Maksimal QRIS, Perbankkan Disarankan Perbanyak Edukasi Keuangan Non Tunai

Wali Kota Malang Sutiaji, saat menghadari peluncuran QRIS Bank Jatim di Ruang Sidang Balai Kota Malang, Selasa 10/3 kemarin.

Kota Malang, Bhirawa
Pekan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang digalakkan Bank Indonesia (BI), harus didukung dengan edukasi keuangan non tunai kepada masyarakat. 
Prof Dr Candra Fajri Ananda SE MSc, pengamat perbankkan, disela – sela acara Pilot Project Implementasi Elektronifikasi Pemerintah Kota Malang Menggunakan Jatimcode QRIS, di Balai Kota Malang, Selasa 10/3 kemarin mengutarakan, program QRIS, merupakan langkah maju perbankkan dalam sistem pembayaran.
“Konsep ini sangat bagus, untuk menyatukan sistem pembayaran. Selama ini pembayaran dilakukan pakai Gopay, Ovo, Dana, LinkAja ataupun Shopee Pay, kini disatukan QRIS, ini sejalan dengan perkembangan teknologi infornasi,”tutur Prof. Candra.
Hanya saja, kata dia problemnya adalah Sumber Daya Manusia, (SDA) masyarakat seperti apa, itu lanjutnya, harus dipersiapkan secara matang. Sehingga program ini gayung bersambut.
Kalau perlu, kata Prof. Candra, saat ini, industri sudah mulai bisa membuat HP yang murah, para pelaku ekonomi tingkat bawah, bisa dibantu atau kalau perlu disumbang peralatanya.
“Solusinya harus ada HP murah, agar kalangan menengah bisa memiliki HP yang murah, karena QRIS ini, bernazis android. Apalagi saat ini pulsa sudah murah, jadi kalau peralatannya disubsidi ini akan lebih baik,”tutur peria yang juga Guru Besar Universitas Brawijaya (UB), ini.
Ini lanjutnya konsep yang sangat efisien  dan efektif cara pembayaran dimasyarakat masa kini. Karena praktis, tidak perlu membawa dompet kemana-kemana.
Sementata itu, Toni Prasetyo Direktiur Teknologi Informasi dan Operasional Bank Jatim,   menyampaikan program ini menjadi salah satu inovasi unggulan untuk mempermudah transaksi pembayaran digital dengan cepat, dan aman. 
“Kami akan terus berinovasi demi mempermudah pelayanan. Melalui Jatimcode QRIS proses transaksi layanan uang elektronik dapat lebih mudah, cepat dan aman untuk diimplementasikan,” ujar Toni.
Untuk mempercepat program ini, ia menyampaikan Bank Jatim terus melakukan edukasi kepada melalui berbagai kegitan, kepada kelompok masyarakat disemua tingkatan.
Sejauh ini sebanyak 5800 merchant se Jatim, dan pada pekan QRIS ia mentargetkan  1700 merchant. Tetapi setelah pekan QRIS, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
Diketahui, saat ini program transaksi non tunai Bank Jatim yang menjadi pilot project sudah ada tiga daerah. Yakni Kabuoaten Banyuwangi, Bondowoso dan Kota Malang.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Azka Subhan Aminurridho menyatakan jika QRIS bukanlah aplikasi, melainkan sistem pembayaran menggunakan barcode yang telah terintegrasi dengan berbagai aplikasi tersebut.
“Ini cara pembayaran non tunai dengan menggunakan barcode. Kalau biasanya, selama ini ketika ada pembayaran pakai OVO aplikasinya juga pakai OVO, demikian juga dengan Gopay dan yang lainnya. Nah, dengan QRIS itu bisa terintegrasi semua meskipun pakai aplikasi apa saja,” tandasnya.
Dibagian lain, Wali Kota Malang, Sutiaji mengatakan sistem ini sebagai salah satu upaya dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Kota Malang. Sasarannya, ekonomi menengah ke bawah. Karenanya, melalui QRIS seakan memberikan jawaban bahwa ekonomi mikro harus kenal dengan hal-hal kekinian.
“Saat ini anak-anak muda, nggak bawa uang kepingin beli pecel, maka sudah bisa pakai barcode. Ini salah satu cara kita ingin menguatkan ekonomi lokal, bagaimana penguatan UMKM di kita nanti bisa lebih meningkat,” jelasnya.
Selain itu, dijelaskannya melalui program ini ke depan kesadaran literasi IT di masyarakat terus dikuatkan. Hal itu seiring dengan program Pemkot Malang menuju Smart City, yang menyasar ke setiap Kelurahan di Kota Malang. Sehingga, hal itu juga menambah literasi di bidang digital kepada masyarakat.
“Kesadaran baik ibu-ibu maupun masyarakat kita berkaitan dengan IT harus dipompa. Seiring dengan program pemerintah Kota Malang Smart City yang kita kuatkan, FO (Fiber Optik) kita sudah sampai ke kelurahan itu kita salurkan ke pasar-pasar. Sehingga tidak ada alasan lagi kita untuk tidak menggunakan digital,”tukasnya. [mut]

Tags: