Meja Makan Bundar

Oleh:
Aan Haryono
Penulis tinggal di Surabaya, Founder Pinus Story, Kelas Menulis di Atas Gunung.

Satu-satunya harta di rumah yang tak akan dijual oleh ibu apapun kondisinya adalah meja makan bundar. Seluruh anak-anaknya juga tak akan diberikan warisan meja makan berwarna coklat tua yang ujungnya mulai mengelupas menembus lipatan zaman.

“Kamu boleh menjual rumah, tapi tidak untuk meja makan bundar ini,” katanya pada semua anaknya.

Meja itu didapat ibu 75 tahun yang lalu, ketika gempita perlawanan meletus di Surabaya. Ibu mendapat meja dari para pejuang yang membawanya masuk ke kampung-kampung dan sembunyi dari kejaran tentara kolonial. Ada bekas darah di salah satu sisi meja serta tebasan pedang yang masih meninggalkan bekas di permukaan meja.

Matanya tersibak ketika meja itu datang. Apalagi meja makan merupakan impiannya sejak kecil, lambang kesempurnaan. Tak semua keluarga memiliki kesempatan itu, sebuah rumah yang tak terlalu besar tapi terdapat meja makan yang bisa mengumpulkan semua keluarganya dengan duduk saling berhadapan di tengah hidangan.

Ibu langsung jatuh hati, bentuknya yang bulat memang membuatnya semakin merona. Kata ibu, meja makan yang bulat itu menandakan rezeki yang tak pernah putus. Aliran uang yang terus berputar tanpa henti-hentinya seperti sebuah lingkaran. Meja makan itu pun diyakini sebagai pusaran aliran rezeki keluarga.

Ibu yang masa kecilnya tinggal di desa selalu bercita-cita untuk memiliki meja makan. Gambaran taplak bermotif bunga dan sekumpulan buah yang duduk terpaku di atas meja, melambangkan sebuah keutuhan keluarga baginya. Semua menjadi sempurna, dan dia selalu berseloroh sebuah rumah tangga tak akan utuh tanpa adanya meja makan di rumahnya.

Di meja makan itu, semua anak-anaknya merasakan pahit dan manisnya tuah nasihat tanpa koma. Di sela-sela makan, petuah bertubi-tubi itu datang dan menghujam telinga. Memeras air mata dan membuat dahi terus berkerut. Sampai lupa cara mengunyah gizi makanan yang harusnya berjalan riang di meja makan.

Situasi paling genting, tentu saja ketika di meja makan itu tersaji sambal terasi yang pedas. Aliran nasihat pada anak-anaknya tak akan pernah bisa padam. Terasi udang memang kesukaannya. Apalagi terasi yang disukainya memang dibeli langsung dari pedagang dari Puger, Jember. Ranti berwarna merah yang segar dari Banyuwangi berselancar ceria di antara cabe-cabe dari Blitar yang terkenal ganas dengan rasa pedasnya.

Sekecil apapun masalah yang terungkap di meja makan, suasana akan menjadi panjang dan tak akan bisa berkesudahan. Tentu saja masalah itu akan menemui titik surutnya ketika sambal terasi itu tandas. Lidah yang sejak awal menjadi penadah sampai merah membara yang menandakan akhir dari diskusi keras di meja makan.

Pernah pada satu ketika Mbak Ani, anak pertamanya yang baru bisa pulang setelah bertahun-tahun tinggal di Jakarta merasakan betapa pedasnya nasihat ibunya di meja makan ketika ia dan suaminya datang untuk berkunjung. Petang yang bersahaja, harusnya menjadi momen bagi mereka untuk saling melepas rindu. Di meja makan bundar yang tanpa tepi, bagi ibu juga memberikan pertanda semua keluarga tak ada sekat.

Mbak Ani ditanya tentang menu makanan yang biasanya dimasak untuk suami tercintanya ketika di Jakarta. Ia hanya menjawab dengan soloroh yang jenaka, bermaksud untuk bisa menyenangkan hati ibunya. Apalagi mereka dalam beberapa tahun terakhir belum bisa bertemu karena kesibukannya bekerja di ibukota.

“Orang di kota nggak ada yang masak bu, semua makanan pasti beli.”

“Maksudmu tiap hari kamu nggak pernah memasak?”

“Nggak lah bu, kalau dihitung pengeluaran memasak sendiri sama beli di luar, lebih murah kita beli makanan.”

“Apa uangmu cukup buat hidup, kalau semua-semua harus beli?”

“Cukup bu, lebih hemat lagi. Dapur juga nggak kotor.”

“Berarti setiap hari dapurmu bersih, kamu nggak pernah lagi memotong wortel di dapur?”

“Saya dan Mas Arya juga baru pulang rumah malam hari, pagi sudah berangkat ke kantor lagi. Kapan bisa bisa punya waktu untuk memasak.”

Ibu tiba-tiba menghentikan makannya. Segelas air putih langsung ditenggaknya dalam-dalam. Kelopak matanya kini membesar, menatap tajam ke arah Mbak Ani dan Mas Arya yang kini mulai mengunyah pelan-pelan kikil sapi yang sepertinya terselip di sela-sela gigi.

Suasana hening. Tak ada lagi terdengar ketukan piring atau garpu dan sendok yang saling bertabrakan. Denting jarum jam yang tadinya samar kini seperti irama yang memompa jantung. Berbagai pasang mata saling memandang.

“Kalau kalian terus seperti itu, sama saja menghilangkan salah satu warisan keluarga kita.”

“Warisan apa, bu?”

“Warisan yang sudah turun-temurun dari leluhur kita. Sop Merah Ikan Gabus.”

Mbak Ani dan Mas Arya hanya terdiam dan tertunduk. Mereka juga tidak mampu mengangkat tangannya untuk memainkan sendok dan garpu. Ibu masih saja naik pitam, sambal terasi yang ada di hadapannya kini tinggal sejengkal.

“Kalian perlu tahu, dulu ibu rela menabung untuk membeli ikan gabus yang direbus dan dibuat sop untuk hidangan kalian ketika kecil. Dari gizi ikan-ikan itulah, kalian semua bisa sekolah. Apa kalian lupa kalau di meja bundar ini semua kepala ikan kau habiskan lahap!”

“Kalau tak lagi memasak di rumah, anak-anakmu berarti tak pernah merasakan Sop Merah Ikan Gabus,” tambahnya lagi.

“Makan ikan bu, kami sering kok membeli sop ikan.”

Ibu masih saja mencocol tahunya dengan sambal terasi yang kini sudah tersisa di ujung cobek. Mulutnya masih mengunyah dan matanya tetap menatap tajam ke arah Mbak Ani dan Mas Arya. “Terus Ani, apa anakmu nanti tidak kamu wariskan kearifan keluarga kita mengolah ikan. Apa kota besar yang kamu tinggali sekarang ini begitu angkuh mendidikmu dan melupakan warisan keluargamu!”

Mbak Ani hanya terdiam.

Ibu mulai merasakan pedas sambal terasi di bibirnya. Keningnya mulai berkeringat dan suaranya sedikit serak. “Anakmu juga pasti akan lupa di mana kearifan keluarga ini dibangun. Dari rumah kecil ini, tempat di mana kita semua sudah punya meja makan.”

Mas Arya mulai memegang tangan Mbak Ani. Bahasa tubuhnya meminta istrinya itu untuk tidak menjawab nasihat ibu dan cukup mendengarkan saja. Karena terlalu sedikit saat ini orang yang mau mendengarkan. Semuanya ingin berbicara sampai lupa mendengarkan hal yang baik.

Bukankah dengan mendengar semua akan terasa tenang. Beban tak lagi menekan pundak dan riuh yang gelisah tak menjamur menjadi asa. Biarkan telinga menjadi kawan setia dan menyimpan pendar keinginan dalam rasa.

Ibu kini menatap tajam Mas Arya, dalam usianya yang senja tatapan mata itu tak pernah berubah. Dalam benak ibu terbersit sebuah kesimpulan kecil, karena anaknya ini tinggal di apartemen, sehingga tak cukup untuk meletakan meja makan bundar seperti miliknya. Dan mereka kini tak memiliki waktu, untuk sekedar saling berbicara. Sedemikian gila kehidupan, merebut riang dalam kegaduhan.

Tak ada yang berani menatap balik tatapan yang memperlihatkan kerasnya hati. Kedalaman dan gurat otot tangannya yang menyembul menghiasi meja makan. Dan kuasa ibu di meja makan bundar itu memang benar-benar dominan, melemparkan semua tatapan yang melemahkan keyakinan.

Semua anaknya tak ada yang berani untuk membantahnya. Semuanya seperti terlena dalam santap malam maupun sarapan pagi yang menghipnotis lidah dan memerintahkan otak untuk menuruti semua perintah ibu. Dan ibu pasti benar seperti rasa masakannya yang tak pernah salah untuk menyiramkan bumbu dan balutan rempah dengan meriah.

Pernah pada satu ketika Dolid, adik kami yang paling kecil menangis sejadi-jadinya ketika makan malam. Ia bercerita tentang hasil ujian Bahasa Jawa yang mendapat nilai 4. Padahal semua kakaknya tak pernah ada yang dapat nilai di bawah 8.

Ibu baru selesai menuangkan kuah rawon di tengah meja makan budar dengan potongan dadu daging sapi yang mulai menyembul bersama dengan kebulan asap yang sudah menyatu dengan kluwek. Piring-piring dibagikan dan ibu duduk menghadap ke barat, tepat di samping Dolid yang masih saja sesengukan. Duduk mendekati meja dan menutup kedua matanya yang terus saja meneteskan air mata.

“Kau dengar baik-baik, ibu tidak pernah merasa takut anaknya dapat nilai 4 di sekolah. Tapi ibu sangat takut kalau anaknya tak mau antre ketika membeli permen karet di toko kelontong.”

Mendengar jawaban itu, Dolid langsung diam. Tangisnya berhenti, dan sisa air mata di pipi langsung dihapusnya dengan ujung kaos hitam yang dikenakannya malam itu. Senyumnya kembali hadir, mengingatkan ketika dirinya yang juga sering belajar di meja makan itu. Dengan tawa yang tersaji di tiap cerah hari bersama ibunya.

Dolid tidak pernah punya meja belajar. Untuk mengerjakan tugas, ia selalu nyaman berada di meja makan. Apalagi di hadapannya selalu ada kudapan yang siap dilahap kapan pun dia suka. Tak jarang juga ketika pagi hari, Dolid juga sering sarapan sambil memakai seragam sekolah dengan duduk di meja makan.

Saat ibunya menyiapkan bekal makanan menjadi momen yang paling dinantikannya. Obrolan kecil tentang suasana sekolah, teman baru dan guru-guru yang lucu menjadi menu obrolan di pagi hari tanpa henti. Senyum yang tergambar dari ibu begitu menentramkan hati.

Ketika kecil, Dolid juga sering kali kena murka ibunya ketika mainannya selalu tertinggal di meja makan. Ibunya berkali-kali selalu memperingati untuk tidak meninggalkan mainan di meja makan. Bagi ibu, makanan dan mainan tak boleh bersebelahan.

Meja makan bundar itu memang tak terlalu besar. Ibu meletakannya dekat pintu menuju ke arah dapur. Sebuah kendi berwarna coklat tua berisi air putih dan dua gelas kosong selalu berada di tengah-tengah meja. Sehingga meja makan selalu menjadi tempat yang paling dicari keluarganya ketika masuk ke rumah maupun mau pergi untuk bisa sekedar meneguk minuman yang segar.

Ibu juga tak pernah lupa untuk selalu menempatkan beberapa buah di keranjang kecil sebagai pelengkap meja. Waktu kecil, ibu sering melihat meja-meja makan milik Belanda yang begitu besar. Berbagai jenis buah menghiasi meja makan itu, buah yang selalu terlihat bersih dan mengkilap. Dan sepertinya buah-buah itu tak pernah dimakan, hanya untuk pemanis meja.

Pemandangan itu selalu menyita perhatian ibu. Terpatri dalam benaknya untuk segera menabung dan mengumpulkan uang untuk membeli meja makan. Meskipun di tiap rumah, meja makan sebenarnya bukan perabot yang wajib ada. Kalau pun memang tak punya, tak pernah menjadi persoalan dan tak ada pergunjingan di desa.

Apalagi Ibu dan para penduduk desa yang setiap hari berada di ladang pisang dan anggur tidak pernah memiliki hiasan buah di meja makannya. Sebelum panen tiba, buah yang harusnya bisa dinikmati itu tak cukup untuk biaya hidup.

Sejak saat itu, ibu yakin dirinya harus memiliki meja makan dulu, biar nanti ada buah yang bersih dan mengkilap di meja makannya. Sembari mendengarkan percakapan menjelang senja.

———- *** ———–

Rate this article!
Meja Makan Bundar,5 / 5 ( 2votes )
Tags: