Materialisme dan Moralitas Pendidikan

Oleh :
Muhammad Rajab
Direktor of Ma’had and Islamic Studies, Tazkia International Islamic Boarding School, Malang

Materialisme merupakan salah satu aliran filsafat yang dipelopori oleh Karl Marx. Aliran ini yang menjadikan ekonomi sebagai basis dalam setiap sendi kehidupan manusia. Bagi seorang materialis ekonomi atau uang adalah segalanya. Sebagai pelopor materialisme karl Marx menemukan bahwa sepanjang sejarahnya manusia memang hidup di wilayah material yang nyata dalam rangka melakukan aktualisasi kebutuhan ekonomi.
Namun bagaimana jika paham materialisme ini diterapkan dalam pendidikan kita?. Secara sekilas saya jelas tidak sepakat jika filsafat materialisme dijadikan sebagai dasar atau pondasi untuk membangun pendidikan di Indonesia. Pasalnya, jika paham ini dijadikan sebagai basis pembangunan pendidikan maka akan dapat merusak nilai-nilai dari tujuan pendidikan sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang Sikdisnas No. 20 tahun 2003, bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan
Aspek spiritualitas dan moralitas diletakkan pada urutan pertama dari tujuan pendidikan di atas. Itu artinya pendidikan moral harus menjadi prioritas utama sebelum pembentukan aspek lainnya, seperti intelektualitas dan keterampilan. Di antara problematika yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah krisis multidimensi, termasuk di dalamnya krisis pendidikan yang menimbulkan kebodohan dan rusaknya moral bangsa.
Kerusakan moral yang terjadi di berbagai tempat di tengah-tengah lapisan masyarakat dari masyarakat bawah hingga atas merupakan dampak dari bobroknya pendidikan dan paham yang salah dalam pendidikan. Paradigma pendidikan yang ada pada mereka adalah paradigma pendidikan barat yang materialistik. Sementara itu, pendidikan materialistik terbukti telah gagal melahirkan manusia beradab yang sekaligus menguasai iptek.
Sebagai bukti kongkrit adalah munculnya para pejabat yang koruptor dan berani memakan harta rakyat. Padahal mereka telah menempuh berbagai macam jenjang pendidikan. Bukanklah mereka adalah orang yang berpendidikan?. Tapi kenapa perilaku mereka tidak menampakkan nilai-nilai moralitas. Bukannya pendidikan menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas tersebut.
Paham materialisme yang masuk pada pendidikan kita juga telah merusak pikiran anak bangsa. Banyak siswa atau pelajar yang belajar di sebuah lembaga, khususnya di Perguruan Tinggi hanya berorentasi pada pekerjaan. Mereka lupa terhadap tujuan pendidikan yang sebenarnya. Mereka bangga hanya dengan mendapatkan sertifikat kelulusan walaupun pada hakikatnya ilmu yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan ijazah atau sertifikat yang mereka terima. Sehingga lahirlah manusia-manusia yang hidupnya hanya untuk uang. Akibatnya, mereka bekerja tidak pernah memperhatikan apakah hasil yang dicapai dari hasil yang halal atau haram.
Fenomena yang sangat parah dan marak terjadi di masyarakat kita saat ini adalah para bapak dan ibu menyekolahkan anak mereka hanya berorentasi pada pekerjaan semata, tanpa memperhatikan nilai-nilai pendidikan yang sesungguhnya. Ukuran keberhasilan pendidikan bagi anaknya bukan lagi perbaikan tingkah laku, keilmuan dan bukan pula kualitas yang diperolehnya, itu bahkan jarang terpikirkan. Tetapi yang ada adalah anggapan setelah menjadi sarjana anak memperoleh pekerjaan sesuai dengan tingkat pendidikannya. Yaitu pekerjaan yang akan segera memperoleh sejumlah uang yang diharapkan. Bila perlu, dengan jalan apapun ditempuhnya untuk segera memperoleh lapangan kerja yang diinginkan.
Pergeseran Nilai
Tujuan pendidikan bergeser dari nilai mulia, ilmu, terampil, cendikiawan, akhlak terpuji, menjadi tujuan jangka pendek, yaitu mencari pekerjaan dan pada akhirnya adalah untuk uang. Akibat dari tujuan pendek inilah kemudian muncul pemalsuan nilai ijazah, transkip, NEM, skripsi dan lainnya seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Semua itu dilakukan sebagai jalan pintas bagi seorang calon sarjana untuk memenuhi persyaratan pasar pekerjaan dan bagi orang tua siswa untuk memenhuhi persyaratan memasuki pendidikan yang dinginkan. Manipulasi seperti ini adalah termasuk pelecehan terhadap dunia pendidikan.
Tindakan di atas juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan mental anak menjadi mental uang, apalagi setelah didukung dengan sistem pendidikan materialistik yang mengabaikan nilai-nilai agama dan nilai-nilai normatif serta nilai-nilai moralitas. Yang diberikan kepada siswa hanya pendidikan yang bisa mengantarkan siswanya supaya mudah mendapatkan pekerjaan, sehingga moral para siswa jauh dari tingkah laku yang beradab. Paradigma pendidikan seperti ini merupakan salah satu paradigma pendidikan barat yang materialistik. Karena ciri khas pendidikan barat adalah konsepsi egoistik (how to be) dan konsepsi materialistik (how to do).
Padahal seharusnya tidak hanya dua pilar tersebut, akan tetapi semua pilar pendidikan hendaknya dapat menjadi tujuan utama dalam membetuk pribadi peserta didik. Adapaun pilar-pilar pendidikan tersebut adalah how to be (belajar untuk membentuk diri), how to do (belajar untuk berbuat) , how to lern (belajar untuk belajar) dan how to life together (belajar untuk hidup bersama).
Selain itu, pendidikan yang materialistik juga memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta mengingkari hal-hal yang bersifat non materi. Bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam oleh orang tua siswa. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan, atau apapun yang setara dengan materi.
Paradigma pendidikan seperti ini yang akan merusak moral bangsa Indonesia. Sehingga mayoritas penduduk bangsa ini menjadi amoral dan jauh dari nilai-nilai mulia pendidikan, moralitas dan agama. Akhirnya, dengan mudah bangsa-bangsa luar menjajah dan mempermainkan bangsa kita. Buktinya, penetrasi budaya luar dengan mudah masuk di negara kita yang notabene “Barat”. Ini semua akibat hilangnya nilai-nilai mulia pendidikan dari bangsa kita.
Untuk mengembalikan keadaan ini diperlukan adanya perubahan paradigma pendidikan. Dari paradigma pendidikan barat yang materiastik menuju paradigma pendidikan moralistik. Karena inilah yang akan mengangkat derajat bangsa. Sebab, lemahnya nilai-nilai pendidikan akan mengakibatkan rendahnya derajat dan martabat. Pendidikan moral menjadi prioritas kita bersama. Sebab dengan pendidikan moral tersebut kita dapat mengubah keadaan bangsa menjadi lebih baik dan mengangkat derajat bangsa di masyarakat dan di mata negara-negara asing.
———- *** ———-

Rate this article!
Tags: