Memaafkan Termasuk Perbuatan yang Mulia

Judul Buku : Berani Tersenyum Meski Terluka
Penulis : Zanuba Muhlisin
Penerbit : Araska
Cetakan : I, September 2020
Tebal : 236 halaman
ISBN : 978-623-7910-19-0
Peresensi : Sam Edy Yuswanto
Penulis lepas mukim di Kebumen.

Pada dasarnya, setiap orang menyukai perbuatan baik. Bahkan mereka, orang-orang yang terbiasa melakukan berbagai keburukan atau kejahatan, juga tidak suka jika diperlakukan buruk oleh orang lain. Kalau dipikir ini kok aneh, tapi nyata adanya. Oleh karenanya, berbuat baik mestinya selalu kita upayakan dari hari ke hari, kapan saja dan di mana saja.

Hal yang perlu direnungi bahwa ketika berbuat baik, kita tak perlu pandang bulu. Artinya, kepada siapa pun kita mestinya bisa berbuat kebaikan. Bukan hanya kepada keluarga kita sendiri. Mungkin ada orang yang berpikir bahwa menafkahi istri dan anak-anaknya dianggap sudah berbuat banyak kebaikan sehingga tak perlu berbuat baik (misalnya memberikan bantuan uang) kepada orang lain. Kalau menurut saya itu beda. Menafkahi anak istri bagi seorang suami itu kan memang sudah kewajibannya.

Jadi, alangkah lebih baiknya untuk lebih memperluas kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita. Misalnya, peka dan ringan tangan saat melihat kesusahan orang lain. Intinya, mau mengeluarkan sebagian harta atau uangnya untuk membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan. Jadi bukan hanya saudara atau keluarganya saja yang dibantu, sementara orang lain yang tidak memiliki hubungan darah, enggan untuk membantunya.

Saya setuju dengan apa yang disampaikan Zanuba Muhlisin dalam buku ini, bahwa dalam kehidupan di dunia, kita harus mengasihi dan memedulikan lingkungan serta orang di sekitar. Semua ini harus kita tunjukkan melalui tindakan nyata. Kita harus selalu siap mengulurkan tangan kepada siapa pun yang membutuhkan. Berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik atau telah banyak membantu kita, tentunya sudah biasa dan wajar.

Namun, yang istimewa yaitu jika kita mampu berbuat baik kepada orang yang telah melukai atau menyakiti, menzalimi, atau yang telah memfitnah kita. Sikap ini tentu bukanlah perkara yang gampang. Sebab, rasa sakit itulah yang sering menghalangi kita untuk membalas rasa sakit itu dengan kebaikan (halaman 71).

Setiap orang tentu pernah berbuat salah. Hal ini sangatlah wajar karena manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Meski hal ini bukan lantas menjadi dalih bagi kita untuk melakukan dosa atau berbuat kesalahan pada orang lain. Karena setiap manusia rentan berbuat khilaf, maka hal terbaik yang perlu direnungi adalah berusaha untuk memaafkan kesalahan orang lain, apalagi orang tersebut sudah memohon maaf pada kita dengan penuh kesungguhan. Meski memberi maaf pada awalnya sulit dan kadang membutuhkan waktu, tapi dengan memaafkan orang lain, hati kita akan terasa lebih lapang dan lega.

Zanuba Muhlisin menjelaskan, kita dianjurkan untuk memaafkan mereka yang telah berbuat salah kepada kita, orang yang telah melukai dan menyakiti hati kita. Ini adalah satu-satunya cara agar kita tetap bahagia dan sehat. Sikap tidak mau memaafkan adalah salah satu penyebab timbulnya penyakit, karena pikiran yang menderita akan mengakibatkan tubuh menjadi menderita pula.

Sikap tidak mau memaafkan mestinya selalu beusaha kita hindari. Bukankah kita juga pernah atau bahkan sering berbuat salah? Baik kesalahan terhadap sesama manusia maupun kesalahan terhadap Tuhan? Bukankah kita juga sangat mendambakan dosa-dosa kita diampuni oleh-Nya? Lalu mengapa kita begitu sulit memaafkan kesalahan orang lain, sementara kita begitu ingin dosa-dosa kita diampuni oleh Tuhan?

Menyimpan sakit hati dan dendam hanya akan membuat hidup kita jadi menderita. Dalam Dhammacakkappavattana Sutta, dijelaskan bahwa penderitaan muncul karena adanya nafsu keinginan (tanha). Begitu juga dengan sakit hati. Sakit hati muncul karena adanya nafsu keinginan untuk membalas, karena adanya nafsu keinginan seseorang akan melekat pada “keakuan”. Keakuan ini membuat kita sulit untuk menerima hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti tidak tercapainya harapan atau keinginan dan tidak mau berpisah dengan yang dimilikinya. Hal inilah yang dapat memicu seseorang menjadi mudah sakit hati (halaman 39).

Memaafkan adalah termasuk perbuatan mulia. Hal ini sebagaimana diungkap oleh Zanuba Muhlisin, bahwa memaafkan orang lain yang menyakiti kita dianggap perbuatan mulia, karena hal itu mengandung maslahat yang sangat besar. Memaafkan orang lain, terutama apabila pemaafan itu dirasa ada perbaikan bagi orang yang berbuat jelek atau bisa mendatangkan perbaikan dan membuahkan maslahat yang besar, tentu manfaatnya lebih besar daripada balas dendam.

——- *** ——-

Tags: