Mantan PNS Pemprov yang Cinta Keluarga dan Selalu Pikirkan Rakyat

Para camat di Kabupaten Lumajang membawa foto almarhum Bupati Dr H Sjahrazad Masdar MA dan mengantarkannya ke peristirahatan  yang terakhir di TPU Jogoyudan Kecamatan Lumajang, Sabtu (24/1) siang.

Para camat di Kabupaten Lumajang membawa foto almarhum Bupati Dr H Sjahrazad Masdar MA dan mengantarkannya ke peristirahatan yang terakhir di TPU Jogoyudan Kecamatan Lumajang, Sabtu (24/1) siang.

Kabupaten Lumajang, Bhirawa
Masyarakat Lumajang saat ini tengah berduka. Betapa tidak, sang Bupati Dr H Sjahrazad Masdar MA dipanggil Sang Khaliq pada, Jumat (23/1) malam sekitar pukul 22.45 di Graha Amerta RSU Dr Soetomo. Mantan pejabat Pemprov Jatim ini berpulang setelah berjuang keras melawan vonis sakit kanker paru stadium empat.
Bagi masyarakat Lumajang, sosok almarhum Sjahrazad Masdar merupakan pemimpin rakyat. Proses menjadi Bupati Lumajang dilakukan secara langsung oleh rakyat sesuai dengan amanah konstitusi. Sjahrazad Masdar memperoleh dukungan mayoritas pada Pemilukada langsung pada 2008 lalu dengan menyisihkan tiga rivalnya.
“Saat itu menggandeng Drs Asat Malik MAg, seorang guru Agama di SMA Negeri Lumajang yang dikenal dengan pasangan SA’AT (Sjaharazad Masdar – As’at).  Pada Pemilukada langsung 2008 pasangan SA’AT unggul telak,” kata Ketua DPC PPP Lumajang Jamal Abdullah AlKatiri yang menjadi parpol pengusung kala itu.
Untuk kali kedua pada Pemilukada langsung 2013, pasangan yang diusung dari Partai Demokrat, Partai Amanah Nasional dan Partai Golkar ini kembali membuktikan sebagai pemimpin pilihan rakyat.   Dengan memperoleh suara terbanyak, Masdar kembali memangku amanah sebagai Bupati Lumajang hingga 2018 mendatang.
Pada saat memangku amanah sebagai Bupati Lumajang pada periode pertama 2008 – 2013, Masdar mengusung program prioritas yang sangat pro rakyat. Program tersebut menyangkut bidang pendidikan, kesehatan, pertanian dan pemerintahan.
Di bidang kesehatan, Masdar bersama As’at Malik merealisasikan program ambulan desa, dengan memberikan bantuan mobil ambulan di semua desa di Lumajang. Tak hanya itu,  Masdar juga membebaskan biaya ambulan yang ada di rumah sakit di Lumajang.
Di bidang pemerintahan, almarhum yang juga mantan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Provinsi Jatim ini meletakkan tiga dimensi. Yaitu, dimensi ketuhanan, kepemimpinan dan kedispilinan. Dimensi ini dianggap sangat penting, mengingat jika seluruh aparatur di Pemkab Lumajang mau melaksanakannya dengan baik, pasti akan menjadi aparatur yang profesional.
Berbagai program prioritas yang diusung bupati kelahiran Tanjung Redeb Berau Kalimantan Timur 7 Maret 1950 ini, kemudian dilanjutkan di masa kepemimpinan periode keduanya mulai 2013 hingga 2018 mendatang.
Sayangnya, di tengah usahanya memenuhi beberapa program yang masih belum rampung, Masdar harus berjuang melawan penyakit kanker paru stadium empat yang dideritanya. Mantan Penjabat (Pj) Bupati Jember pada 2005 lalu ini kemudian beberapa kali diperiksa dokter di Jakarta dan Surabaya. Tapi kala itu dokter menyebut Masdar mengidap penyakit jantung.
Kemudian keluarga membawa Masdar ke RS Mount Elizabeth Singapura. “Saat di Singapura itulah Bapak (Sjahrazad Masdar) diketahui penyakitnya. Bahkan saat masih masuk pintu rumah sakit saja, tim medis sudah mengetahui kalau Bapak terkena kanker,” kata putera Sjahrazad Masdar, Syamsiar Aulia Rahman.
Menurut Aulia, pengobatan di RS Mount Elizabeth tidak terlalu lama. Sebab Masdar mengaku tidak kerasan dan ngotot lebih memilih bekerja sebagai Bupati Lumajang. “Baru satu minggu di Singapura,Bapak sudah bilang tidak kerasan dan bilang banyak rakyat yang menanti,” ungkapnya.
Di tengah sakit kerasnya itu, pada awal September 2014 lalu peraih Doktor dari Universitas Gajah Mada (UGM) ini masih sempat memimpin rapat yang diikuti Wakil Bupati As’at Malik, Sekretaris Kabupaten Buntaran Supriyanto, dan seluruh kepala SKPD Pemkab Lumajang. Ternyata, rapat bersama itu menjadi rapat terakhir Masdar karena ia harus menjalani perawat intensif.
“Kami sekeluarga sudah ikhlas. Di mata kami, Bapak adalah sosok yang tegas, disiplin dan juga hangat dalam mendidik anaknya. Beliau sangat cinta keluarga dan mendidik kami dalam kesederhanaan. Satu pesan yang akan selalu kami ingat, yaitu kalian jangan harapkan warisan apapun dari ayah, tapi kalau kalian ingin sekolah di manapun, ayah akan berikan. Itu pesan yang akan selalu kami kenang,” ungkap Aulia.
Kepala Bidang Pelayanan Medis RSU Dr Soetomo dr Joni Wahyudi menjelaskan Masdar menjalani rawat inap di rumah sakit milik Pemprov Jatim sekitar 2 bulan.  Selama menjalani perawatan di Graha Amerta selalu dalam pantauan dokter. “Ya, sudah dua bulan lebih dirawat di Graha Amerta. Selama dalam perawatan, almarhum mendapat perawatan intensif dan terus dipantau dokter,” jelasnya.
Sjahrazad Masdar dimakamkan di TPU Jogoyudan Kecamatan Lumajang, Sabtu (24/1) siang, setelah disalati di Masjid Agung KH Anas Mahfudz. Ratusan orang mengikuti prosesi pemakaman mulai dari Pendapa Kabupaten Lumajang sampai ke TPU. Pelepasan jenazah dipimpin Kepala Bakorwil Malang Edy Santoso, mewakili Gubernur Jatim Dr H soekarwo. [yat]

Tags: