Membangun Kelas ‘Tanpa Batas’ di Era Pandemi

Oleh :
Ganefis Prihatanto
Pengawas Sekolah pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Situbondo

Pendidikan merupakan suatu bagian dalam kehidupan manuasia Yang sangat penting. Pendidikan akan menentukan arah peradaban manusia di masa yang akan datang. Upaya untuk perubahan dan memajukan dunia pendidikan terus dikakukan. Penyempurnaan dan standarisasi bidang pendidikan seperti : kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, kompetensi guru, pembiayaan, pengelolaan, proses, semua dilakukan agar tercipta pendidikan yang bermutu di seluruh wilayah Indonesia.
Guru dibekali pengetahuan dan keterampilan tentang Penguatan Pendidikan Karakter(PPK), Gerakan Literasi Nasional (GLN) , dan pembelajaran abad 21. Secara sederhana Pembelajaran abad 21 diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan abad 21 kepada peserta didik, yaitu 4C yang meliputi : (1) Communication (2) Collaboration (3) Criticak thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative. Dalam perencanaan maupun palaksanaan pembelajaran semua hal di atas diharapkan dapat diimplementasikan.
Hal-hal tersebut di atas ternyata oleh sebagian guru rupanya dianggap terlalu berat dan membebani tugasnya sehari-hari. Kemudian muncul fenomena baru yang digagas oleh Menteri yang baru Nadiem Anwar Makarim, yang akrab disebut “Mas Menteri”, yang kita kenal dengan “Merdeka Belajar”. Program Pembelajaran Nasional yang dilansir di Jakarta tanggal 11 Desember 2019 ini salah satunya berbunyi “RPP dipersingkat”. Hal ini yang membuat sebagian guru bereforia dalam menyusun RPP, yang katanya hanya “1 halaman”. Namun kemudian setelah ditelaah ternyata sulit bahkan tidak mungkin untuk dilaksanakan. Yang dimaksudkan adalah RPP yang dibuat guru hendaknya dibuat sesederhana mungkin, tetapi tidak mengurangi kaidah dalam penyusunannya yang tercantum dalam peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang telah terbit sebelumnya.
Memasuki masa Pandemi Korona, praktis semua kegiatan pendidikan berubah, bahkan dihentikan dan dilarang melakukan kegiatan tatap muka dengan siswa. Menyikapi situasi tersebut perlu langkah kreatif untuk tetap dapat melakukan kegiatan pembelajaran .
Kalau sebelum pandemi korona, pembelajaran dilakukan melalui tatap muka di kelas, di halaman sekolah, atau dimanapun di lingkungan sekolah. Namun pada masa pandemi korona ini pembelajaran dilakukan dengan cara daring (dalam jaringan) atau online.
Pembelajaran daring memungkinkan mengatasi masalah “waktu” dan “ruang”, dilaksanakan kapan saja dan dimana saja. Disinilah substansi judul tulisan ini.
Saat ini juga masuk dalam era “Revolusi Industri 4.0” dimana terjadi perubahan dimana untuk memproduksi suatu barang memanfaatkan mesin sebagai tenaga penggerak dan pemroses. Unsur utama dalam revolusi 4.0 adalah : Internet of Think (IoT), Big Data, Argumented Reality, Cyber Security, Artificial Intelegence, Addictive Manufacturing, Integrated System, dan Cloud Computing (idcloudhost.com,7/1). Walaupun sejatinya revolusi ini mengarah pada bidang industri, namun semua itu berpengaruh besar terhadap kemajuan bidang pendidikan. Sehingga semua insan pendidikan tidak bisa lepas dari situasi ini. Siapapun yang tidak mengikuti perkembangan ini akan ketinggalan jaman. Demikian pula para guru di sekolah. Guru harus ter”update” dengan kondisi perkembangan ekonomi digital, perkembangan industri 4.0, dan perkembangan teknologi, seperti dikatakan oleh Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Inovasi dan Riset Nasional Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro di Jakarta (16/1/2020).
Pembelajaran daring yang bebasis intenet memungkinkan untuk memberikan ruang dan waktu yang “sangat luas” bahkan tidak terbatas. Pembelajaran tidak lagi dibatasi oleh dinding ruang kelas yang sebesar 6 x 9 meter, atau rasio 2 m2 untuk setiap siswa SMP (Permendiknas No. 24 Tahun 2007), atau luas sedikitnya 1.780 m2 untuk sekolah dengan 24 rombongan belajar. Jumlah siswa dimungkinkan jadi lebih banyak, tidak sekedar 32 siswa di kelas SMP setiap di ruangnya. Bila dalam satu kelas paralel ada 9 rombongan belajar, dapat di kelola dalam waktu yang sama.
Dari segi waktu, bila selama ini pelajaran di sekolah dengan 6 hari sekolah dimulai pukul 07.00 WIB, maka pada pukul 13.00 WIB pelajaran sudah berakhir. Dengan pembelajaran daring, waktu belajar bisa lebih fleksibel. Waktu 24 jam dalam sehari dapat dikelola untuk belajar. Pelajaran (baca:belajar di rumah) dapat dilakukan kapan saja. Siswa dapat memilih waktu yang tepat untuk dirinya. Tentu saja harus ada kesepakatan antara guru dan siswa, karena hal ini dapat diatur dengan aplikasi-aplikasi pembelajaran daring yang ada.
Namun hal yang sampaikan di atas bukannya tidak memiliki kelemahan. Retno Listyarti ,komisoner KPAI (18/3) dalam siaran pers menyampaikan banyaknya pengaduan dari orang tua siswa yang mengeluhkan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. Hal ini diduga karena banyaknya guru yang gagal paham tentang maksud home learning.
Muhammad Tharieq Waldopo, seorang siswa SMA, menulis curahan hatinya di kompasiana.com dengan judul “Jika Sekolah bukan Tempat Untuk Tidur, Maka Rumah bukan Untuk Tempat Belajar”. Dia seolah menggugat para guru, walaupun di sekolah sudah sampai sore hari, tetapi gurunya tetap memberikan tugas yang banyak.Siswa tidak memiliki waktu lagi untuk istirahat, bersantai, bersosialisasi dengan orang tuanya dan lain sebagainya. Walaupun hal ini tetap dapat diperdebatkan, namun memang perlu kebijaksanaan guru untuk mempertimbangkan tugas-tugas rumah yang akan diberikan kepada siswanya.
Saya menggunakan kata “membangun” daripada kata lain seperti “memanfaatkan”, “memaksimalkan” atau kata lainnya. Karena saya ingin memberikan makna kata membangun itu untuk lebih membangkitkan semangat kepada guru membuat inovasi, pengembangan dari sesuatu yang sudah ada. Fasilitas daring memang memerlukan sarana seperti handphone (HP), komputer, tab ,laptop dan sejenisnya. Jaringan internet juga harus disediakan. Paket data diperlukan agar HP dan sebagainya itu dapat mengakses internet.
Apabila semua pihak seperti pemerintah, orang tua siswa,guru,siswa, dunia usaha, pihak-pihak yang terkait dengan dunia pendidikan dapat berperan dengan baik, maka semua kebutuhan itu tentu dapat dicarikan solusinya dan disediakan sesuai kebutuhan. Semua kegiatan pendidikan dapat dilaksanakan.
Buku “Rumahku Tempat Belajarku” yang ditulis Irawati Istadi (2017) memberikan panduan kepada orang tua tentang bagaimana mendampingi putra-putrinya dalam belajar di rumah. Buku ini juga mengisyaratkan bahwa orang tua tidak cukup hanya mengandalkan sekolah, orang tua jangan berhenti belajar, dan bagaimana menjadikan rumah sebagai tempat belajar. Hal ini dapat digunakan juga sebagai acuan pada masa pandemi korona ini.
Praktisi “homeschooling”, Ira Puspitasari (tempo.co,17/3) memberikan pengalamannya dalam melakukan kegiatan itu. Kegiatan pertama yang dilakukan dengan anak-anak adalah menanamkan konsep belajar dimana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja. Jadi kata “belajar” itu bukan mengacu ke sebuah bangunan atau institusi, tetapi ke mempelajari sesuatu yang lebih praktikal di keseharian kita. Fungsi orang tua dalam “homeschooling” ini sebagai fasilitator, motivator, dan pemantik ide belajar.
Membangun ruang kelas “tanpa batas”, tidak hanya berlaku pada masa berlangsungnya penyebaran wabah korona ini. Bila wabah ini berlalu guru bisa memanfaatkan wacana ini dalam kegiatan belajar belajar dalam kelas atau lingkungan sekolah saja.
Guru dapat mengelola waktu dan tempat untuk kepentingan pembelajaran di kelasnya. Jadi tidak hanya terkungkung di ruangan kelas saja dan juga waktu belajar yang relatif terbatas di sekolah. Guru bisa lebih leluasa dalam mengajar untuk mencapai “merdeka belajar” yang dicanangkan oleh “Mas Menteri” Pendidikan dan Kebudayaan RI.

————— *** ————–

Tags: