yang tidak mendukung presiden terpilih. Kenyataan inilah yang membuat kubu pendukung presiden kemudian mencurigai dan menuduh bahwa demonstrasi mahasiswa itu “ditunggangi” oleh orang-orang lawan politik Jokowi. Tidak salah sebagian, hanya tidak seratus persen benar.
Harapan Akhir
Namun demikian, kelompok yang selalu curiga tersebut lupa bahwa dalam demonstrasi juga ada kelompok pendukung presiden terpilih yang rasional bukan pendukung emosional, apalagi karena kepentingan. Kelompok pendukung inilah yang tidak diperhitungkan oleh pendukung presiden. Seolah mereka yang demonstrasi itu dianggapnya kelompok yang tidak suka bahkan akan berusaha menggulingkan kekuasaan.
Sementara itu, bagaimana dengan kelompok mahasiswa itu sendiri? Mahasiswa itu harus dibedakan dengan kepelompok kepentingan politik. Mereka kebanyakan tidak banyak berurusan dengan politik, meskipun tentu tetap ada. Mereka menyuarakan kebenaran hasil pengamatan dan analisis mereka senediri. Tentu saling memengaruhi satu sama lain antar mahasiswa.
Seseorang hanya bisa dituduh mempunyai kepentingan jika ia sudah tidak menjadi mahasiswa, terutama jika sudah menjadi politisi. Buktinya apa? Lihat saja mantan aktivis gerakan ’98. Mereka yang saat itu kritis pada pemerintah saat ini sudah diam seribu bahasa karena berlindung atau ada kepentingan politik di baliknya. Mereka dari kelompok lawan politik pun tak jauh berbeda.
Dalam posisi ini selayaknya pada pengkritik gerakan mahasiswa mengaca diri. Bahwa mahasiswa itu kelompok yang tengah berpikir kritis, menolak kemapanan dan mengkritik kebijakan yang tidak menguntungkan rakyatnya. Tak selamanya dicurigai apalagi harus ditembak. Anak muda tetaplah anak muda dengan jiwa yang bergelora untuk suatu perubahan. Tugas aparat mengawal dan generasi lebih tua memberikan saluran keinginan gerakan mahasiswa. Tapi memang susah jika sesuatunya selalu dikaitkan dengan kepentingan individu dan kelompok.
Kepada siapa lagi kita mengharapkan perubahan bangsa ini ke depan jika kepentingan politik masing-masing pihak sudah tinggi? Kita tinggal mengharapkan kepada mahasiswa. Karena mereka adalah “The Last Man Standing”.

——— *** ———–

Rate this article!
Tags: