Manusia Lampu Kota

foto ilustrasi

Oleh :
Achmad Al Hafidz

Pram memiliki ganguan psikis yang membuatnya dapat berbicara pada benda mati. Membedakan kenyataan dan menerima kenyataan baginya sulit.
Pria itu menggantung sepanjang malam tidak ada yang tahu kecuali kesunyian membalut dingin tubuhnya di atas tiang lampu yang menyala. Takada yang tahu berapa lama ia bergelayutan diatas sana. Ketika subuh menggema, baru mayat itu ditemukan warga.
***

Pagi itu masih terlalu dini, Pram sendiri tak pernah namanya bangun lebih awal dari ayam berkokok. Apa gunanya kita sarapan pagi? Penyakit manusia terpelajar diperantauan ialah tidur larut saat mata lima watt dan bangun dengan jiwa lelah. Tak ada tenaga tapi kita dituntut untuk sempurna. Pasti kau tak sempat sarapan, kan?
Pagi itu gawainya masih berdering. Seseorang merasa telah memanggilnya berulang kali. Namun yang berdering bukan lain. Malam itu Pram masih merasa pusing. Migrain? Ia selalu menerka-nerka tentang segala apa yang dirasa tidak beres dalam diri hanya dengan gawai pintar yang selalu tergenggam di jemari ini. Tepat di tengkuk kepalanya berdering kencang memikirkan kejadian semalam. Dengan kecanggihan teknologi tidak perlu kita pergi ke dokter atau dukun untuk tahu penyakit, cukup googling kita bisa tahu segalanya. Namun profesi menjadi dokter masih cukup ramai, entah karena orang mudah mengetahui penyakit sebelum dokter atau sekarang tabib sudah tidak laku karena internet, mungkin itulah perbedaan ilmu ilmiah dengan ilmu ger gatuk gumatuk.
Siapa yang bersamanya? Saat lampu kota itu terang benderang hingga semburatnya menampakkan dua sosok ia kenal duduk mendekatkan kepala? “Sungguh tak dapat dipercaya!”
Kemarin malam teman satu kamarnya berderai air mata. Namun ia tahan dengan alas- an agar tidak merepotkannya untuk mengepel lantai yang basah. Apakah harus ia tahan? Teman satu kamarnya takut bila air mata yang tertahan akan membanjiri jiwa temannya. Jika saja lampu kota itu memiliki mulut, sudah pasti ia akan berbicara menjadi saksi.”Aku sudah tahu siapa dia, tetapi aku bisu, Jadi aku diam”
“Mengapa kau dicipta lampu?” tanyaku. Bukankah cahayamu bisa kau redupkan. Tak perlu hatiku tertusuk sperti ini.
“Lalu, mengapa kau membuntuti mereka Saudaraku?”
“Kamu tak punya hati lampu, kamu beruntung tidak bisa berbahasa manusia. Logatmu sekedar isyarat. Hanya ketika kau mulai redup kau minta bohlam-mu diganti.” Aku lupa kamu bisu. Aku lupa berbicara pada siapa didepanku.
“Seharusnya Saudara berterima kasih padaku, pada tukang kebun taman ini yang selalu mengganti bohlam-ku jika mulai redup.”
“Terima kasih?”
“Hei apa kau lupa Saudara. Tanpa diriku hatimu akan lebih tertusuk bila lampu kota yang memberi tahu Saudara sebelum saya. Saudara sudah saya anggap teman.” Seakan lampu itu menyalahkan lampu lain di sekitar taman.
Saya selalu sendirian selama ini. Bahkan sejak Masjid itu belum dibangun, nenek moyangku sudah berada disini. Suatu pagi tahun 1970 tanpa seseorang yang membaca biografi Thomas Alfa Edison duduk dibawah bangku Panjang ini. Saya mungkin tidak bersyukur bahwa telah diciptakan menjadi lampu taman alun-alun. “Bertemulah dengan-Nya, berjalanlah menuju barat dari alun-alun. Berdoa cari petunjuk-Nya.” Sepertinya laki-laki itu malah berjalan menuju parkir lalu pulang entah kemana.
***

Pram menuju kamar, membuka kembali kenangan gambar-gambar tentangnya. Di bawah sorot lampu belajar. Mengenang tiga tahun bersama. Pram menahan tangis supaya tak membanjiri jiwanya. Jiwa? Kudengar jiwa yang sehat adalah mereka yang melatih olah rasa. Ya pepatah Mensana In Corpore Sano artinya di dalam badan sehat ada jiwa yang kuat. Pram baru ingat jika asbaknya penuh, kira-kira 30 batang rokok di sebat. Kukira sejak kejadian semalam rasa bahagianya sedikit pudar. Berdering!!! Ia angkat telepon dari Ibu. Katanya khawatir dengan Kesehatan mental anaknya.
“Jangan lupa minum obatmu Nak.”
” Aku tidak gila Bu, aku waras” diriku yang lain menjawab sementara batas kata yang terucap “Baik Bu” sebab aku tidak berani membantah orang tua. Seakan lampu belajar itu bertanya kembali kabarku. Ia terang, Bagaimana?
***

“Apa kau sudah belajar ikhlas? Setiap malam aku sudah tidak melihatmu membaca buku. Mengapa? Mengapa kau harus menetes air mata di pelupuk pundakmu. Pundakmu pasti lelah, istrahatlah.” Kata lampu belajar yang seakan bicara.
“Jangan lupa redupkan aku, oh ya, aku lupa aku bisu, kan?” tak perlu sedu sedan begitu. Aku menemanimu meski aku juga tuli. Dengar suara jangkrik itu? Merdu seperti angin lalu. Setiap malam kau selalu mendongengkan sumpah serapah pada perempuan itu. Sudah, istirahatkan kata-kata. Telingaku juga bosan mendengar banjir serapahmu.
“Maaf kawan, Pram tak akan membuatmu bising” “Tidurlah” besok kau harus terangi dulu pena dan kertas ini. Pram mau menulis puisi malam nanti.
***

Cobalah bertanya pada Lampu Kota yang melihat pria itu kata lampu belajar. Yang selalu terang setiap gelap datang atau Lampu di depan kampus tepat di Fakultas itu. Sudah pasti ia tahu siapa yang menjemput perempuan itu.
“Apa kau sudah mengambil keputusan?”
“Ia Mantan, kan?”
Sudahlah, semburatmu akan aku redupkan. Lihat jam yang berdetak itu, ini sudah larut. Aku tak mau saat waktu membutuhkanmu. Kamu wafat. Kasihan kata-kataku. “Selamat malam.” Jawabku, sambil berharap Arini memanggilnya.
***

Pagi hari itu, ketika Arini berjalan menuju kampus ke kelas. Ia mengingat malam dimana ia tertidur lelap sehabis membuat laporan. Ada yang berdering namun ia ingat sangat fokus mengerjakan hingga lupa kalau tadi malam Pram menelponnya tepat pukul dua belas ia baru membukanya lalu memanggil balik telepon dari Pram.
Kemarin malam aku sudah mencoba memanggilmu. Tapi tak ada jawaban. Aku sudah membaca tulisan-tulisanmu dari Koran Minggu. Ayah yang selalu menaruhnya tepat di meja ruang tamu.”Begitukah kamu memperhatikanku, Pram?”
Meskipun tak kau selipkan nama Sukab dari penulis yang kamu ceritakan saat kita duduk di lorong kampus itu. Ya, Seno Gumira Aji apalah, sepertinya aku lupa Pram, maaf ya. Aku kembali mengingat saat kita berdua bersama walau hanya sekedar tawa. Sekarang aku sadar kau mencintaiku, Pram.
Meskipun tak ada senja yang kau berikan padaku lewat secarik kertas. Aku tahu maksudmu. Jawab, tolong jawab, Pram. Maafkan aku sebab aku harus menaati perintah orang tua. Aku sudah diikat dalam kandang yang tak jelas burung jantan siapa yang menanti dibalik jeruji bilah bambu itu, Pram. Melalui pesan suara ini aku harap kamu mau menemuiku di tempat biasa. Di bawah Lampu Taman alun-alun. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Lalu Arini melapas jari dari voice note Wa-nya
***

Perlahan semua berlalu seperti angin yang berhembus membawa kering dan dingin dari Australia. Namun bayanganmu masih menggerutu dibalik mendung yang menggantung di bulan juli dan tak jelas musimnya. Cerita-cerita yang aku tulis hanya untuk mengenang saat kita bersua kembali remaja sedia kala. Padahal kita dewasa?
Lewat sepucuk kembang randu yang kuncup. Hatiku jatuh ke bawah dengan seutas tali tambang melingkar di leherku. Maaf aku tak menjawab panggilan itu. Coba tanyakan Lampu Kota itu. Ia tahu pria telanjang yang menggantung tepat tengah malam sunyi. Dan orang-orang lokal tidak tahu siapa pria itu kecuali ia, perempuan itu, dan Lampu Kota.
Keesokan harinya para warga mengerumuni alun-alun itu. Mereka bercanda, ada yang jualan sate malah laris, jualan balon, pecel, dan tetek bengek lainnya. Untung pengarang itu telah mati tepat hari minggu dimana ceritanya sempat terbit dengan judul yang sama tragis persis dengan dirinya yang menggantung. Sudah terlanjur, orang-orang sudah tidak peduli membaca. Sementara, untuk yang simpati pada pria yang bergantung itu mereka hanya menangis. Menangis untuk apa? Sebab cinta pria itu hampir tersampaikan, justru ia lebih memilih mengakhiri hidupnya.
***

*ger gatuk gumatuk- dalam jawa orang sering mengaitkan sessuatu dengan peristiwa atau pengalaman yang terjadi.
*tetek bengek- masalah kecil.

Tentang Penulis:
Achmad Al Hafidz.
Lahir 14 Oktober 1999. Karya prosanya bisa ditemukan di Radar Bromo dan Harian Fajar Makasar, bermukim di Pati.

——– *** ———–

Rate this article!
Manusia Lampu Kota,5 / 5 ( 2votes )
Tags: