Marak Gangster Pelajar, Penanganan Hulu-Hilir Harus Tepat dan Berkelanjutan

Puluhan remaja terduga gangster digelandang di Mapolrestabes Surabaya.

Surabaya, Bhirawa
Aksi gangster dalam beberapa hari ke belakang di Kota Surabaya makin marak. Sontak kabar itu membuat gempar banyak kalangan dan membuat keresahan masyarakat.
Melalui video singkat yang beredar, viral aksi gangster memamerkan senjata tajam. Hasil razia tim gabungan juga telah menemukan anak-anak muda membawa keluar malam membawa senjata tajam.
“Saya pun menerima pengaduan masyarakat perihal itu ya, jadi ada kekhawatiran ketika keluar malam hari,” ujar Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Reni Astuti, Minggu (4/12).
Sebagai tindak lanjut, Pimpinan Dewan itu juga berkomunikasi dengan Wali kota dan Kapolrestabes Surabaya. “Prinsipnya, Pemerintah Kota bersama Polrestabes terus berupaya untuk menjadikan Surabaya ini kota yang tertib dan aman, operasi gabungan dari unsur Pemkot, TNI/Polri, Ormas tadi malam juga mulai dilakukan,” ungkapnya menenangkan.
Menurut tokoh perempuan Surabaya itu, sebagai solusi berkelanjutan maka penanganan hulu dan hilirnya harus tepat. Apa motif pelaku, problem sosial harus dicermati. Langkah preventif dan edukasi perlu dilakukan selain pendekatan hukum bila dirasa meresahkan dan membuat onar.
“Agar kejadian tidak muncul tenggelam, maka harus diketahui betul penanganan secara hulu dan hilir. Jadi anak-anak yang sudah dirazia itu sekolah di mana, bagaimana latar belakang keluarganya lalu motivasinya apa,” paparnya.
Reni juga mendorong Pemkot terus beri perhatian pendidikan dan kesejahteraan kepada warga rentan problem sosial. Penguatan peran keluarga juga harus jadi perhatian.
“Jangan sampai pelaku dan keluarganya belum tersentuh program pendidikan, sosial dan kesejahteraan dari pemerintah kota. Lurah dan Camat harus mengenali bab ini, dan segera ambil langkah,” tegas Reni.
Bagi legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, partisipasi masyarakat juga menjadi elemen penting untuk kerja sama menciptakan suasana kondusif.
“Kita juga mendorong pelibatan masyarakat secara aktif, lapor kejadian ke Call Center 112 dan untuk penanganan hindari bentrok fisik sesama warga, percayakan pada petugas kepolisian, TNI dan aparat pemkot,” pungkasnya.
Pimpinan dewan ini optimis, dengan kebersamaan seluruh pihak dan didukung oleh gotong royong masyarakat maka Surabaya optimis bangkit menjadi kota maju aman dan nyaman. “Kita bersama Jogo bareng Suroboyo, dengan itu maka kita optimis bahwa Surabaya akan lebih tertib. aman dan nyaman,” tuntasnya.

Perketat Pengawasan
Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Wahid Wahyudi mengimbau, orang tua siswa di Surabaya agar memberikan pengawasan yang lebih ketat kepada anak-anaknya, untuk tidak keluar rumah apabila tidak ada kepentingan yang jelas.
“Beberapa hari yang lalu sejak saya mendapatkan informasi tentang adanya rencana munculnya gengster ini, saya sudah perintahkan kepada para kacabdin agar melakukan koordinasi dengan para kepala SMA/SMK untuk menghimbau orang tua agar melakukan pengawasan lebih ketat kepada putra-putrinya. Jika tidak ada kepentingan jelas maka jangan keluar rumah,” tegas Wahid dikonfirmasi Bhirawa, Minggu (4/12).
Ditegaskan Wahid, hingga saat ini pihaknya beluk menerima laporan jika ada siswa SMA/SMK di Surabaya yang terlibat. Meski begitu, imbauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi keterlibatan siswa dalam aksi gangster ini. “Saya belum dapat laporan,” tegasnya.
Sementara itu, menurut dosen Prodi Sosiologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Sugeng Harianto MSi, munculnya tawuran antar gangster di Surabaya menjadi fenomena yang cukup mengejutkan. Sebab, selama ini fenomena gangster hanya ditemukan di Jakarta dan sejumlah daerah di Jawa Barat.
Sugeng menilai, tawuran antar gangster yang terjadi di Surabaya ini merupakan salah satu permasalahan sosial. Dalam konteks ini adalah kenakalan remaja yang terjadi di masyarakat, khususnya masyarakat di kota besar seperti Surabaya.
Menurutnya, gangster merupakan sub kebudayaan menyimpang yang dikembangkan dan dilakukan oleh anak-anak usia muda. Mereka membentuk in group (kelompok dalam). Sugeng menyebut, sub kebudayaan menyimpang yang dilakukan gangster boleh merupakan resistensi terhadap kondisi masyarakat yang senjang dan tidak adil.
“Anggota gangster ini boleh jadi berasal dari strata sosial bawah, yang sehari-hari hidup di tengah-tengah kemiskinan orang tua dan masyarakat sekelilingnya. Mereka sudah bosan menyaksikan masyarakatnya yang senjang, tidak adil, dan miskin,” ungkapnya.
Ia mengatakan, munculnya gangster bisa dilacak akarnya pada struktur sosial masyarakat itu sendiri. Misalnya saja seperti masyarakat Surabaya yang tidak bisa dipungkiri dengan adanya kesenjangan sosial dan ekonomi. Sugeng menilai, mereka menjadi bagian dari masyarakat yang mengalami marginalisasi.
“Mereka adalah kelompok masyarakat yang pesimistis menatap masa depan. Masa depan yang sejahtera bukan milik mereka. Mereka merasa terpinggirkan. Meskipun struktur masyarakat bersifat terbuka, namun mereka pesimistis bisa melakukan mobilitas sosial. Berbagai saluran mobilitas sosial seperti pendidikan dan pekerjaan seolah-olah menutup akses mereka,” bebernya.

Bonek Siap Bersama Aparat
Fenomena gangster mulai dikeluhkan warga Kota Surabaya. Sebab, beberapa pekan terkahir gerombolan anak muda ini meneror dengan membawa senjata tajam (sajam) dan tak segan melukai.
Hal ini juga dikeluhkan aktivis perempuan Jatim kelahiran Surabaya, Siti Rafika Hardhiansari, Minggu (4/12). Perempuan yang juga seorang Bonita ini mengaku prihatin lantaran gangster ada yang mengira adalah Bonek.
“Adanya gangster akhir-akhir ini sangat meresahkan warga Surabaya. Sebagai seorang Bonita, bagi saya yang lebih memprihatinkan lagi ada yang mengira bahwa Gangster itu Bonek,” katanya.
Rafika yang sudah melalang buana menjadi fans Bajul Ijo ini menegaskan bahwa Bonek tidak ada yg ikut Gangster. “Karena Bonek Cinta Surabaya dan Bonek cinta perdamaian,” tegasnya.
Bahkan, lanjut dia, Bonek selama ini sering berpartisipasi ikut membantu Pemerintah Kota Surabaya dan aparat keamanan untuk membasmi Gangster yang meresahkan kota kelahirannya.
“Pak Wali Kota Surabaya Sabtu malam (kemarin, red) menyampaikan Ajakan ayo Arek-arek Suroboyo kita bangkit bersama melawan Gangster dan Bonek-bonek Surabaya terbukti mulai tadi malam tampak ikut berpatroli membasmi Gangster bersama Para aparat kepolisian dan Pemkot Surabaya,” terangnya.
Menurut Rafika, dalam kasus tawuran dan Gangster yang marak di Surabaya ini justru peran orang tua sangat dibutuhkan. Dengan cara melarang anak-anaknya untuk keluar malam hari.
“Dan yang lebih penting lagi memberi edukasi akan pentingnya kerukunan dan persaudaraan antar sesama serta tidak ada manfaat dari perkelahian yang justru merugikan diri sendiri jika sampai terjadi luka-luka,” jelasnya.
Rafika pun mengajak kepada semua warga Surabaya untuk bersatu melawan Gangster dan tawuran di Kota Surabaya. “Agar Surabaya kita kembali menjadi Kota yang aman, damai, tentram serta nyaman untuk warga Kota Surabaya,” pungkasnya. [gat.ina.geh]

Tags: