Malaikat Perempuan yang Hilang dalam Cerita Bangsa

Kartika HidayatiOleh :
Dra Kartika Hidayati, MM
Anggota DPRD Jatim

“Mama was my greatest teacher, a teacher of compassion, love and fearlessness.
If love is sweet as a flower, then my mother is that sweet flower of love.”
Stevie Wonder
Sembari meneteskan air mata. Bersimpuh bernyayi penuh asa. Mengajari tanpa mengenal batas lelah. Selalu ada dikala suka atau duka. Itulah deskrispsi kecil tentang bunda. Sosok yang sudah mengenalkan realita hidup pada kita. Sosok yang selalu memberi, tanpa harap menerima. Sosok yang hadir sebagai pembela pertama, dikala keterpurukan melanda. Sosok yang siap bertaruh nyawa, demi masa depan anak tercinta.
Bagi saya, ibu adalah cermin kecil melihat problematika bangsa. Megareth Teachcer berkata “Any woman who understands the problems of running a home will be nearer to understanding the problems of running a country”.
Seorang perempuan yang paham menjalankan roda rumah tangga, maka dia sudah sangat dekat memahami problem menjalankan bangsa. Abraham Lincoln pun berkata “All that I am, or hope to be, I owe to my angel mother”. (Seluruh yang ada dalam diri saya, impian saya, saya berhutang budi pada ibu saya).  Memang, dialah sosok pembelajar ketidak takutan menghadapi kenyataan. Sosok yang penuh dengan sikap toleran, dan mementingkan kebersamaan dibandingkan kekuasaan.
Ya, itulah realita aksiomatik yang tak bisa dibantah. Sebuah realitas yang disadari hanya setelah dewasa. Realitas yang hadir dan dimiliki oleh orang yang berkesadaran tingkat teratas saja. Sudah banyak ajaran agama yang menyanjungya. Sudah banyak lagu yang meninggikan derajatnya. Sudah banyak ilmu sejarah yang mencatatat perjuangannya. Tapi, orang masih terdiam manakar dan menimbang apa yang dilakukannya. Mungkin, belum mampu menyadarinya, sehingga, hanya sekali dalam setahun memperingati jasanya.
Padahal, kalau mau jujur, bangsa kita harus belajar dari cerita kegigihannya. Dia tidak pernah terpuruk dan bersedih dalam kesesuhannya. Dia selalu membagikan senyuman, untuk dilihat sang buah hatinya. Dia pemberi harapan nyata, dikala orang-orang menggunjing kehidupannya. Ya, bangsa ini, semestinya hadir untuk menjembatani kesedihan rakyatnya. Menyebar sikap optimis meski musibah selalu melanda. Bangsa harus menterjemahkan keadaan dari perspektif sikap optimisme, kisah sayang, dan cinta. Bukan hadir sebagai penguasa yang jauh dari aspirasi rakyatnya. Sama seperti ibu, negara harus menjadi teman dekat yang mendengarkan cerita anaknya. Kendati sejarah enggan kembali menceritakannya.
Cerita bangsa kita memang sedikit memilukan. Secara antropologis, diungkapkan Mukhtar Lubis bahwa, hingga saat ini, habitus orang Indonesia bercirikan pertama cenderung bersikap munafik, yakni tidak samanya antara ucapan dan perbuatan. Kedua, kegigihan atau etos kerja yang lemah. Ketiga, neo-feodalis; sikap yang lebih condong menyenangkan atasan. Dan terakhir, adalah terkikisnya budaya malu. Dalam kehidupan nyata, kita sendiri bisa melihat banyak kepala daerah silih berganti menyambangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Bukan untuk melaporkan korupsi, melainkan karena ditangkap sebagai koruptor. Ada sekian banyak Pengusaha yang menggusur rumah-rumah rakyat tanpa ganti rugi sitimpal, mendapatkan legalitas pemerintah, atas nama pertumbuhan ekonomi. Dan mirisnya lagi, para generasi bangsa tawuran untuk menunjukkan dominasi antara sekolah satu yang lain.
Sebuah realitas yang tidak akan pernah ditransformasikan oleh seorang perempuan (baca; ibu) kepada anaknya. Mari sejenak kita melihat ke pinggir jalanan kota. Meratapi ruang-ruang kecil, yang menyalakan lampunya dan mematikannya kembali, setelah tengah malam tiba. Di dalam ruang itu, ada jutaan ibu yang mengajarkan nilai kebaikan untuk generasi bangsa.
Ada jutaan nyanyian kejujuran, kalau kita dapat diperdengarkan, yang ditanamkan pada anak melalui buku-buku pelajaran sekolah. Ada jutaan rasa optimisme yang ditularkan, untuk menatap masa depan yang lebih baik. Ada kasih sayang dan cinta yang disematkan pada hati buah hatinya, untuk selalu dipegang sebagai prinsip kehidupan sehari-harinya. Sebuah nilai yang tidak mungkin menumbuhkan rasa ingin mendominasi, intoleran, dan berskap deskriminatif.
Sekali lagi, ibu adalah cerita peri – atau malaikat perempuan nyata, yang kemudian hilang tenggelam oleh egocentrisme kebudayaan patriarki. Cerita yang di dalam bangsa kita terwakilkan oleh beberapa gelintir orang saja. Padahal, di era reformasi ini, realitas juga sudah menunjukkan bahwa dibalik orang yang hebat ada sosok perempuan hebat yang mendampingi, menemani, dan memberikan masukan didalam kepenatan. Dialah jelmaan malaikat pembawa inspirasi dan motivasi menuju optimisme tanpa batas.
Menggali nilai ke-ibu-an
Sejenak kita tanggalkan melihat sosok ibu dari perspektif melankolisme. Mari beralih pada paradigma baru yang diyakini masyarakat modern (baca; sains). Secara keilmuan, sifat ibu adalah manifestasi sifat ke-perempuan-an (women virtues). Ilmu psikologi mengatakan bahwa sifat perempuan cenderung mengedepankan kerapian dalam bekerja, keuletan menghadapi masalah, kehati-hatian untuk mengambil keputusan, dan lebih kolaboratif dalam memimpin.
Dalam studi ilmu kepemimpinan, ada logos baru bernama gendered leadership (kepemimpinan berdasarkan jenis kelamin), sebuah studi yang mengkaji bagaimana umumnya seorang pemimpin perempuan menahkodai organisasinya. Di dalam kajian tersebut dinyatakan; ada dua pola berbeda antara pemimpin perempuan dan laki-laki menjadi seorang pemimpin.
Pemimpin laki-laki tend to command and dominate the power (cenderung memerintah dan mendominasi kekuasaan). Adapun perempuan tend to transform and share the power (mentransformasi dan membagi-bagi kekuasaan).

                                                             ————————— *** ————————-

Tags: