Marcon dan Tesis Huntington

Oleh :
Umar Sholahudin
Dosen Sosiologi FISIP Univ. Wijaya Kusuma Surabaya, Mahasiswa S-3 FISIP Unair, Surabaya

Pernyataan rasisme dan kebencian Presiden Prancis Emmanuel Marcon terhadap Islam, telah mmenimbulkan gelombang dan aksi protes ummat Islam di selruh dunia. Aksi protes tidak sekedar diwujudkan dengan aksi unjuk rasa besar-besaran, tetapi lebih dari itu, dengan gelombang dan gerakan boikot produk-produk Prancis, terutama di negara-negara muslim di seluruh dunia. Akibatnya, banyak saham perusahaan Prancis di negara-negara musim langsung anjlok dan produk-produknya jadi sampah masyarakat. Saat ini, Marcon menjadi musuh bersama (common enemy) negara-negara dan ummat muslim di dunia. Salah satu pernyataan paling keras datang dari Presiden Turki Erdogan, yang mengatakan, Marcon tidak saja psikopat atau sakit mental, tetapi juga pernyataan Marcon dapat menyulut api perlawanan ummat Islam di dunia.

Sebelumnya, pada 16 Oktober 2020, dalam sebuah diskusi di sekolah, atas nama kebebasan berkespresi, seorang guru sejarah di Prancis, Samuel Paty menunjukkan dua kartun Nabi Muhammad yang diterbitkan majalah satire Charlie Hebdo kepada murid-muridnya. Penggunaan kartun nabi ini menimbulkan kontroversi dan kemarahan. Karena tak merasa berasalah atas tindakannya yang menghina Nabi Muhammad, Paty dibunuh oleh seorang pemuda (18 tahun) asal Chechnya, Abdullah Anzorov, dan kemudian sang pelaku langsung ditembak mati polisi setempat. Atas kejadian ini, Marcon langsung berkomentar, bahwa ini adalah serangan teroris islam, dan menuduh muslim bertindak sparatis. Bahkan Marcon membela dan mendukung Charlie Hebdo yang mempublikasikan kartun Nabi Muhammad, yang dinilainya sebagai bagian dari kebebasan berekspresi.

Penghinaan terhadap Islam dan ajaran Islam sebenarnya bukan kali pertama terjadi di Prancis. Prancis adalah salah satu negara di Eropa yang menerapakan kebijakan sekuralisme. Pada tahun 2011, dan 2014, atas nama kebebasan berekspresi, Charlie Hebdo juga pernah mempublikasikan kartun penghinaan yang sama dan menimbulkan reaksi keras dari ummat muslim di seluruh Dunia. Bahkan saat itu, akibat publikaasi kartun yang menghina nabi Muhmmad, Charlie mendapat serangan balik dri sekelompok orang yang kemudian menewasakan 12 orang. Sebanyak 40 tokoh dan pemimpin negara saat itu ikut ambil bagian dalam aksi menentang tindakan kekerasan tersebut yang dianggap sebagai tindakan terorisme. Efek lanjutnya muncul kembali Islamophobia di Barat. Islam dijadikan sasaran dan dianggap menjadi ancaman serius Barat

Gelombang aksi protes terus meluas dan membesar bagaikan bola salju Tentu, kondisi itu harus dipandang secara menyeluruh. Tanpa ada asap kalo tak ada api. Api pemantiknya adalah kelakuan Charlie Hebdo dan Presiden Marcon yang kerapkali menyerang dan menghina Islam atas nama kebebasan berekspresi. Atas nama HAM; kebebasan bereksekpresi; sudah beberapa kali majalah satir ini memuat gambar-gambar karikatur yang melecehkan Nabi Muhammad dan ummat Islam. Meskipun diprotes dunia Islam, tidak menyurutkan Charlie Hebdo untuk terus mempublikasikan kartun-kartun penghinaan tersebut. ummat agama apapun, termasuk muslim, memiliki hak atas sistem kepercayaan, agama, dan simbol-simbol agama. Pelecehan, penghinaan, olok-olok secara terang-terangan dan terus menerus tak dapat diterima.

Tesis Huntington

Saat ini gelombang dan aksi protes dari ummat muslim di dunia terus berkembang lintas batas wilayah negara dan terus menekan Prancis. Agama dan simbol agama adalah sebuah keyakinan yang paling fundamental bagi setiap ummat, termasuk ummat Islam di dunia. Jika keyakinan ini diusik apalagi dihina, maka akan menimbulkan sentimen kolektif dari ummat Islam. Bahkan ada orang yang berani mati karena agamanya. Menjadi pelajaran bersama, jangan sekali-kali menganggu, apalagi menghina keyakinan, agama, dan simbol agama manapun. Kebangkitan kesadaran dan identitas kultural mengingatkan kita tentang tesis Samuel Huntington (1996) dalam bukunya The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order tentang berkembangnya kesadaran peradaban non barat, termasuk Islam (civilization conconsciousness).

Salah satu tesis Huntington adalah, tentang Berkembangnya Kesadaran Peradaban. Huntington mengatakan bahwa semakin berkembangnya kesadaran-peradaban (civilization conconsciousness) akibat peran ganda dunia Barat; di satu sisi dunia Barat sedang berada dalam puncak kekuasannya, di sisi lain, sebagai reaksi balik atas hegemoni Barat tersebut, kembalinya masyarakat non-Barat pada akar peradabannya. Bangkitnya kesadaran dan identitas kultural salah satunya tak lepas dari hegemoni dan perlakuan tidak adil Barat terhadap dunia Islam. Perlakuan Israel dan dunia Barat terahdap Palestina, termasuk eksploitasi sumber daya alam oleh perusahaan-perusahaan asing di bumi negeri muslim (termasuk Indonesia) yang menjadikan negeri muslim menjadi “sapi perahan” negara asing.

Pernyataan Marcon tersebut, semakin menyulut api permusuhan dan perlawanan ummat Islam di dunia terhadap Prancis. Menurut Huntington, pernyataan Marcon semakin menguatkan semangamat komunalisme yang terjadi pada kelompok keagamaan, yakni Islam. Kelompok keagamaan Islam tak sekedar bersifat komunal, tapi juga berisifat solidaritas keagamaan yang dipersamaan dengan kondisi kultural dan identitas sektarianisme. Merebaknya komunalisme agama semakin menegaskan ada dan bangkitnya identitas kultural. Masing-masing komunalisme agama seringkali memiliki perbedaan yang diametral. Huntington tidak melihat perbedaan idiologi yang menjadi pemicu konflik peradaban antara Barat dengan non-Barat, tetapi yang lebih dominan adalah perbedaan kultural yang meluas atau peradaban. Meluasnya kesadaran Identitas kultural di negara-negara Barat dan non Barat yang awalnya muncul pada tingkat komunitas yang lebih kecil dengan jangkauan territorial yang terbatas, kemudian saat ini bergesar begitu cepat menuju identitas yang lebih luas pada tingkat komunitas yang lebih besar dengan jangkauan teritorial yang lebih luas.

Ketegangan Prancis dengan negeri-negeri muslim dalam kasus penghinaan kartun nabi dapat diredakan, jika Marcon meminta maaf kepada ummat muslim sedunia dan selanjutnya perlu dilakukan dialog yang konstruktif dengan saling dan penuh penghormatan serta kaasih sayang antara Prancis dengan dunia Islam. Perbedaan (dalam berbagai hal, baik terkait dengan agama, identitas kultural atau yang lainnya), terutama yang dikhawatirkan Huntingtoon perbedaan peradaban yang berbasis agama sejati seharusnya menyadarkan umatnya bahwa meskipun berbeda dalam banyak hal, kita bisa saling bekerja sama guna mewujudkan sebuah tata dunia yang lebih toleran terhadap perbedaan. Dialog antaragama Asia-Eropa di Denpasar (21-22 Juli 2005) misalnya merupakan langkah positif dan konstruktif untuk mengurangi ketegangan dan perbedaan yang berpotensi melahirkan perselisihan atau konflik. Setiap penganut agama dan negara wajib menghormati keragaman dan keyakinan agama masing-masing. Dan HAM tidak bisa dijadikan dalih dan justifikasi bagi setiap orang atau pemimpn negara manapun untuk menghina keyakinan dan simbol-simbol agama manapun, termasuk Islam.

————— *** —————-

Rate this article!
Tags: