Makan Siang Terakhir

Oleh:
Moh. Rofqil Bazikh

Sungguh, betapa senang dan menggembirakan ketika kau berkunjung ke sini. Duduk atau tepekur lama, bahkan sedikit menangis. Sering kau membawa cucumu yang kecil dan menggemaskan itu. Di tangannya kadang menggenggam makanan, ia terlihat senang ketika kau ajak jalan-jalan. Sudah tiga tahun di sini, di rumah yang kedap suara dan tidak bisa mendengar apa-apa. Tetapi, kau masih saja mengingatku dan sangat senang jika sewaktu-waktu berkunjung. Tetapi, tak pernah kau menyapaku, begitu pula sebaliknya. Kita sama-sama diam, seperti sepasang kekasih-tapi kita kan memang kekasih?-yang habis bertengkar. Namun, bagiku cukup melihat kau tersenyum dan kerudungmu masih melingkar di kepala.
Aku kadang kangen anakmu, tetapi kau malah lebih sering membawa cucu ke sini. Padahal, seandainya anakmu juga ikut, itu lebih dari sekadar menyenangkan. Dulu, saat aku masih di rumah yang lama, dia sering memerahiku. Tidak pernah kumarahi balik, selalu kuanggap wajar apa yang ia lakukan kepadaku, atau kepada kita bahkan. Pernah ketika aku meminta buatkan kopi kepadamu, ia marah tanpa ampun. “Sudah tua, tidak bekerja,” begitu ucapnnya dengan membara. Aku masih ingat itu, bahkan sampai tempurung kepalaku dikerubungi serangga-serangga, aku berusaha mengingatnya. Meski begitu, aku memaafkannya, sangat-sangat memaafkannya.
Tiap kau beranjak pulang sambil membimbing tangan cucumu untuk berjalan, kadang air mataku menetes. Sungguh sedih ketika kau memunggungi dan tidak bisa melihat aku yang melambaikan tangan kepadamu. Andai kau mendengar suaraku, tentu aku mengirim salam pada anakmu. Aku ingin ia juga main ke sini, meski hanya beberapa menit. Tidak masalah ia melakukan apa di sini, bahkan kalau mau ia boleh marah-marah lagi kepadaku. Namun, itu semua rasa-rasanya tidak mungkin, anakmu terlanjur membenciku. Kebencian di dadanya sangat rapi dan tidak bisa dihancurkan.
Satu-satunya harapan, semoga besok-besok kau memilih rumah di sini. Meski tidak satu rumah denganku, tidak masalah, yang terpenting kita tetanggaan. Bagaimana pun, aku masih belum puas bersamamu di rumah yang dulu. Dan kalau tidak keberatan, kuingin kelak cucumu itu juga sering berkunjung ke sini, baik ke rumahmu mau pun ke rumahku. Kau memang harus pintar mengajari cucumu untuk selalu menyambung tali kepada orang yang jauh dan tidak bisa disentuh. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan tidak lain adalah berkunjung ke sini, duduk tepekur sesaat. Bagi orang lain, itu hal yang sangat biasa dan tidak ada artinya. Bagiku tidak, semua itu berarti, lebih-lebih jika kau menangis saat berkunjung ke sini.
Ketika aku mengucapkan salam perpisahan, cucumu tidak lahir ke dunia. Dia masih berada dalam kandungan anakmu. Sebetulnya, aku ingin menyaksikan ia lahir ke dunia disertai tangisan yang menggemaskan. Namun, waktu berkata lain dan waktu tidak bisa ditawar. Aku harus pergi hari itu juga, tiga bulan sebelum cucumu membuka mata dan melihat dunia. Saat kau melepasku pergi, derai air mata membasahi permukaan pipimu, begitu juga dengan anakmu. Aku hanya bisa tersenyum waktu itu, akhirnya kutemukan juga satu menit paling berharga di mana anakmu tidak memarahiku. Padahal sebelum-sebelumnya, ia tidak pernah absen melakukan itu padaku.
Tidak banyak yang mengantarku ke rumah baru, hanya beberapa orang saja. Kemungkinan besar karena aku dan kau orang yang pas-pasan dan tidak terpandang. Makanya, yang tertarik untuk mengantarku hanya orang-orang terdekat rumah kita dahulu. Kamu menahan sesak di dada, yang jelas-jelas sudah membuncah. Sebetulnya, untuk mengatasi sesak semacam itu gampang saja, cukup kau ingat; bahwa kau juga akan membangun rumah di dekatku, kalau kamu mau.

***

“Meski tidak bekerja, dia masih bapakmu” kau berujar seperti itu kepadanya.
Namun, ia tetap ngotot dan mengatakan kalau aku bukan bapaknya hanya karena aku tidak bekerja. Padahal, jika dia tahu betapa beratnya pekerjaanku sewaktu ia masih dalam kandunganmu, tentu ia tidak akan seperti itu kepadaku. Sayangnya, ia hanya sebentar melihatku bekerja dan habis itu aku harus berhenti dari pekerjaan karena beberapa alasan yang memaksa. Ia juga menganggap bahwa aku hanya numpang makan kepadamu. Tidak apa-apa, selalu kumaafkan apapun yang ia katakan. Seharusnya ia lebih bijak sedikit, atau paling tidak jangan memarahiku terus-terusan.
Bahkan masalah-masalah kecil saja bisa menjadi api yang berkobar jika anakmu mau. Pernah, saat kau ke pasar atau entah ke mana, yang jelas kau tidak ada di rumah, ia hampir mendorongku hanya karena makanku di dapur lambat. Padahal, aku sama sekali tidak merepotkan anakmu itu, aku ke dapur dan menyiapkan semuanya sendiri dan mencuci piring sendiri. Kata tetangga, hal seperti itu tidak pantas dilakukan oleh lelaki, namun bagiku tidak. Semua sama saja, aku harus menyiapkan makananku saat kau tidak ada di rumah. Aku juga berharap saat kusiapkan makanan sendiri, ia tidak memarahiku. Kenyataannya beda, aku tetap dimarahi karena makanku yang lambat dan kunyahan di mulutku yang tidak lekas habis. Itu saja, sederhana bukan?
“Kasihan, bapakmu sudah tua tidak usah kau marahi berlebihan.”
Entah berapa kali kau mengulangi kata yang serupa, tetapi ia pura-pura tuli, kalau tidak masuk dari telinga kiri keluar ke telinga kanan. Buktinya, tidak berselang lama sesudah nasihatmu ia akan memarahiku sebagaimana biasanya. Kemarahannya bertambah ketika ia hendak menikah dengan Semmang(ayah dari cucumu nanti) dan aku kurang setuju. Aku paham betul betapawatak Semmang beserta keluarganya. Kalau pun ia mau menikah dengan Semmang sudah pasti tidak akan bertahan lama. Namun, ia bukannya mendengar apa yang aku utarakan, malah mengancam meracuniku. Perempuan macam apa yang berani mengancam suami dari ibunya.
Sebab itu, kau memberi izin ia menikah dengan Semmang begitu pula aku-meski terpaksa. Akhirnya, merek hidup sebagaimana keluarga pada umumnya, sangat bahagia. Meski sudah bahagia, anakmu masih saja tidak bisa lepas dari kebiasannya dan aku sebagai sasaran tembak. Sebagaimana biasa juga, kau yang akan membelaku dari ucapan-ucapan kotor anakmu itu. Aku ingin berterima kasih, karena selama itu kau tetap saja mempertahankanku dan kerap melindungi.
“Dia bukan bapakku, dia telah mengambil ibu dari bapak.”
“Mulutmu dijaga, dia justru yang telah berani bertanggung jawab atas perbuatan bajingan bapakmu itu.”
Aku hanya melempar senyum di tengah ketidaktahuan anakmu perihal cerita kita yang sesungguhnya. Aku memang bukan bapak kandung darinya, tapi saat itu masih dalam kandunganmu, bukankah aku yang selalu ada? Sementara kau hanya seorang janda biasa yang tidak cantik sedikit pun, namun karena ketulusan yang aku miliki apapun kulakukan. Ketika sudah dewasa, ia malah terhasut omongan bapaknya, padahal bapaknya sendiri yang meninggalkanmu. Dia tidak pernah bisa menerima kehadirkanku di rumahmu, bahkan kerap mengusirku, kau tahu sendiri. Sampai, tiga bulan sebelum cucumu lahir ke dunia atau saat ia tengah berbadan dunia, dengan wajah sumringah menyodorkan makan siang kepadaku. Tanpa berpikir panjang, aku melahap nasi dengan lauk tempe dan telur dadar. Lima menit kemudian, tubuhku ambruk ke lantai, ia tersenyum, mau tidak mau aku harus berpamitan.

***

Saat kau membawa cucumu ke sini, kau tidak pernah lupa mengajari tata cara menghormati orang yang sudah meninggal. Kau melarang cucumu menginjak rumah yang menjadi tempat persinggahanku. Kau sering membawa bunga-bunga dan duduk tepekur lagi, cucumu mulai pintar menambur bunga di atas rumahku yang putih. Kalau membawa jajan, kau juga tidak pernah lupa untuk mengajarinya agar mengambil sedikit jajan dan meletakkan di halaman rumahku.
“Orang yang meninggal juga wajib diberi,” tetapi cucumu tidak peduli.
Maklum, ia anak kecil yang tidak paham apa-apa perihal memberi sedikit makanan kepada orang yang sudah tenang di rumah terakhirnya. Namun, tetap kuyakin jika kelak ia akan paham mengapa harus melakukan itu. Setelah dewasa, dengan sendirinya ia akan memberi sedikit makanan saat memegangnya dan kebetulan lewat di rumahku ini. Kalau pun tidak, ia harus menabur bunga-bunga macam tujuh rupa atau apapun asal rumahku wangi semerbak.
Kau masih rutin setiap hari jumat berkunjung ke sini, duduk terpekur di atas kepala batu dan menatap ke arah rumahku. Sejujurnya, aku ingin cepat-cepat kau membangun rumah di sini, agar kita kembali berjumpa dan sepanjang malam bersama-sama. Dengan begitu juga, anakmu yang kerap memarahiku itu akan mengunjungimu ke sini dan aku sudah bisa melihat wajahnya. Entah, hari ini, dia masih saling mencintai dengan Semmang atau tidak, aku ragu. Namun, keberadaan cucumu itu barangkali tambah mempererat hubungan mereka, meski Semmang-sebagaimana yang kita tahu-tidak ada baiknya sama sekali. Ia tidak benar. Ia lelaki yang sudah habis kehormatannya akibat meniduri salah satu saudaranya sendiri. Anakmu tidak tahu perihal itu.
“Nek, puyang,” dengan lidah yang tidak fasih, cucumu mengajakmu pergi dari sini.
Aku tidak bisa menghalangimu dan kau juga tidak akan merasa batapa sedihnya aku ketika kau mulai memunggungiku. Aku tidak bisa menyapamu, masih tidak bisa menyapamu, atau lebih tepatnya kau tidak bisa mendengar sapaanku. Begitu pun, kau tidak akan pernah berbicara dengan kuburan yang sudah menjadi rumah bagiku. Bahkan, saat kau beranjak pulang, hanya punggungmu yang sedikit membungkuk yang bisa kulihat. Beruntung, makanan yang dikasih oleh cucumu masih tetap berada tepat di halaman rumahku. Lumayan, ini bisa jadi makanan siang terakhir, sebelum akhirnya aku harus benar-benar terbang ke langit yang tujuh. Menjauh, menjauh, dan tidak bisa disentuh. Ini tepat hari keseribu aku berpamitan dari rumahmu.

——- *** ——-

Tentang Penulis :
Moh Rofqil Bazikh
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga dan bermukim di Garawiksa Institute Yogyakarta. Menulis di berbagai media cetak dan online antara lain; Tempo, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pewara Dinamika UNY, Balairung UGM, Harakatuna, Alif.id, Tribun Jateng, Minggu Pagi, Koran Merapi, Rakyat Sultra, Bali Pos, dll.

Rate this article!
Makan Siang Terakhir,5 / 5 ( 1votes )
Tags: