Menangkal Impor Pangan

Oleh :
Dyah Titi Muhardini
Dosen FPP Universitas Muhammadiyah Malang

Indonesia sebagai negara agraris seyogyanya tidak melakukan impor bahan pangan. Ada baiknya, impor bisa dilakukan dalam kondisi mendesak saja. Pasalnya, kebutuhan pangan dalam negeri idealnya bisa dijawab dengan intensitas penyerapan hasil panen petani. Oleh sebab itu, di tahun-tahun mendatang impor pangan bisa terus ditekan. Nah, melalui rubrik opini diharian inilah penulis berusaha mengkaji dan mencarikan berbagai alternatif solusi yang bisa ditangkal agar negeri ini tidak selalu impor pangan.

Perkuat lumbung pangan masyarakat

Demi mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045 dan dalam upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat, Kementerian Pertanian (Kementan) kian memperkuat peran lumbung pangan masyarakat desa yang dinilai saat ini menjadi sangat strategis. Pasalnya, Lumbung Pangan Masyarakat ini sangat penting untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat, apalagi di masa pandemi ini.

Logis adanya, jika dalam upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat, Kementan tersebut dinilai sebagai langkah yang sangat strategis. Lumbung Pangan Masyarakat ini sangat penting untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat. Selain itu, Lumbung Pangan Masyarakat Desa juga sangat penting untuk mengatasi masalah pangan akibat bencana alam, keadaan darurat, dan disaat paceklik sehingga masyarakat yang membutuhkan dapat meminjam gabah/beras dan dikembalikan pada saat petani sudah panen. Tentu dengan tambahan keuntungan bagi lumbung yang disepakati bersama. Dengan demikian stok pangan di lumbung tetap terjaga volumenya, bahkan dapat terus bertambah.

Hal ini tentunya mendorong peningkatan kebutuhan penyediaan pangan. Upaya eskalasi peran lumbung pangan juga terus dilakukan oleh Pemerintah, yang diwujudkan melalui kerja sama antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Desa. Ditargetkan penumbuhan 1.000 Lumbung Pangan Masyarakat Desa melalui sinergi antara gapoktan dengan BUMDesa dalam pengelolaan LPMDes. Selain itu, demi mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045, pemerintah melalui Kementerian Pertanian tengah seperti terketahui telah mengembangkan kawasan food estate (lumbung pangan) di sejumlah provinsi di Tanah Air, di antaranya Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, dan Jambi.

Itu artinya, basis pertanian bisa terlihat jelas terdapat di wilayah Sulawesi Selatan. Produktivitas padi di provinsi itu juga sangat melimpah (5,15 juta ton gabah kering giling), dengan mencatatkan surplus beras 1,96 juta ton. Sementara itu, pemerintah juga menyiapkan program lumbung pangan di Provinsi Jambi dengan mengoptimalkan pertanian rawa. Dengan luas kawasan mencapai belasan ribu hektare, program lumbung pangan di Jambi akan difokuskan di tiga kabupaten, yaitu Muarojambi, Tanjungjabung Barat, dan Tanjungjabung Timur, (Republika, 16/1/2022).

Komoditas yang menjadi unggulan ialah padi, hortikultura, jagung, dan budi daya peternakan. Keberadaan lumbung pangan atau program food estate yang memberikan banyak manfaat bagi petani. Oleh sebab itu, untuk mewujudkan lumbung pangan nasional tentu diperlukan komitmen dan kerja sama yang solid untuk menegakan ketahanan pangan nasional yang merata dan kuat.

Tingkatkan daya saing

Indonesia sebagai negara agraris, menjadi suatu hal yang ilmiah jika hingga kini sektor pertanian tetap menjadi perhatian dan tonggak yang menopang pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan Indonesia dan salah satu permasalahan utama sumber daya manusia (SDM) pada sektor pertanian adalah rendahnya produktivitas tenaga kerja. Logis adanya, jika beragam upaya percepatan dalam pengembangan sektor pertanian telah banyak dilakukan oleh Pemerintah, terutama yang berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan pokok.

Pengembangan sektor pertanian selama ini masih dihadapkan pada berbagai masalah yang sulit untuk diatasi. Salah satu masalah yang harus segera diatasi, yaitu terkait upaya peningkatan daya saing produk di sektor pertanian agar produk pertanian mampu bersaing dalam dinamika pasar dan permintaan konsumen terutama di pasar global. Oleh sebab itu, kreativitas dan inovasi merupakan modal dasar dalam peningkatan keuntungan kompetitif suatu produk pertanian.

Untuk memaksimalkan pangsa pasar dalam negeri dan memperkuat daya saing produk pertanian di Indonesia perlu dilakukan langkah-langkah yang sinergis antara pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat tani sendiri, dengan orientasi untuk senantiasa membangun kualitas dan nilai tambah serta peningkatan efisiensi pada sektor pertanian. Berangkat dari kesadaran itulah, sekiranya bisa menangkal impor pangan. Untuk lebih detailnya, berikut ini beberapa langkah upaya dalam meningkatkan daya saing sektor pertanian guna menangkal impor pangan.

Pertama, peningkatan daya saing produk pertanian domestik akan menjadi kunci dalam menangkis impor pangan. Peningkatan daya saing itu bisa melalui perbaikan kemampuan petani untuk menghasilkan produk dengan kualitas terbaik dengan metode seefisien mungkin dan dalam jumlah yang mencukupi. Perbaikan ini bisa dilakukan baik dengan meningkatkan kemampuan individu atau pengetahuan petani melalui perbaikan sumber daya manusia yang memang digagas pemerintah dan adopsi dengan teknologi.

Kedua, sisi kebijakan dan kelembagaan petani sebagai salah satu penunjang efisiensi produksi pertanian, perlu kiranya untuk mendapat perhatian yang lebih banyak lagi. Terkait dengan potensi sumberdaya lahan, maka perlu untuk dipikirkan tentang bagaimana kebijakan terkait konsolidasi lahan pertanian, dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah luasan penguasaan lahan pertanian untuk per individu petani, sehingga efisiensi usahatani akan semakin dapat ditingkatkan.

Ketiga, penggunaan teknologi budidaya yang tepat dan input yang lebih efisien perlu untuk terus ditingkatkan dan dikembangkan. Efisiensi dalam produksi senantiasa berkaitan dengan produk dan distribusi, dengan adanya kombinasi antara input yang optimal untuk dapat menghasilkan output yang optimal dengan biaya yang efisien.

Melalui ketiga langkah upaya dalam meningkatkan daya saing sektor pertanian tersebut diatas, sangat terlihat jelas bahwa keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian secara penuh sangat diperlukan, dan besar kemungkinan melalui ketiga langkah upaya dalam meningkatkan daya saing sektor pertanian tersebut diatas, jika terimplementasikan secara maksimal maka negeri ini akan berpotensi mampu menangkal impor pangan yang selama ini selalu menyimpan diskursus dan dilema sebagai negara agraris.

———- *** ———-

Rate this article!
Menangkal Impor Pangan,5 / 5 ( 1votes )
Tags: