Menanam Cegah Banjir

Rumput akar wangi, bersama pohon tegakan tinggi dapat diandalkan menguatkan area berbukit. Penyusutan daya dukung lingkungan wajib segera diupayakan ke-asri-annya, menghindari longsor. Sekaligus menguatkan perekonomian ke-arifan lokal hortikultura. Pencegahan bencana kini bisa dilakukan sembari memetik keuntungan hasil panen budidaya berbagai tanaman. Diperlukan sinergi lebih luas antar-kelembagaan.
Kinerja pelestarian lingkungan memiliki pengharapan baru, dimulai oleh presiden Jokowi, menanam akar wangi (disebut pula narwastu). Masyarakat desa Pasir Madang, Sukajaya, Bogor, bersama presiden Jokowi mengembalikan fungsi lahan. Akar wangi (di Batak disebut hapuas) ditanam bersama pohon tegakan hortikultura, antara lain, durian, nangka, petai, dan jengkol. Seluruh pohon biasa ditemui di kawasan Bogor barat (mulai Cigudeg, Nanggung, dan Sukajaya).
Kunjungan presiden ke kecamatan Sukjaya, sampai dua kali dilakukan. Hal itu sebagai metode penecegahan pemerintah bersama masyarakat. Perlu makin bijak menjaga lingkungan. Pemerintah daerah (propinsi, serta kabupaten dan kota) seyogianya menyusun mapping kebencanaan berdasar kondisi terbaru. Koordinasi revitalisasi lingkungan juga wajib dilakukan pemerintah pusat, untuk menjamin kelangsungan perekonomian daerah.
Kawasan Bogor barat, terdampak cuaca hujan ekstrem awal tahun. Seluas 1500 hektar ladang terendam banjir. Sebanyak 3.500 rumah rusak, sehingga harus direlokasi. Pemerintah telah mulai membangun rumah relokasi sebagai hunian tetap pada areal dseluas 81,7 hektar. Juga uang tambahan belanja sebesar Rp 500 ribu per-kepala keluarga per-bulan. Kepedihan paliong mendalam, adalah kehilangan 17 jiwa anggota keluarga.
Setelah bencana, selalu tersedia ribuan proposal penanggulangan banjir dan longsor. Walau sebenarnya, bencana tidak pernah datang tiba-tiba. Melainkan selalu terdapat warning alamiah, namun biasanya diabaikan. Sebenarnya pula, daya dukung lingkungan yang makin buruk telah diketahui. Tebing dan bantaran sungai yang kritis sudah lama terlihat oleh masyarakat dan aparat. Tetapi tidak cepat di-antisipasi. Pemerintah daerah (dan desa) sering abai.
Akar wangi (di Ternate disebut garamakusu batawi) menjadi pengharapan. Seluruh daerah di Indonesia mengenal akar wangi. Jenis rumput vetiveria ini memiliki nama ilmah chrysopogon zizanioides. Asal dari India, biasa digunakan sebagai bahan pengharum, juga kosmetika, dan obat-obatan. Misalnya, meringankan nyeri persendian (termasuk asam urat), dan bengkak. Tetapi sebagai rerumputan, usia akar wangi, hanya 9 bulan. Bisa dipanen.
Berdasar proposal yang diterima BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), akar wangi memiliki kekuatan kira-kira seper-enam baja. Bersifat mengikat tanah, sampai kedalaman 2,5 meter. Penanaman bisa dilakukan sepanjang tahun. Selang enam bisa ditanam benih rumput baru, yang lama dipanen. Maka diperlukan penguatan pohon tegakan tinggi sebagai pendamping yang berusia sampai puluhan tahun. Diantaranya, durian, nangka, petai, dan jengkol.
Kawasan perbukitan akan kembali hijau, mencegah longsor, dan “meng-aman-kan” ladang padi di bawahnya. Sekaligus menguntungkan secara ke-ekonomi-an. Beberapa daerah di Indonesia, memiliki topografi, dan jenis kontur tanah yang nyaris sama. Termasuk di Jawa Timur, antara lain di Pacitan, Ponorogo, dan Jember. Di Ponorogo (Jawa Timur), akhir musim hujan (awal April 2017), longsor merenggut 60 korban jiwa.
Di Jember, duka nestapa mendalam pernah terjadi bencana tanah longsor area hutan lindung, di kecamatan Panti, Januari 2006. Menyebabkan 80 korban jiwa. Kementerian Kehutanan (bersama LIPI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), menyimpulkan telah terjadi alih fungsi lahan. Kawasan perbukitan di Ponorogo, dan Jember, telah berubah menjadi lahan perkebunan kopi, dan teh. Akarnya tidak kuat menahan curah hujan ekstrem. Puncak musim hujan. Pemerintah (dan daerah) seyogianya lebih siaga mengamankan lingkungan mencegah keparahan dampak musim.
——— 000 ———

Rate this article!
Menanam Cegah Banjir,5 / 5 ( 1votes )
Tags: