Masa Liburan dan Menakar Potensi Bencana

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya 

Liburan makin dekat bersamaan dengan liburan sekolah, berbagai persiapan tengah dilakukan baik persiapan fisik, mental, finansial hingga sikap antisipatif atas sederet bencana yang dapat sewaktu-waktu timbul seiring dengan memasuki tren meningkatnya musim hujan. Di tengah peningkatan fasilitas infrastruktur berupa pembangunan dan pengembangan bandara, percepatan pembangunan jalur kereta api di berbagai wilayah diluar Jawa serta pembangunan jalan tol secara masif di era Presiden Joko Widodo tentu akan berpengaruh terhadap mobilitas dan kemudahan akses transportasi darat. Namun dibalik kemudahan tentu terdapat beberapa potensi ancaman atas kenyamanan dan kemudahan bagi publik dalam mengisi libur panjang, antara lain : pertama, meningkatnya resiko kecelakaan. Keberadaan jalan raya dan jalan tol tentu berdampak pada bertambahnya volume kendaraan, perilaku pengendara yang cenderung akan menambah kecepatan sehingga berresiko terjadi kecelakaan.
Di sisi lain, seiring dengan memasuki musim hujan tentu kondisi cuaca sangat berpengaruh pada aktivitas perjalanan. Situasi jalan yang kian padat bahkan acapkali dihantui kemacetan panjang. Hal ini sangat wajar mengingat peningkatan jumlah kendaraan yang sangat signifikan, parahnya kendaraan didominasi oleh kendaraan pribadi sehingga akan berimplikasi terhadap aspek kenyamanan bahkan acapkali terjadi stres. Tragedi Brebes Exit beberapa tahun lalu adalah contoh bagaimana akses tol yang belum dikelola secara komprehensif. Kedua, resiko timbulnya bencana lingkungan dapat berupa banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan ancaman gunung meletus. Secara umum akhir-akhir ini disejumlah wilayah didera berbagai bencana alam sehingga masyarakat membutuhkan sistem kewaspadaan dini (early warning system) terhadap setiap timbulnya bencana.
Manajemen resiko dan tindakan antisipatif sangat diperlukan sebelum memutuskan untuk mengisi liburan dengan berwisata misalnya. Saat ini lokasi wisata yang berbasis alam memiliki resiko tinggi terhadap timbulnya bencana sehingga dibutuhkan lokasi alternatif lain yang representatif, aman dan nyaman. Ketiga, mengenali kondisi kesehatan tiap-tiap individu. Bagi sebagian besar masyarakat tentu riang dalam memanfaatkan libur panjang dengan berwisata, namun tidak semua memahami bahwa tiap-tiap jiwa berbeda status atau derajat kesehatan. Kelompok rentan seperti bayi, balita, anak-anak, ibu hamil dan kaum lanjut usia tentu memiliki resiko jatuh sakit yang lebih besar jika dibandingkan dengan kelompok usia dewasa dan produktif yang relatif memiliki daya imunitas yang cukup. Kondisi ini sangat berpengaruh pada ancaman gangguan kesehatan setiap saat.
Kesiapan Dini
Dalam berwisata diperlukan persiapan baik kondisi fisik, psikis, sosial dan ekonomi. Kondisi fisik jelas merupakan persyaratan utama sebelum melakukan perjalanan wisata. Bagaimana memperoleh kenyamanan bila kesehatan terganggu misalnya, bahkan menjadi beban bagi keluarga serta berdampak serius bila dipaksakan. Kondisi psikis juga menjadi faktor pendukung agar makna wisata dapat dirasakan dan dinikmati bersama orang-orang tercinta. Selain itu juga tak boleh diremehkan adalah kondisi sosial ekonomi dimana berwisata dilakukan secara bersama-sama minimal dalam satu keluarga hingga diperlukan modal dalam bentuk kecukupan anggaran sehingga jangan sampai pasca wisata justru semakin cekak kantong yang berpengaruh memburuknya pada finansial keluarga. Apalagi kebutuhan atas transportasi, penginapan (hotel), pusat perbelanjaan, kerajinan, oleh-oleh dan sebagainya yang kian tak dapat dihindari ketika berwisata.
Perbekalan baik makanan dan minuman serta pakaian juga dipersiapkan agar terjaga dari resiko dampak penularan penyakit dalam mengkonsumsi makanan atau jajanan bahkan keracunan makanan-minuman instan. Biasanya yang perlu diwaspadai dalam mengkonsumsi makanan minuman di area wisata adalah jaminan kebersihan, masakan tidak fresh, tingginya bahan tambahan pangan seperti tinggi lemak, garam maupun gula. Selain itu juga dapat terhindar pengeluaran biaya yang lebih besar akibat mengkonsumsi makanan yang kurang memenuhi syarat sehat, aman dan halal berbagai bahan pangan. Semoga dengan memahami potensi gangguan bencana alam juga terhindari dari setiap potensi problematika kesehatan terutama makanan dan minuman serta dapat menikmati liburan dengan nyaman, aman dan riang gembira. Ibarat ponsel yang kembali di-charge sehingga energi dapat pulih sehingga dapat melanjutkan aktivitas kerja kembali.

———- *** ———–

Tags: