Memprihatinkan, 23 Persen Remaja Putri di Jatim Alami Anemia

Dr Andriyanto

Pemprov Jatim, Bhirawa
Pekerjaan rumah Pemprov Jatim dalam meningkatkan pemenuhan gizi pada anak cukup berat. Selain masalah stunting, pemenuhan gizi pada remaja di Jatim juga bermasalah. Hal itu dapat dilihat dari jumlah remaja yang mengalami anemia.

Berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jatim, jumlah remaja putri yang mengalami anemia sebanyak 23 persen dan remaja laki-laki 12 persen. Para remaja ini mengalami anemia karena sebagian besar diakibatkan kekurangan zat besi.

“Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktivitas,” ujar Kepala DP3AK Provinsi Jatim, Dr Andriyanto SH MKes, saat dikonfirmasi, Selasa (23/2).

Sebelumnya perlu diketahui, anemia sering dialami wanita karena kurangnya asupan atau konsumsi makanan yang mengandung zat besi, pengaturan pola makan yang salah, gangguan haid, termasuk penyakit lainnya, seperti cacingan, dan malaria. Gejala anemia yang umum terjadi, yakni lesu, letih, lemah, lelah, lunglai (5L).

Orang yang mengalami anemia ini sering mengeluh pusing atau sakit kepala, mata berkunang-kunang, sering mengantuk, kulit pucat atau kekuningan, detak jantung tak teratur, sesak napas, nyeri dada, tangan dan kaki dingin.

Menurut Andriyanto, membuat remaja dan calon pengantin tidak anemia menjadi langkah strategis untuk menyiapkan kehamilan yang sehat, karena akan memberikan asupan oksigen yang cukup kepada janinnya. Kehamilan yang sehat akan menurunkan kejadian angka kematian ibu dan bayi serta stunting.

Peran dinas pendidikan dan tenaga kesehatan dalam memberikan pendidikan gizi khususnya pada remaja putri , kata Andriyanto, diharapkan dapat menambah pengetahuan remaja putri tentang gizi dan anemia. Dengan demikian remaja putri diharapkan dapat mengubah pola makan sehingga asupan gizi menjadi lebih baik.

“Pemikiran yang terbuka dan karakteristik remaja yang masih dalam tahap belajar secara tidak langsung akan memengaruhi kebiasaan mereka. Dengan pendidikan gizi, remaja akan lebih mengenal kebiasaan baik dalam hal pemenuhan kebutuhan asupan gizi, sehingga dapat mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Di Jatim, jumlah remaja cukup banyak. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim yang dirilis pada 21 Januari 2021 menyebutkan, hasil Sensus Penduduk 2020, ada 71,65 persen penduduk Jatim berusia produktif (15-64 tahun), dan 24,8 persennya adalah Generasi Z yaitu berusia 8-23 tahun sebesar 10 juta jiwa.

“Intervensi kepada Generasi Z ini, melalui edukasi gizi yang tepat, akan berdampak pada penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi serta Stunting di Jawa Timur. Dan pada akhirnya akan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Timur,” pungkasnya.[iib]

Tags: