Membangkitan Ekonomi

Libur panjang lebaran Idul Fitri 1442 Hijriyah sudah berakhir. Kini saatnya memulai bangkit membangun kembali ekonomi yang terpuruk akibat pandemi. Walau kebangkitan harus tetap mengikuti protokol kesehatan (Prokes). Setahun lebih hidup dalam himpitan pandemi, niscaya telah memahami cara menghindari wabah CoViD-19. Masyarakat melaksanakan 3M, pemerintah melaksanakan 3T. Namun pemerintah perlu lebih cerdas (dan jujur) mengelola isu pandemi tanpa meng-gaduh-kan suasana sosial.

Ke-guyub-an sosial dan ekonomi perlu segera dibangkitkan, dengan tetap mencermati pandemi. Termasuk dengan percepatan vaksinasi. Serta mengurangi “bombardir” isu CoViD-19. Kebangkitan bisa mengikuti momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Meningktkan visi gotong-royong, dan ke-bersatu-an nasional. Seluruh tokoh nasional perlu bersatu, mengurangi tensi per-seteru-an politik. Antara lain melalui halal bihalal (virtual) dalam rangkaian Idul Fitri 1442 Hijriyah.

Peringatan hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), telah dilakukan sebanyak 76 kali sejak kemerdekaan RI. Boedi Oetomo, pastilah tak hendak didirikan jika hanya untuk menggali rasa nasionalisme. Karena sejak 200 tahun sebelumnya, rasa nasionalisme selalu berkobar, secara terang-terangan, maupun sembunyi-sembunyi. Digelorakan di surau-surau, sekaligus di-transformasi-kan sebagai kurikulum di berbagai pengajian. Pada musim pandemi global, visi Boedi Oetomo, patut digelorakan sesama anak bangsa.

Maka peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-113, sejak didirikan Boedi Oetomo, persaudaraan nasional patut digelorakan. Lebih lagi seluruh propinsi telah terjangkiti virus pandemi. Akses perekonomian menyusut tajam. Bahkan telah terbukti terdapat tambahan penduduk miskin baru sebanyak 8,3 juta jiwa. Pengangguran baru (2,5 juta) pekerja juga sedang “antre” di kubangan kemiskinan. Bukan disebabkan salah urus, melainkan social distancing (jaga jarak dalam kerumumnan orang) dan pemberlakuan PSBB (Pembatasa Sosial Berskala Besar). Berlanjut dengan PPKM.

“Dimana bumi dipijak disitu langit di junjung.” Begitu kata pepatah, menunjukkan penghormatan terhadap rasa “se-bangsa” sekaligus ke-setia kawan-an nasional. Dimulai dari kecintaan terhadap kampung tempat tinggal, serta menjaga pranata sosial. Namun spirit kebangsaan senantiasa memerlukan peng-gelora-an, agar tak lekang oleh suasana politik sesaat. Persatuan nasional tak boleh kendur. Karena kebangkitan kebangsaan (nasional) tak kenal kata akhir.

Seperti dilakukan intelektual dan ulama padadekade awal abad ke-20 (dekade 1900-an). Tokoh-tokoh negarawan berupaya meng-gelora-kan spirit kebangsaan yang mulai surut. Karena terhimpit penjajahan (kolinialisme). Bisa jadi, suasana nasional (politik, maupun kesenjangan ekonomi) bisa mempengaruhi spirit kebangsaan. Bisa pasang bisa pula surut. Melemahnya kebangsaan, antaralain disebabkan faktor kapitalisme yang menyebabkan kecemburuan ekonomi. Serta faktor politik (kegaduhan sosial).

Berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei 1908, yang dipelopori oleh kaum terpelajar ditetapkan sebagai pertanda kebangkitan rasa ber-kebangsaan. Sejatinya, bukan sekadar bangkitnya rasa nasionalisme (berbangsa) ditengah inferioritas (rasa rendah-diri) akibat penjajahan. Melainkan lebih sebagai upaya peningkatan pendidikan rakyat. Sebab diyakini dengan pendidikan yang lebih baik, akan diperoleh pencerahan di segala bidang, terutama peningkatan kesejahteraan.

Boedi Oetomo, didirikan tidak hanya untuk menggali rasa nasionalisme. Melainkan sekaligus meningkatkan solidaritas sosial, terutama membangun perekonomian, dan pendidikan umum. Tokoh-tokoh bangsa menggalang kerjasama perdagangan kalangan pribumi. Produk lokal dihimpun dalam koperasi, serta memperkuat lumbung pangan. Pengajaran umum (sekolah) mulai diselenggarakan dengan prinsip “rakyat mengajar rakyat.”

Prinsip Boedi Oetomo, patut di-inovasi kembali pada masa pandemi saat ini. Dampak himpitan ekonomi selama setahun pandemi telah cukup menyengsarakan masyarakat. Bisa jadi banyak yang putus sekolah pada kelas VIII (tingkat SMP kelas 2), dan kelas XI. Terutama pada sekolah swasta. Guru-guru wajib berpartisipasi mencegah putus sekolah, terutama jelang awal tahun ajaran baru.

——— 000 ———

Rate this article!
Membangkitan Ekonomi,5 / 5 ( 1votes )
Tags: