Memerdekakan Literasi dari Sekolah

Oleh:
Subagas
Kepala SMAN 1 Karangrejo, Tulungagung.

Rendahnya budaya literasi anak bangsa yang salah satunya bisa tercermin dari minat baca masyarakat Indonesia telah dibuktikan oleh survei beberapa lembaga Internasional. UNESCO misalnya menyimpulkan, minat baca masyarakat Indonesia salah satu yang terendah di Asean. Di tingkat dunia, dari 39 negara yang disurvei, Indonesia menempati posisi ke-38.

Tidak kalah memprihatinkan, data UNDP menunjukkan posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos yang masing-masing berada di urutan angka seratus. Data tersebut memberikan gambaran tentang lemahnya kemampuan literasi bangsa Indonesia.

Membangun karakter berbudaya literasi menjadi keniscayaanbesar pas bagi siswa di sekolah. Secara sederhana, literasi berarti kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Dalam konteks sekarang, literasi memiliki arti yang sangat luas. Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar.

Berbagai kajian menunjukan bahwa membaca-menulis memberi banyak manfaat bagi seseorang. Guru besar psikologi pendidikan anak dari UI, almarhum Sarlito W. Wirawan mengemukakan manfaat membaca dan menulis bagi anak, di antaranya memahami diri sendiri, membangkitkan kepercayaan diri, memunculkan ide dan gagasan sendiri, memberi kontribusi pada orang lain atau masyarakat, dan meningkatkan kreativitas.

Karakter anak akan muncul dan semakin menonjol. Keterampilan membaca-menulis dalam hal ini mendukung kemampuan berpikir dan nalarnya. Budaya literasi ini rencananya juga akan diteruskan sampai jenjang yang lebih tinggi. Untuk itu, motivasi dalam hal ini sangat penting. Menempatkan posisi anak sebagai pembelajar menjadi keharusan guru untuk dapat memahami apa yang dilakukan anak, baik yang dibaca maupun yang dituliskannya.

Sastra dan Cita-cita Literasi

Tragedi Nol Buku. Tiga kata ini muncul berawal dari keprihatinan Taufik Ismail, 1997 silam. Simpulan bernada miris ini diambilnya sesaat setelah menyelesaikan penelitiannya tentang tidak adanya kewajiban dalam pembelajaran di tataran SD hingga SMA untuk membaca buku sastra Indonesia (apalagi asing).

Ia benar-benar prihatin dengan hasil penelitian yang dilakukan di 13 negara. Indonesia berada di peringkat 13. Berikut hasil lengkapnya. Amerika Serikat mewajibkan siswa SMA nya untuk membaca 32 judul buku sastra dalam setahun, Belanda (30), Perancis (30), Jerman (22), Swiss (15), Jepang (15), kanada (13), Soviet (12), Brunei (7), Singapura (6), Malaysia (6) Thailand (5). Sementara Indonesia (0).

Kini, tiga kata itu telah bermetamorfosa dalam bentuk nyata yang mengarah pada kemunduran peradaban Bangsa Indonesia. Banyak mahasiswa yang harus molor kuliah karena gagal menyelesaikan tugas menulis skripsi dengan cepat dan cekatan. Banyak plagiarisme yang notabene bagian dari kecurangan (kalau tidak mau disebut kejahatan). Ujung-ujungnya adalah banyak pemikir dan pemimpin yang terbiasa berbuat curang. Tragedi Nol Buku itu sekarang telah bermanifestasi pada carut-marutnya kondisi bangsa ini secara makro.

Saat ini carut-marutnya moral anak bangsa menjadi isu yang paling susah dicarikan upaya solutifnya. Ada yang mengusulkan dihidupkannya kembali mata pelajaran budi pekerti di sekolah. Bagaimana dengan keberadaan dan peran strategis pengajaran sastra dalam hal ini?

Penulis berhemat bahwa konteks mempelajari buku sastra sebenarnya tidak bertujuan agar siswa jadi sastrawan. Sastra cuma medium untuk mengasah dan menumbuhkan budaya baca secara umum. Ironisnya, sastra di sekolah berada pada koridor penekanan pangajaran, sekadar transfer ilmu dari pada pendidikan.

Sayangnya, kecenderungan yang ada saat ini sastra diajarkan untuk menggapai kemampuan kognitif siswa. Misalnya siswa diajak menghafalkan periodisasi sastra lengkap dengan siapa saja sastrawan yang masuk di beberapa periode yang tersusun. Juga siswa diajak menghafalkan apa saja karya sastra yang dihasilkannya.

Nyatanya, pengajarannya tidak menyentuh pada pembedahan isinya. Pesan moralnya apa serta nilai atau karakter apa yang bisa dimasukkan dari isi karya sastra yang dipelajari tersebut. Efeknya adalah anak didik hanya memahami sejarah sastra. Harapan untuk menghasilkan banyak sastrawan di kemudian semakin terpinggirkan.

Ini karena ada satu paradigma bahwa sastra diajarkan sebagai media pengajaran bahasa. Jadi dalam pembelajaran di sekolah sastra cenderung diposisikan sebagai media pembelajaran semata.

Menyitir apa yang dikatakan David McClelland, dalam buku The Achieving Society (1961), membaca sastra akan menimbulkan semangat dan meningkatkan peradaban bangsa. Siswa seharusnya juga diberi porsi yang lebih untuk apresiasi sastra. Tidak hanya mengenal kulitnya, namun juga bagian dalam atau esensi sastra itu sendiri. Misalnya, siswa membaca tuntas dan mempelajari sebuah karya lalu bersama guru bisa melakukan apresiasi sastra. Ini yang dimaksud dengan pendidikan. Bukan sekadar mengajarkan agar siswa tahu pengarangnya siapa, ditulis tahun berapa?

Paradigma pengajaran sastra yang ideal adalah apresiasi sastra. Learning for pleasure. Yang terbaik adalah dilakukan diskusi-diskusi sastra. Ini yang memang membutuhkan waktu lama. Bahkan dijadikan alasan pembenar untuk tidak mengajarkan satra. Padahal dari diskusi-diskusi sastra dalam koridor pembelajaran di sekolah inilah, akan terasah satu pemikiran-pemikiran besar. Sehingga nantinya tercipta obsesi besar yang bisa bersumbangsih untuk masyarakat dan bangsa.

Di tingkat SMA misalnya, siswa telah “dihalalkan” untuk membaca karya sastra karya Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, William Shakespeare. Untuk nonfiksi mereka diminta membaca antara lain buku karya St. Agustine, John Locke, Albert Einstein, Charles Darwin, Immanuel Kant, Nicolo Machieavelli.

Di dalam negeri, kita juga banyak memiliki referensi bermutu tentang novel yang bisa membentuk karakter anak bangsa. Karya-karya Budi Darma, Iwan Simatupang, Putu Wijaya, Shoim Anwar, Ayu Utami tentu bisa menjadi bahan pembelajaran yang sangat efektif bagi pembentukan karakter bagi anak seusia SMA. Jadi guru perlu memberikan pencerahan tentang khasanah kesastraan kontemporer di era kekinian.

Pengajaran sastra yang digelar di persekolahan kita hingga saat ini terasa masih belum bisa menyentuh substansi serta mampu mengusung misi utamanya, yakni memberikan pengalaman bersastra (apresiasi dan ekspresi) kepada para peserta didik. Padahal, peranan pengajaran sastra memiliki fungsi yang sangat penting seperti yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, mata pelajaran Bahasa dan sastra Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. (1) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; (2) Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Sejatinya, bersastra bukan sekadar menghafalkan periodisasi sastra, di mana siswa hanya menghafalkan nama, asal serta nama karya sang sastrawan. Namun ada pemikiran yang jauh dari itu, bahwasanya ada perefleksian sikap dan nilai luhur yang semuanya bisa didapat dari pembelajaran sastra melalui apresisasi karya-karya sastrawan. Keefektifannya dalam mendiskusikan apa yang terkandung di balik karya itu, bisa menjadi satu hal yang mengasyikkan sekaligus tepat dan berhasil guna.

Kita semua mafhum benar bahwa mengajari anak membaca buku-buku semacam itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses tersebut meniscayakan guru-guru mengerahkan tenaga, pikiran, kesabaran, dan tentu saja wawasan yang sangat luas. Kalau literasi semacam itu dijadikan jantung pembelajaran, maka beberapa tahun ke depan, penulis yakin budaya literasi di Indonesia akan betul-betul terbentuk. Tidak hanya terjadi pada siswa, tapi pada masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

———- *** ———-

Rate this article!
Tags: