Masyarakat Anggap Pileg Tak Istimewa

Pandri saat menjalani aktivitasnya mencari pasir dan batu di Sungai Brantas di wilayah Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. [cyn/Bhirawa]

Pandri saat menjalani aktivitasnya mencari pasir dan batu di Sungai Brantas di wilayah Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. [cyn/Bhirawa]

Kab Malang, Bhirawa
Pelaksanaan pencoblosan untuk memilih calon legislatif (caleg), baik memilih anggota DPD, DPR RI, DPRD Provinsi  maupun DPRD kabupaten/kota, yang kurang dua hari lagi, yakni pada 9 April 2014. Namun hal itu ditanggapi dingin oleh sebagian masyarakat. Sebab, sebagian warga menganggap pemilu legislatif (pileg) tidak ada yang istimewa di mata mereka.
“Saya ini sudah wareg (kenyang) dalam memilih presiden maupun memilih caleg, namun hingga saat ini tidak ada perubahan yang berarti bagi masyarakat miskin seperti saya ini. Sehingga setiap pesta demokrasi di negeri ini khususnya pileg, bagi saya tidak ada yang istimewa. Karena para caleg banyak janjinya, dan setelah terpilih menjadi anggota dewan, janjinya lupa,” ungkap salah satu pencari pasir di Sungai Brantas, warga Kecamatan Dau, Kabupaten Malang Pandri (65), Senin (7/4), kepada Bhirawa.
Menurut dia, para caleg selalu memberikan harapan kepada masyarakat, tapi nyatanya setelah duduk di kursi dewan rata-rata mereka lupa dengan janjinya. Bahkan, mereka ketika berpapasan dengan rakyatnya yang memilihnya tidak menyapa, dan cenderung tertutup.
Sehingga hal tersebut membuat ketidakpercayaan kepada para caleg. “Jadi masyarakat seperti saya ini tidak begitu semangat untuk memilih caleg. Namun, saya tetap wajib untuk memilih caleg, tapi sesuai dengan hati saya, yang tidak karena janji caleg,” kata Pandri.
Pandri mengaku, ada beberapa caleg sudah mendatangi dirinya untuk meminta dukungan, agar pada hari pencoblosan untuk memilih dia. “Mereka juga berjanji akan memberikan uang, serta akan memperbaiki rumah saya jika mencoblos namanya. Tapi saya tolak tawaran mereka. Meski saya miskin, tapi saya masih punya nurani dalam menentukan pilihan di pileg,” ujarnya.
Selain caleg menawarkan uang dan memperbaiki rumah, kata dia, juga ada caleg yang menawarkan pekerjaan yang lebih baik, jika dibandingkan pekerjaan yang sudah puluhan tahun dilakoni, yakni mencari pasir dan batu di Sungai Brantas.
“Caleg tersebut tidak hanya menawarkan pekerjaan pada saya saja, namun juga ditawarkan ke warga yang lainnya. Seperti ada yang dijanjikan akan diberikan modal usaha, hingga dijanjikan masuk tenaga honorer di lingkungan lembaga pemerintah,” kata dia.
Secara terpisah, Ketua Institut Demokrasi (ISD) Malang Ruhadi Rarundra mengatakan, apatisme masyarakat dalam memilih caleg, karena masyarakat banyak dibohongi dengan janji para caleg. Sehingga hal itu telah membuat ketidakpercayaan masyarakat, dan tidak jarang masyarakat pun enggan untuk tidak memilih atau mencoblos alias golput. Tidak jarang pula, para caleg dalam mencari simpati masyarakat dengan berbagai strategi termasuk menggunakan cara-cara yang tidak terpuji yaitu menggunakan money politic.
“Meski sebagian caleg menyebar uang kepada masyarakat agar mau memilih mereka, namun masyarakat kini sudah pintar dalam menggunakan hak politiknya. Sehingga masyarakat saat ini sudah tidak lagi dapat dibohongi oleh para caleg, dan caleg yang banyak mengumbar janji malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Sebab hal itu dianggap tidak bisa mewakili masyarakat, jika terpilih menjadi anggota dewan. Dan dipastikan juga akan berpotensi melakukan korupsi,” paparnya. [cyn]

Rate this article!
Tags: