Menahan Rindu untuk Menghentikan Pandemi

Oleh :
Devy Mulia Sari S.KM
Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya

Masih pada topik yang menjadi permasalahan dunia, corona virus desease atau yang dikenal dengan covid-19 per tanggal 10 April 2020 telah mencapai 3.512 kasus. Berbagai anjuran dari pemerintah semakin dipertegas dengan adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Kabar terbaru yang disampaikan oleh Fadjroel Rachman selaku juru bicara Presiden menyatakan bahwa pemerintah pusat akan menggencarkan kampanye secara besar-besaran agar para perantau tidak mudik. Meskipun Presiden Joko Widodo tidak melarang secara resmi untuk mudik, namun hal tersebut membuat masyarakat khawatir ketika nantinya akan terjadi penutupan akses melalui jalur darat, laut maupun udara. Tidak sedikit perantau yang akan tetap berencana mudik mendekati bulan ramadhan dan hari raya Idul Fitri, karena pasalnya Idul Fitri merupakan ritual tahunan yang dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.
Hal tersebut sudah dapat dilihat melalui arus mudik yang terjadi lebih awal seperti yang disampaikan oleh Bapak Jokowi, bahwa terjadi mobilitas bus antar provinsi yang telah membawa kurang lebih 14 ribu penumpang dari Jabodetabek ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY.
Melalui tulisan ini saya berharap masyarakat dapat berpikir ulang mengenai rencana untuk mudik ke kampung halaman. Sebagai mahasiswa yang juga merantau jauh dari keluarga tentunya sangat merindukan moment berkumpul bersama keluarga, terlebih sudah mendekati bulan puasa yang notabene sering dihabiskan dengan keluarga di rumah. Namun, sebagai perantau dari wilayah zona merah merasa bahwa rasa sayang saya kepada keluarga jauh lebih besar dari rasa rindu. Saat ini kesehatan keluarga di Kampung jauh lebih penting.
Bukan Tanpa Alasan
Tentunnya pemerintah memiliki alasan kuat sehingga meminta masyarakat untuk menahan diri agar tidak mudik. Salah satu alasannya yaitu mudik dianggap bertolak belakang dengan adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar atau yang juga dikenal dengan physical distancing. Apabila masyarakat tetap bertekad untuk mudik, maka pemudik akan kesulitan menjaga jarak fisik satu dengan yang lain saat dalam kendaraan sehingga sangat memungkinkan terjadinya penularan Covid-19. Alasan lainnya yaitu apabila ada pemudik yang menularkan virus tersebut kepada keluarga dan juga orang lain, fasilitas di kampung yang tergolong minim dikhawatirkan tidak dapat sepenuhnya membantu pengobatan pasien yang akhirnya terjadi peningkatan angka kematian covid-19 di Indonesia.
Anjuran pemerintah pusat untuk melarang mudik pada masa pandemi juga diperkuat dengan adanya pemaparan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menjelaskan bahwa apabila masyarakat tetap mudik dari daerah terpapar ke suatu daerah lain, maka hal tersebut tidak diperbolehkan. Tidak hanya itu, dijelaskan pula dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari & Muslim “Jika kalian mendengar wabah melanda suatu Negeri maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya”. Melalui adanya anjuran tersebut yang juga diperkuat dengan hadis yang ada, maka sebaiknya masyarakat bisa untuk menahan ego agar tidak mudik tahun ini. Saya berharap masyarakat dapat memahami situasi sekarang, terlebih juga memikirkan keluarga di kampung dan hidup orang banyak.
Zaman sekarang teknologi sudah semakin maju, masyarakat yang merantau bisa memanfaatkan teknologi seperti Whats app video call, zoom, skype atau aplikasi media tatap muka lainnya untuk tetap menjalin komunikasi dengan keluarga di kampung halaman. Kondisinya memang akan terasa sangat berbeda dibandingkan bisa bertemu langsung dengan keluarga, namun perlu diingat lagi bahwa perlunya kita sebagai masyarakat memiliki sifat kemanuasian untuk tetap saling menjaga semata-mata untuk keselamatan diri, keluarga dan juga orang lain.
Mematahkan Prediksi
Seperti yang disampaikan oleh Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo, bahwa penyebaran covid-19 diprediksi akan mencapai 106.287 kasus pada bulan Juli 2020. Selain itu prediksi kasus covid-19 juga dilakukan oleh pakar statistika dan alumni MIPA UGM bahwa pandemi akan berakhir lebih kurang 100 hari setelah 2 Maret 2020 atau sekitar 29 Mei 2020 dengan jumlah minimum pasien positif covid-19 sekitar 6.200 orang.
Namun prediksi hanyalah sebuah perkiraan yang belum tentu benar. Prediksi tersebut sebenarnya bisa kita patahkan bersama apabila masyarakat satu dengan lainnya saling menyadari pentingnya pemutusan rantai penularan covid-19, yang salah satunya dengan menunda mudik ditengah pandemi ini. Namun sebaliknya, prediksi tersebut akan menjadi nyata bahkan angka positif covid-19 bisa jadi melonjak tinggi dari prediksi ketika jumlah pemudik terus bertambah.
Kesadaran akan bahaya covid-19 tanpa adanya implementasi dari masyarakat sendiri pun tidak akan menjadi solusi untuk meminimalisir kasus covid-19 di Indonesia. Masyarakat harus disiplin dalam menerapkan physical distancing dan mengikuti anjuran yang telah disampaikan oleh pemerintah.
Saatnya pemerintah dan juga seluruh elemen masyarakat bergerak bersama untuk melawan covid-19. Tidak hanya membiarkan tenaga medis yang bekerja untuk melawan covide-19, melainkan setiap individu juga mampu menjadi garda terdepan untuk dirinya sendiri, keluarga, dan keselamatan seluruh masyarakat Indonesia.

—————- *** ——————

Tags: