Menelisik Komunitas Bersepeda Saat Pandemi

Oleh:
Sriyatni
Guru SDN Sumurjalak II Plumpang Tuban

Olahraga bersepeda menjadi favorit seluruh masyarakat Indonesia, baik di desa maupun di kota. Berbagai komunitas menjamur, mulai remaja hingga yang sudah purna tugas tak mau ketinggalan. Masing-masing mempunyai kegemaran yang hampir sama touring keberbagai penjuru. Bahkan mereka rela merogoh kocek dalam-dalam demi sebuah prestige untuk memenuhi hobinya ini.

Toko-toko sepeda ramai pengunjung setiap hari. Bahkan kadang-kadang barang yang dicari sulit didapatkan. Mereka harus indent terlebih dahulu untuk mendapatkan sepeda impian. Harganya juga cukup fantastis, bisa mencapai puluhan juta. Belum lagi asesoris pendukung yang digunakan. Mulai kostum, pelindung diri, dan pernak-pernik yang lain. Di saat pandemi usaha yang lain sedang tertekan, namun tidak dengan produsen dan distributor sepeda.

Bersepeda merupakan olahraga yang sangat mudah dan murah. Mereka bisa bernostalgia dengan teman lama. Naik turun gunung itu sudah biasa bagi mereka. Suatu kegiatan yang memacu adrenalin bila mereka menemukan track yang menantang. Saling support anggota komunitas juga terjalin begitu akrab.

Tidak hanya kalangan bapak-bapak saja. Para ibu juga tak mau kalah. Ibu-ibu biasanya bersepeda di jalanan yang landai-landai saja. Berselfi ria dan makan bersama yang jadi favorit mereka. Dengan alasan meningkatkan imun tubuh, walaupun capek tetap dijalani juga. Kalau klub pesepeda ibu-ibu ini biasanya seragamnya luar biasa. Bahkan ada ibu-ibu yang setiap sore melakukan touring sepeda ramai-ramai.

Coba saja setiap weekend anda pergi ke tempat wisata atau ke gunung-gunung. Banyak akan anda temui komunitas pesepeda dari berbagai penjuru. Mereka melakukan touring untuk melepas penat seusai beraktivitas. Dengan bersepeda pikiran menjadi fresh dan dapat bekerja kembali dengan bugar katanya.

Bersepeda yang dikenal dengan istilah gowes bagi orang kota lain halnya. Mereka menikmati weekend atau liburan dengan bersepeda di jalanan dan berakhir di taman-taman kota. Tentu kebiasaan berolahraga ini harus dibarengi dengan kekuatan fisik yang prima. Kehati-hatian juga merupakan satu hal yang tak bisa diabaikan.

Kecelakaan pesepeda sering didengar. Hal ini kadang disebabkan kelalaian atau kecelakaan murni. Penyebabnya beragam, ada yang tidak mematuhi aturan lalu lintas ketika bersepeda di jalan raya. Biasanya mereka banyak yang menerobos lampu merah. Alhasil tertabrak oleh kendaraan lain atau bersenggolan yang berakibat fatal. Ada pula yang menggunakan jalur ekstrim dan sepeda tidak dilengkapi keamanan standart seperti rem dan sebagainya sehingga terjadi kecelakaan pula.

Namun, tak jarang klub-klub pesepeda ini bergotong-royong menyiapkan segala sesuatunya. Misalnya: alat-alat bengkel kecil, tambal ban, pompa, dan lain-lain untuk mengantisipasi kejadian tak terduga di perjalanan. Komunitas juga dilengkapi dengan anggota yang mengerti mekanik sepeda, sehingga mereka bisa bahu-membahu jika ada teman yang mengalami kerusakan sepedanya.

Ada juga komunitas yang selalu menyiapkan bekal bersama. Ada yang membawa makanan, minuman, atau bahkan rujakan untuk dinikmati bersama ketika berada di alam terbuka. Mereka juga membawa ayam bumbu, jagung, dan umbi-umbian yang nanti dibakar bersama ketika berada di hutan. Dengan mengumpulkan kayu bakar, membuat perapian, membakar makanan, dan menikmatinya bersama serasa merasakan hal yang luar biasa nikmatnya.

Touring keluar kota biasanya dilakukan komunitas-komunitas pesepeda untuk mencari suasana baru atau mengikuti kegiatan daerah lain. Jika ada kegiatan bersama mereka selalu datang dari berbagai penjuru untuk turut serta meramaikan. Kadang ada undian berhadiah dengan mendaftarkan komunitas sebelum mengikuti acara. Ada juga hiburan musik untuk menyemarakkan suasana seusai lelah bersepeda. Namun, di masa pandemi ini kegiatan itu sudah jarang sekali diadakan.

Keramaian para pecinta olahraga bersepeda ini kadang juga dimanfaatkan oleh penduduk sekitar arena. Baru-baru ini terdengar di media massa santer diberitakan. Fenomena bersepeda jalur gadis desa di Malang Jawa Timur. Ternyata ada oknum yang merubah jalur event tersebut. Para goweser yang didominasi kaum Adam ini dimanfaatkannya. Mereka menawarkan foto selfi di sungai bersama gadis-gadis cantik yang menggunakan kemben(kain batik sedada),tiap satu kali foto dibandrol Rp 50.000,00. Sungguh berbagai macam cara dilakukan orang untuk mendapatkan uang.

Tips bersepeda yang aman agar terhindar dari hal-hal buruk yang mungkin terjadi di saat pandemi. Tetap patuhi protokol kesehatan dengan 3 M, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanistaiser, dan tetap menjaga jarak. Jangan lupa dengan Aman, Iman, Imun. Aman artinya selalu menjaga kesehatan. Iman artinya tetap sabar dan tawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa. Imun tubuh ditingkatkan dengan makan makanan bergizi, berolahraga, dan istirahat yang cukup.

Dengan meningkatkan imun tubuh maka, akan terhindar dari virus covid 19 dan dapat bersepeda dengan aman dan nyaman. Jangan lupa tetap jaga kesehatan dengan bersepeda yang aman dan mentaati peraturan lalu lintas yang ada. Semoga semua diberi kesehatan dan keselamatan untuk terus berkarya bagi Indonesia tercinta.

————— *** —————

Tags: