Membincang Keragaman dalam Beragama

Judul Buku : Moderasi Beragama “Tanggapan atas Masalah, Kesalahpahaman, Tuduhan, dan Tantangan yang Dihadapinya”
Penulis : Lukman Hakim Saifuddin
Penerbit : Yayasan Saifuddin Zuhri
Cetakan : November 2023
Tebal : 236 halaman
ISBN : 978-623-09-0778-4
Peresensi : Amir Rifa’i, Staff Pengajar AIK Universitas Muhammadiyah Malang

Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerbitkan buku Moderasi Beragama: Tanggapan atas Masalah Kesalahpahaman, Tuduhan, dan Tantangan yang Dihadapinya. Dalam buku yang sudah di cetak kesembilan pada November 2023 lalu tersebut, Lukman Hakim mencoba menjawab sejumlah kesalahpahaman di tengah masyarakat yang muncul dalam rentang beberapa tahun perjalanan penguatan moderasi beragama yang terjadi di Indonesia, khusunya pada beberapa tahun terakhir ini.

Lalu apa yang menyebabkan kesalahpahaman ini mucul, diantaranya dalah terkait pelabelan liberalisasi, pendangkalan akidah, produk konspirasi asing, hingga dianggap sebagai aliran baru untuk menjauhkan umat dari agama yang telah dianutnya. lukman menyebut berbagai tuduhan tersebut jelas tidak benar adanya.

Harusnya memahami dan mengamalkan ajaran agama secara moderat dalam artian tidak berlebih-lebihan dan tidak melampaui batas yang ditetapkan adalah perintah agama itu sendiri. Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama dengan mengejawantahkan esensi ajaran agama berdasarkan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan bersama.

Moderasi beragama perlu didukung oleh seluruh elemen bangsa karena rusaknya pengamalan beragama warga negara yang ditandai munculnya gerakan intoleran dan radikal, hal ini tentu menjadi ancaman serius di lingkungan kita saat ini. Sejak sepuluh tahun terakhir, muncul gejala di sekolah-sekolah menengah, perguruan tinggi/kampus menjadi pusat penyemaian intoleransi, eksklusivitas anti-Pancasila, anti-kebinekaan, bahkan bullying dan kekerasan dalam berbagai bentuknya.

Yang dinamakan keragaman tentu tentu menyangkut kekayaan dan keindahan bangsa. Dasar inilah yang mempersatukan keberagaman kita, termasuk keberagaman dalam memeluk agama dan dalam mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Maka kita berharap, pemerintah harus mampu mendorong keberagaman tersebut menjadi suatu kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional menuju Indonesia yang berdaulat.

Ajaran untuk menjadi moderat bukanlah semata-mata milik suatu agama tertentu. Ajaran itu ada dalam tradisi berbagai agama, bahkan peradaban dunia. Tidak ada satu-pun agama yang menganjurkan berbuat dzalim atau mendoktrinkan ekstrimisme atau ketidakseimbangan. Dalam islam sendiri, ajaran wasathiyah (jalan tengah) dianggap sebagai salah satu ciri dan esensi ajaran agama (hal. 80).

Buku yang dicetak pertama pada Mei 2022 ini menjadi panduan dalam mengimplementasikan moderasi beragama ditengah-tengah masyarakat, dengan menampilkan berbagai macam materi dalam moderasi beragama. Sebagai contoh pada bab 1 dijelakan tentang urgensi moderasi beragama dengan menjelaskan 6 poin yaitu keberagaman dan keberagamaan di Indonesia, lalu relasi agama dan budaya, relasi agama dan Negara, kehadiran agama dalam Negara, relasi agama dan konstitusi dan pentingkah moderasi beragama?.

Menteri Agama Periode 2014-2019, dalam buku ini memberikan materi untuk dikaji dengan sangat menarik, pada bab 2 diberi tema tentang pokok-pokok moderasi beragama, dengan menampilkan 6 pembahasan di dalamnya, hal ini tentu menjawab berbagai pertanyaan yang muncul terkait mpoin penting dalam moderasi beragama.

Bahkan pada buku dengan ketebalan 263 halaman ini penulis menjawab solusi moderasi beraga yang ada pada bab 3, dengan menuliskan berbagai kejadian yang pernah terjadi di negeri ini diantaranya ulasan tentang status agama baha’I, kisruh syiah di sampan, gerakan isis, peristiwa tolikora, pembakaran gereja di aceh singkil, muatan ekstren buku ajar, penyelewengan siaran agama dan ujaran kebencian.

Adapun pada bab ke 4 dalam buku ini menampilkan tema menyuarakan moderasi beragama dengan beberapa poin yaitu tentang kisah media memperjuangkan moderasi beragama, Indonesia dikepung berita palsu dan pengajian moderat di Youtube. Diketahui bahwa gerakan untuk beragama secara moderat sebagai topic dalam public kaum intelektual di Indonesia marak terjadi di era 1970-an dan 1980-an.

Para pemikir dan tokoh agama seperti Harun Nasution, Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, Gedong Bagus Oka, Eka Darmaputera, Th. Sumartana, Frans Magnis Suseno, Munawir Sadzali, Dawam Rahardjo, lalu diikitu tokoh-tokoh lain seperti Quraisy Shihab, Sri Pannyavaro Mahathera dan lain-lain mengajak masyarakat untuk beragama secara konstektual. Beberapa pokok pikiran yang mereka suarakan senada dengan pesan-pesan moderasi beragama (hal. 156).

Pada bab 5 dalam buku ini menjelaskan tentang ragam perspektif moderasi beragama, dengan poin kebijakan berbasis data, riset moderasi beragama, prospek riset moderasi beragama, tentu hal ini memperjelas adanya keragaman dalam beragama.

Lalu bagian akhir dalam buku yang diterbitkan oleh Yayasan Syaifudin Zuhri Jakarta ini menjelaskan tentang kekeliruan dalam memahami moderasi beragama dengan berbagai poin diantaranya adalah kritik terhadap moderasi beragama, menjawab tuduhan, politisasi agama, moderasi beragama membuat umat tak mengakar dan tak fanatic dengan agamanya?, moderasi agama adalah agenda asing untuk liberalisasi agama dan sekularisasi, moderasi agama mendukung LGBT dan kembali ke substansi. Tentu dalam pembahasan bab terakhir ini merupakan suatu kesalahpahaman yang mendalam dalam memahami moderasi beragama.

Oleh karenanya peresensi neranggapan bahwa, buku moderasi beragama ini hadir sebagai panduan agar menjalankan kehidupan beragama yang moderat, juga diharapkan dapat menjadi pedoman/panduan dalam mengimplementasikan moderasi beragama. Namun dengan berbagai kelebihan yang ada dalam buku ini, peresensi memberikan sedikit tanggapan meskipun dengan munculnya buku ini belum mampu menjawab tantangan yang kerap kali terjadi dikalangan desa.

———– *** ———–

Rate this article!
Tags: