Menakar Efektifitas Program Embung Pertanian

Oleh :
Gumoyo Mumpuni Ningsih
Dosen FPP Universitas Muhmammadiyah Malang

Indonesia sebagai negara yang beriklim tropis yang hanya memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para petani. Pasalnya, bisa saja musim hujan berkepanjangan atau sebaliknya kemarau berkepanjangan yang justru berpotensi menimbulkan defisit atau kekurangan air saat masa taman. Melihat kenyataan yang demikian, logis adanya jika pemerintahpun berusaha memikirkan ketersedediaan air yang selama ini menjadi kendala saat musim kemarau, salah satunya, adalah perlu terhadirkannya program Embung pertanian.

Itulah, sekiranya sebagai solusi dalam menjawab persoalan perairan yang selama ini sebagai salah satu kendalam dalam sektor pertanian. Persoalannya, adalah seberapa efektifitas program Embung pertanian ini di negeri ini. Nah, melalui tulisan inilah penulis berusaha menimbang manfaat dan efektifitas dari program Embung pertanian yang kini sedang digalakkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan).

Meningkatkan produktivitas petani

Segala daya dan upaya untuk meningkatkan produktifitas petani memang perlu terus terkawalkan guna mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan. Dalam mewujudkan produktifitas pangan di setiap negara tentu tidak bisa disamakan, pasalnya setiap negara dalam meningkatkan hasil pertaniannya harus tersesuikan dengan kondisi iklim yang termiliki. Jika terperhatikan daerah pertanian sekitar 40-45% di dunia adalah di tanah tropis, sehingga pertanian di daerah tropis cukup membawa pengaruh terhadap pertanian di dunia.

Namun yang disayangkan karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhinya sehingga menyebabkan kualitas pertanian di tanah tropis tidak sebaik di daerah subtropis dan daerah lainnya. Salah satu faktor yang cukup mempengaruhi kondisi tersebut yaitu perubahan musim di daerah tropis yang tidak menentu. Dengan demikian, produktifitas pertanian Indonesia dengan Jepang, ataupun Korea tentu berbeda. Semua itu, salah satunya dipengaruhi oleh iklim.

Fokus pada produktivitas pertanian Indonesia yang beriklim tropis, tentu ini tidak mudah untuk diwujudkan, banyak produksi pertanian di daerah tropis tidak stabil, salah satu penyebabnya yaitu pada musim panas, terlebih tampungan air hujan yang tersedia tidak dimanfaatkan oleh para petani dengan maksimal. Hal ini menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan ketika musim panas, dengan keterbatasan air untuk melakukan pengairan pertanian, sehingga menyebabkan produksi pertanian yang tidak memuaskan, bahkan jumlah produksinya pun mengalami penurunan.

Oleh sebab itu, dibutuhkan penanganan air yang baik untuk daerah tropis jika tidak ingin kalah saing dengan kualitas produksi di daerah-daerah subtropis dan daerah lainnya. Padahal seharusnya, daerah tropis yang memiliki dua musim ini dapat memanfaatkan musim tersebut untuk produksi pertanian yang berkualitas dan maksimal, namun kenyataannya bertolak belakang.

Ada berbagai hal yang dapat dilakukan oleh petani dan juga masyarakat yang berada di daerah tropis untuk menghadapi perubahan musim yang dapat berubah-rubah tersebut yaitu, dengan menggunakan sumber daya yang ada secara bijaksana dan efisien, pengurangan gas rumah kaca, dan menggandakan pangsa sumber daya terbarukan dari energi primer untuk pembangkit listrik. Termasuk ketersediaan berkecukupan air guna menjaga irigasi pengairan pertanian.

Efektifitas embung pertanian

Salah satu teknologi untuk konservasi air terutama solusi pemecahan masalah kekeringan adalah terhadirkannya embung pertanian. Embung mempunyai fungsi menampung air hujan untuk kemudian disimpan dan digunakan pada saat kemarau sehingga nilai efektifitasnya bisa diandalkan dalam mengelola usahatani. Embung adalah bangunan yang berfungsi untuk menampung air hujan dan digunakan pada musim kemarau bagi suatu kelompok masyarakat desa khususnya dalam mengelola usahatani sawah tadah hujan.

Selain itu, Embung atau tandon air juga bisa dikatakan sebagai waduk berukuran mikro di lahan pertanian (small farm reservoir) yang dibangun untuk menampung kelebihan air hujan di musim hujan. Air yang ditampung tersebut selanjutnya digunakan sebagai sumber irigasi suplementer untuk budidaya komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi (high added value crops) di musim kemarau atau di saat curah hujan makin jarang (Linsley, 1986 dalam Simbolon, 2016).

Dari kajian teoritis tersebut, dapat tersimpulkan bahwa air yang dipasok dari embung, membantu tanaman padi pada sawah tadah hujan agar terhindar dari kekeringan dan kerusakan atau puso yang menjadi bahaya paling mengancam tanaman padi. Berangkat dari nilai manfaat dari Embung pertanian itulah, berikut penulis jabarkan tentang nilai efektifitas embung bagi pertanian.

Pertama, embung memberikan pasokan air stabil pada lahan sawah. Ketika musim kemarau tiba petani tidak perlu khawatir karena ada embung ini yang akan memasok air sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga. Dengan demikian, petani dapat mengatur sirkulasi air sesuai dengan kebutuhan tanaman padi atau pangan mereka agar tumbuh subur dan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Kedua, embung bisa mendukung aktivitas perkebunan, hortikultura, dan ternak. Itu artinya, embung bukan hanya bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan di sawah, tetapi juga bisa untuk mendukung aktivitas perkebunan, hortikultura, juga ternak. Kita harapkan embung bisa dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan pendapatan petani

Ketiga, embung diharapkan mendukung peningkatan pendapatan petani. Itu artinya embung diharapkan berperan sebagai faktor teknis yang dapat membantu meningkatkan produktivitas petani yang ada, hingga akhirnya jika produktivitas petani meningkat maka logikanya kesejahteraan petani juga meningkat.

Keempat, keberadaan embung bisa mengubah budaya bercocok tanam para petani, yang semula menggunakan cara diampo atau menebar benih secara langsung di lahan, selanjutnya petani bisa mulai dengan cara umum seperti yang digunakan oleh petani sawah irigasi yaitu tanam pindah.

Melalui keempat nilai efektifitas embung bagi pertanian tersebut diatas, jika benar-benar digalakkan di sektor usaha pertanian maka besar kemungkinan memiliki potensi pada peningkatan hasil tani, pasalnya keberadaan air menjadi faktor penting bagi keberlanjutan sektor pertanian. Pasalnya, air mampu meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) petani. Jadi dengan demikian, embung merupakan program strategis dalam konteks pengairan lahan pertanian yang memang perlu terus terkawal nilai efektifitasnya, karena bagaimana juga sektor usaha pertanian tidak boleh terganggu oleh faktor apapun.

———- *** ———–

Tags: