Mengenal Komunitas Ndonesa Negeri Dolanan Anak Desa

Sejumlah anak asyik main dolanan anak desa yang dipelopori Komunitas Indonesia Negeri Dolanan Anak Desa. [wiwit agus pribadi]

Batasi Penggunaan Gawai, Ajak Anak-anak Tinggalkan Gadget Lewat Dolanan
Kab Probolinggo, Bhirawa
Menjaga interaksi sosial di era transformasi digital saat ini bukan hal mudah. Namun, juga tidak sulit dilakukan. Salah satu caranya, mengalihkan anak dari gadget dan mengenalkan mereka pada permainan nonindividu. Seperti yang dilakukan Komunitas Ndonesa Negeri Dolanan Anak Desa.
“Hompimpa Alaium Gambreng,”. Demikian bunyi mantra pembuka terdengar dari puluhan anak pagi itu. Mereka meneriakkannya dengan penuh keyakinan dan penuh canda tawa. Sejurus kemudian, puluhan anak itu berlarian di sebuah halaman rumah yang lapang, di Dusun Lamur, Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo.
Di sisi lain, langkah kaki sejumlah dalang dari Komunitas Ndonesa Negeri Dolanan Anak Desa Jatiurip terdengar cepat. Terburu-buru menyiapkan alat permainan yang mudah didapat di kehidupan sehari-hari. Seperti sarung, batu, serta bambu.
Riuh suara anak-anak kembali terdengar, saat sejumlah anak bermain balap sarung. Permainan pertama yang dimainkan. Balap sarung ini dimainkan antarkelompok. Tiap kelompok beranggota masing-masing lima anak.
Mereka lantas membentuk lingkaran sembari menggenggam tangan teman di sebelahnya. Sarung kemudian dikalungkan pada salah satu anak. Sarung ini harus dipindah bergantian dari satu anak ke anak yang lain.
“Sarung yang dikalungkan harus dipindah dari satu anak ke anak lainnya. Tapi, tanpa melepas genggaman,” Kata khairul Umam, 25, salah satu penggagas komunitas Ndonesa Negeri Dolanan Anak Desa Jatiurip, Selasa (25/1).
Ragu bercampur senang, terlihat jelas dari raut wajah sejumlah anak yang bermain. Ragu, karena mereka jarang bermain mainan seperti itu. Apalagi, selama bermain mereka harus berinteraksi dengan anak lain. Yang mereka kenal selama ini kebanyakan gadget. Dimainkan di rumah, tanpa terlibat interaksi dengan anak lain.
Tidak hanya balap sarung yang dimainkan pagi itu. Ada enam permainan tradisional lain yang dimainkan sampai siang. Mulai uncal sarung, balang watu, wenga, bakiak panjang, damparan, dan klompen batok.
“Ini adalah permainan tradisional sejumlah daerah. Seperti Wenga, permainan yang menggunakan bambu yang diserut. Kemudian di tumpuk dan harus dihancurkan. Ini permainan tradisional Papua,” katanya.
Umam menyebut, sebagian dari anak-anak yang bermain saat itu adalah mereka yang kerap bermain di Sanggar Sejati Desa Jatiurip. Sanggar belajar yang dibuat oleh sejumlah pemuda desa setempat. Permainan tradisional itu sengaja dipilih agar interaksi sosial di kalangan anak-anak tetap terjaga. Sehingga bisa membangun keguyuban dan emosional sebagai makhluk sosial.
Inisiatif kegiatan permainan tradisional itu muncul dari hasil renungan pemuda Jatiurip tentang anak-anak yang lebih suka main gadget. Mereka menilai gadget memberikan dampak negatif yang semakin lama kian terasa pengaruhnya. Misalnya, terlena saat bermain sampai tak kenal waktu. Membuat anak jadi sosok individual. Bahkan, sampai memengaruhi emosional anak.
“Dirasa atau tidak, interaksi dan kehidupan sosial anak berkurang saat mereka fokus main HP. Bahkan, ada yang mudah emosi, suka marah-marah dan kurang menghargai sesama,” kata Ainun Najib Afandi, salah satu penggerak komunitas Ndonesa Negeri Dolanan Anak Desa.
Karena pemikiran itu, muncul inisiatif mengajak anak-anak untuk bersosialisasi. Caranya, mengajari mereka permainan yang mengutamakan interaksi. Pilihan itu juga terinspirasi dari kegiatan Komunitas Kampung Lali Gadget (KLG), Sidoarjo. Mereka lantas memanfaatkan liburan tahun baru untuk mengajak anak-anak bermain. Selain untuk melestarikan permainan tradisional, juga untuk menjaga anak-anak dari persebaran Covid-19.
Memang baru anak-anak Desa Jatirurip yang diajak. Dari keseluruhan anak yang bermain, tak sedikitpun terlihat anak-anak yang membawa atau memegang gadget. Hal itu bukan karena permintaan dari dalang, namun secara sadar dan sukarela mereka tidak membawa gadget.
Dari kejauhan, Asmi, salah satu orang tua anak yang bermain mengaku sangat bersyukur. Bahkan, Asmi merasa permainan itu lebih pas untuk anak-anak, daripada sekadar main HP. “Syokkor, tang anak tak man dekman. Tak main HP meloloh. Pole preien tak agelejer (Syukur, anak saya tidak ke mana-mana, tidak main HP terus. Ditambah lagi, liburan tahun baru tidak keluyuran),” tandasnya.
Perkembangan teknologi semakin pesat berpengaruh besar dalam berbagai sektor kehidupan. Hampir berbagai tingkatan usia baik orang dewasa, remaja sampai dengan anak-anak sudah memanfaatkan bahkan bergantung pada gadget dalam aktifitas keseharian mereka. jumlah pengguna gadget setiap harinya dari kalangan anak-anak yang berusia kurang dari delapan tahun didunia adalah sebanyak 72 persen setiap harinya.
Penggunaan gawai di kalangan anak-anak umumnya sebagai hiburan seperti game. Pada dasarnya penggunaan gadget pada anak dapat mengasah kemampuan otak kanan, mengatur kecepatan berpikir, dan mengolah strategi. Disamping dampak positif tersebut, gadget yang digunakan secara berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif bagi anak.
Beberapa dampak negatif penggunaan gadget antara lain paparan radiasi dari layar gadget dapat merusak jaringan syaraf dan otak anak, menurunkan keaktifan anak dan kemampuan komunikasi anak serta membuat membuat anak lebih individual dan kurang memiliki sikap peduli.
Disisi lain pertumbuhan dan perkembangan otak manusia berlangsung paling optimal pada saat masih anak-anak. Masa anak-anak merupakan suatu masa emas dalam kehidupan manusia. Periode emas atau yang disebut Golden Age terjadi pada rentang usia 0-12 tahun. Menurutnya sekitar 50% kecerdasan manusia terbentuk saat berumur 4 tahun, 80% terbentuk ketika berumur 8 tahun, dan mencapai puncak tertinggi ketika anak berumur sekitar 18 tahun.
Pada masa ini anak cenderung mudah terpengaruh dan meniru orang sekitarnya. Lingkungan, pola pengasuhan dan pendidikan anak sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan kedewasaannya. Orang tua, pendidik dan masyarakat mempunyai tanggung jawab dalam membimbing anak-anak agar terhindar dari pengaruh negatif yang salah satunya berasal dari pengaruh penggunaan gadget yang berlebihan.
Berbagai program dan upaya mulai dilakukan untuk membatasi penggunaan gadget bagi anak. Seminar parenting merupakan salah satu upaya pencegahan yang umum dilakukan melalui pembekalan kepada orang tua tentang dampak gadget bagi anak. Selain arahan dan pengawasan dari orang tua, stimulus positif juga perlu diberikan pada anak sebagai pengganti gadget yang dapat menarik perhatian anak, tambahnya. [wiwit agus pribadi]

Tags: