Menengok Prospek Kakao di Masa Depan

Oleh :
Anggita Ayunda Sakuntala
Mahasiswa Magister Agribisnis DPPS Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang

Membahas mengenai cokelat pasti kita tidak bisa terlepas dari yang namanya komoditas pertanian Kakao. Kakao sendiri merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan yang dimiliki oleh Indonesia. Beberapa isu mengenai kakao banyak mencuat di media massa, mulai dari Indonesia sebagai negara ketiga produsen kakao terbesar di dunia, isu alih fungsi lahan perkebunan kakao, investasi, hingga yang masih menjadi atensi dari tahun 2018 hingga saat ini adalah isu mengenai kepunahan Kakao yang terjadi pada 2050. Adanya isu kepunahan kakao ini bukan tanpa sebab. Melansir dari Kompas.com, isu kepunahan kakao disebabkan oleh beberapa faktor seperti pemanasan global, perubahan habitat serangga sebagai fasilitator dalam penyerbukan kakao, minimnya regenerasi petani muda, hingga produktivitas kakao yang ada di Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya.

Menanggapi adanya isu-isu ini, kita dapat mencoba untuk memahaminya dengan pendekatan melalui prespektif ekonomi makro sehingga kita bisa memahami kiranya apa dan bagaimana masa depan kakao di Indonesia dan benarkah kakao akan punah sekian puluh tahun yang akan datang? Lantas bagaimana imbasnya jika kakao benar-benar akan punah?

Menungutip data dari Outlook Kakao 2020 dikatakan bahwa terhitung dari tahun 2011 hingga 2020 kakao Indonesia mengalami penurunan rata-rata luas area lahan sebesar 0.39% pertahun, penurunan produksi dengan rata-rata 0,41% pertahun, dan penurunan produktivitas sebesar 1,21% per tahun. Penurunan ini tentu akan membahayakan keberlangsungan pertanian kakao di Indonesia. Adanya penurunan luas lahan sendiri salah satunya disebabkan oleh alih fungsi lahan oleh beberapa daerah perkebunan kakao, sedangkan di indonesia sendiri perkebunan kakao didominasi oleh perkebunan rakyat sehingga ketika petani berganti komoditi sudah barang tentu ini akan membuat luas area perkebunan kakao menurun dan ketika luas area perkebunan menurun dan tidak diimbangi dengan adanya teknologi yang mumpuni terhadap perkebunan kakao baik dari hulu hingga hilir maka produksi dan produktivitas kakao sudah barang tentu akan menurun juga. Beberapa perkebunan kakao sendiri di Indonesia banyak yang tidak begitu dirawat, terutama ketika fluktuasi harga kakao menunjukan arah dimana harga murah, petani baru melakukan pengendalian OPT dan perawatan pohon ketika harga kakao naik, hal ini sungguh sangat disayangkan dan perlu adanya solusi yang tepat dari pemerintah.

Pemerintah sendiri saat ini melalui Ditjen perkebunana telah mengupayakan adanya perluasan lahan, seperti yang dilakukan di 8 provinsi dengan luas 740 ha atau 590.000 batang pohon, peremajaan yang dilakukan di Aceh, Sumatra Utara, Sulawesi tengah, Sulawesi selatan, Sulawesi barat, hingga Sulawesi tengah dengan luas area 4.250 ha atau dengan jumlah pohon sebanyak 4.164.000 batang tanaman. Pemerintah melalui Ditjen Perkebunan juga mencanangkan pemberian bantuan alat pascapanen sebanyak 33 unit yang terbagi di beberapa daerah perkebunan kakao. Perlu diketahui juga proses pascapanene kakao di beberapa petani di Indonesia dapat dikatakan juga kurang baik, hal ini karena beberapa petani tidak melakukan fermentasi terhadap biji kakao padahal apabila proses pasca panen dilakukan dengan baik kakao indonesia tentu dapat memperoleh harga yang lebih baik sehingga adanya program pemerintah melalui Ditjen Perkebunan ini sangatlah besar harapannya untuk mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas kakao Indonesia. Hal ini menjadi krusial mengingat potensi ekspor kakao di dunia sangatlah besar.

Neraca perdagangan kakao d dunia terhitung dari tahun 2008 hingga 2017 lalu menunjukan nilai defisit dimana nilai impor lebih tinggi dari ekspor, berbanding terbalik dari itu neraca perdagangan kakao di Indonesia menunjukan surplus. Hal ini tentu tak terlepas dari tingginya produksi kakao di Indonesia sedangkan konsumen kakao di Indonesia tidaknya banyak. Menurut informasi dari Food and Agriculture Organization pada 2019 konsumsi cokelat di Indonesia masih kalah jauh dengan Swis, Jerman, dan Norwegia yang mengkonsumsi cokelat pada kisaran 10kg/ tahun/orang, sedangkan Indonesia hanya 0,5 kg/tahun/orang.

Neraca perdagangan Indonesia yang menunjukan nilai surplus ini juga didukung oleh nilai ekspor kakao Indonesia yang menurut Kementrian Perindustrian dikatakan bahwa tahun lalu, terhitung bulan Januari hingga Juni nilai ekspor produk Kakao mencapai 7,9 triliun. Kakao juga menjadi komuditas yang oleh Kemenperin akan dikembangkan dalam rencana induk pembangunan industri nasional (RIPN) 2015-2035.

Di Indonesia sendiri kakao di olah menjadi beberapa produk turunan seperti untuk keperluan industri makanan dan minuan cokelat, kosmetik, dan obat. Indonesia sendiri memiliki produk olahan cokelat yang cukup dikenal di luar negri yakni Silver queen. Selain itu, Indonesia juga memiliki pusat penelitian kakao yang sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai sarana pengembangan kakao.

Saat ini juga telah dibangun pusat penelitian kakao bersekala global di Indonesia tepatnya di Pasuruan Jawa Timur. Pembangunan pusat penelitian kakao ini didirikan oleh Ondelez Internasional yang merupakan perusahaan snak cokelat dengan produk turunannya seperti Cadbury Dairy Milk, Kraf, Oreo, hingga cokelat Toblerone. Tujuan pembangunan Pasuruan Cocoa Technical Center ini tak lain ialah untuk mendorong industri kakao di Indonesia untuk mampu dikembangkan secara global. Hadirnya PCTC ini juga memberikan peluang investasi yang bernilai hingga 190,5 miliar rupiah. Pembangunan ini juga sangat diapresiasi oleh pemerintah.

Melihat peluang masa depan kakao di Indonesia yang cukup menjajikan apabila dikelola dengan baik, sangat disayangkan apabila isu punahnya kakao itu akan benar ada. Sebab, apabila kakao punah sudah tidak tebayangkan seberapa banyak pekerja yang bekerja di industri kakao baik hulu hingga hilir yang akan ikut terancam dan harus alih profesi. Namun, saat ini sektor pekerjaan di bidang perkebunan kakao juga tengah mengalami krisis regenerasi petani, dimana petani kakao banyak di dominasi kaum tua. Sehingga perlu adanya penerapan agroteknologi yang baik untuk meningkatkan produktivitas kakao dan dukungan baik dari pemerintah, perusahaan, maupun petani kakao agar kakao tetap bisa berproduksi, serta perlu adanya edukasi terhadap pemuda mengenai urgensi pertanian kakao di Indonesia.

———– *** ———-

Rate this article!
Tags: