Menengok Petilasan Syech Maulana Ishak di Situbondo

Juru kunci petilasan Syech Maulana Ishaq di Situbondo, M Hudaili Samsul Mu’arif, memberikan penjelasan kondisi terakhir makam kuno para raden terdahulu. [sawawi]

Menjadi Komplek Makam para Raden, Tiap Malam Jumat Manis Ramai Peziarah
Kabupaten Situbondo, Bhirawa
Situbondo dikenal sebagai salah satu daerah yang banyak memiliki situs sejarah kuno. Satu diantaranya makam kuno para raden yang berada di areal petilasan Syech Maulana Ishaq. Pusat sejarah ini terletak di perbatasan Dusun Bantongan, RT 001/RW 001 Desa Sumberkolak, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo. Sebagian makam tersebut masuk di wilayah Dusun Kotakan Utara, Desa Kotakan, Kecamatan Kota Situbondo. Konon dilokasi ini banyak hal unik dan menyimpan sejumlah misteri yang masih belum terungkap.
Pagi itu, suasana petilasan sepi. Maklum saja, banyak warga yang ada di sekitar petilasan melakukan aktifitas seperti bertani, berdagang dan menjalani profesi yang lain. Disana hanya ada satu petugas juru kunci petilasan Syeck Maulana Ishak bernama M Hudaili Samsul Mu’arif sedang duduk. Ketika didatangi, pria yang akrab disapa Hudaili itu mempersilahkan kepada tamu-tamu yang hendak berkunjung ke kawasan petilasan. Hudaili memberitahu pusat makam selalu ramai jika memasuki malam Jumat manis.
Menurut Hudaili, di kawasan ini sedikitnya ada 41 makam kuno. Di dalam areal ini pula ada banyak para raden yang disemayamkan di petilasan Syech Maulana Ishaq. Misalnya saja ada makam R Aryo Hanafi; R Kusumo Ningayudho bin Sulton Abdurrahman; R Aryo Joyo Supeno; R Aryo Amijodjo; R Aryo Muhammad Asfa. Tak hanya itu, sebut Hudaili, di petilasan tersebut juga dimakamkan R Aryo Muhammad Saleh; R Ajeng Siti Aisyah, Sayid Muhammad Al Magrobi. “Disini juga ada makam Bupati Banyuwangi pertama berikut istri serta raden yang lain,” sebut Hudaili.
Disela-sela berbincang, Hudaili mengaku di petilasan Syech Maulana Ishak masih menyimpan sebuah misteri yang hingga saat ini belum terungkap ke publik. Kata Hudaili, makam kuno yang ada di Petilasan Syech Maulana Ishaq Bantongan Sumberkolak tersebut, banyak menimbulkan tanda tanya warga. “Ini karena sampai saat ini belum ada penelitian atau keterangan tertulis tentang raden-raden dari keturunan mana saja yang dimakamkan di tempat petilasan ini,” papar Hudaili.
Masih kata Hudaili, diantara 41 makam kuno itu, salah satunya terdapat makam R Kusumo Ningayudho bin Sulton Abdurrahman yang mempunyai gelar Pangeran Situbondo atau Pangeran Mariem. Hudaili kembali menegaskan, penegasan sejarah ini masih sama yakni tidak memiliki keterangan secara tertulis dan hanya mengacu kepada keterangan para pendahulu semata yang dituturkan secara turun temurun.
“Almarhum orang tua saya mengatakan di areal makam kuno para raden ini terdapat makam R Kusumo Ningayudho bin Sulton Abdurrahman. Dia memiliki gelar Pangeran Situbondo atau Pangeran Mariem,” jelas Hudaili.
Lebih lanjut Hudaili menjelaskan, selama dirinya menggantikan posisi almarhum ayahnya sebagai juru kunci di Petilasan Syech Maulana Ishaq Bantongan Sumberkolak tidak pernah diberi tahu secara rinci tentang silsilah keturunan para raden dimaksud. Raden-raden itu juga belum terungkap jelas asal muasalnya sehingga tercatat di Petilasan Syech Maulana Ishaq Bantongan. “Yang saya tahu dia ada keturunan dari Raden Madura dan Besuki,” tutur Hudaili.
Namun ada yang unik, sambung Hudaili, setiap memasuki malam Jumat manis, keberadaan petilasan Syech Maulana Ishaq Bantongan, selalu ramai dikunjungi peziarah yang datang dari dalam dan luar Kabupaten Situbondo.
“Banyak para peziarah berdoa di bekas tempat shalat Syech Maulana Ishaq. Mereka juga banyak yang berdoa di makam R Kusumo Ningayudho bin Sulton Abdurrahman yang mempunyai gelar Pangeran Situbondo atau Pangeran Mariem,” ujar Hudaili.
Sebagai juru kunci, sambung Hudaili, pihaknya tidak terlalu peduli risalah raden-raden tersebut dari keturunan mana saja. Dalam pandangan Hudaili, ia hanya murni menjalankan tugas menjadi juri kunci di petilasan Syech Maulana Ishaq Situbondo. “Ya, ini saya biasa diminta memimpin doa dan juga merawat makam-makam kuno yang berjejer tersebut,” papar Hudaili.
Hudaili kembali menuturkan, para pezirah yang datang di areal petilasan atau bekas tempat sholat Syech Maulana Ishaq Bantongan itu berharap hajatnya cepat terkabul. Tak sedikit warga asal luar Situbondo kerap kali datang untuk melakukan ziarah di pusat petilasan Syech Maulana Ishak ini. “Ya semua peziarah itu datang ke tempat ini untuk berdoa agar keinginannya bisa tercapai,” pungkas Hudaili.
Abdul salah satu warga asal Banyuwangi yang berhasil ditemui di lokasi petilasan mengakui ia baru beberapa kali berziarah ke pusat makam Syech Maulana Ishak Bantongan Situbondo. Abdul mengaku datang berziarah murni untuk menghormati para pendahulu yang konon di makamkan di lokasi tersebut. “Ya saya biasa datang setiap memasuki malam Jumat manis,” tegasnya. [sawawi]

Tags: