Mengenal Tatok Hardiyanto, Atlet Difabel Andalan Situbondo

Tatok Hardiyanto saat diterima Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara usai menerima dua medali emas di ajang ASEAN Para Games di Malaysia.

Mamakai Kursi Roda, Mampu Raih Dua Emas ASEAN Para Games di Malaysia
Kab Situbondo, Bhirawa
Situbondo rupanya banyak menyimpan atlet olahraga berprestasi. Satu di antaranya adalah Tatok Hardiyanto, atlet difabel asal Kelurahan Patokan, Kecamatan Kota Situbondo. Pria yang selalu memakai kursi roda ini tercatat sebagai satu diantara peraih ratusan keping emas yang direbut atlet Indonesia pada di ajang Asean Para Games di Kuala Lumpur, Malaysia belum lama ini. Tatok Hardiyanto ini mampu meraih dua medali emas pada cabang olahraga tenis meja beberapa waktu lalu di Negara Malaysia.
Saat Bhirawa menemui Tatok dirumahnya di Jalan Mawar, Gang VIII, Kelurahan Patokan, Kecamatan Situbondo, semua warga mengenalnya. Selain sehari-hari memakai kursi roda, Tatok sudah lama dikenal sering mengharumkan Kota Santri dengan raihan prestasi cabor (cabang olahraga) tenis meja. Apalagi Tatok mampu membawa nama baik Indonesia di luar negeri, pada ajang ASEAN Para Games di Malaysia.
Sejak remaja, Tatok adalah atlet tenis meja kursi roda. Setiap penyelenggaran ASEAN Para Games, dia selalu menjadi andalan Indonesia. “Pada even olahraga tingkat Asia Tenggara khusus difabel ini saya telah menyabet puluhan medali,” katanya.
Pria yang lahir di Sidoarjo itu mulai mengikuti ASEAN Para Games 2011 lalu. Dari beberapa kelas tenis meja yang diikutinya, Tatok meraih tiga emas, dua perak dan satu perunggu. Dua tahun kemudian, tutur Tatok, persis pada 2013, ditunjuk menjadi salah satu atlet Indonesia yang dipercaya mengikuti ASEAN Para Games di Myanmar. Kala itu, dia meraih dua emas, satu perak. “Saya ikut lagi ASEAN Para Games di Singapura 2015 dan Alhamdulillah mendapatkan dua medali emas dan satu medali perak,” kata pria yang menetap di Situbondo sejak 1990 itu.
Terbaru, pada ASEAN Para Games di Kuala Lumpur, Malaysia beberapa waktu lalu, Tatok kembali mendapatkan dua emas. Masing-masing didapat dari cabor tenis meja kursi roda kelas ganda dan ganda open. Kala itu, Indonesia keluar menjadi juara umum dengan total raihan 120 emas. “Kami bersama atlet lain dari Tanah Air sangat terharu begitu Indonesia dinobatkan menjadi juara umum pada ASEAN Para Games di Malaysia,” terangnya.
Dari sederet prestasi tingkat internasional yang telah diraih, ada hal yang terkesan bagi Tatok yaitu ketika diperkenankan mengibarkan bendera merah putih di luar Indonesia. Karena saat itu hanya dua orang yang bisa mengibarkan bendera di luar negeri yaitu presiden dan atlet, maka momen sulit ia lupakan hingga saat ini.
Saat mengangangkat sang saka merah putih, ingat Tatok, rasa suka cita dan bangga tiba-tiba muncul. Saat itulah Tatok merasa telah mengharumkan Indonesia di dunia. “Saya juga bangga bisa mengangkat martabat keluarga dan juga merasa bangga bisa membawa nama baik Situbondo sebagai tempat tinggal saya saat ini,” paparnya.
Salah seorang teman Tatok, Dodik Saputro, mengakui tenis meja memang menjadi cabang olahraga yang digemari Tatok sejak usia remaja. Melalui olahraga ini, Tatok berhasil mendapatkan beasiswa hingga akirnya menyelesaikan kuliah. Sehingga setelah kuliah saya diangkat menjadi PNS.
Menurut Dodik, mimpi Tatok untuk menjadi pemain tenis handal sempat terkubur. Pada 2006, Tatok mengalami kecelakaan yang membuatnya cacat fisik untuk selama-lamanya. Tatok pun harus memakai kursi roda. Akan tetapi dengan kondisi seperti, Tatok berusaha bangkit. “Saya dan Tatok tetap latihan tenis meja. Tapi saat itu hanya menyalurkan hoby saja,” kenang Dody.
Setelah rutin latihan, urai Dodik, Tatok berubah pikiran. Dia mulai mengalihkan konsentrasinya dari sebatas menyalurkan hoby untuk benar terjun menjdi atlet profesional Para Games. Akhirnya, niat itu keturutan tepat pada 2010, Tatok memilih ikut Kejuaraan Nasional (Kejurnas) tenis meja difabel. Saat itu, rekannya itu mendapatkan dua emas dan satu perak.
“Dari sanalah Tatok mulai sadar kalau dirinya mampu menjadi pemain tenis meja yang hebat. Dia kemudian mencoba mengikuti kerjunas-kejurnas yang lain. Hasilnya, Tatok selalu menyumbang medali,” ujar Dodik lagi.
Saat ini, kata Dodik, dirinya bersama Tatok sedang konsentrasi untuk persiapan ikut ASIAN Paragames 2018 di Indonesia yang notabene menjadi tuan rumah even tingkat Asia itu. Targetnya tidak muluk-muluk yaitu meraih perunggu atau perak.
“Target itu cukup beralasan karena levelnya digelar se-Asia dan mendapatkan perunggu atau perak itu sudah merupakan prestasi yang sangat bagus. Syukur-syukur bisa mendapatkan emas. Doakan kami bisa meraih medai emas lagi, demi harumnya nama Situbondo dilevel dunia,” pungkas Dodik.
Pencapaian membanggakan yang diraih Tatok langsung diapresiasi oleh Pemkab Situbondo. Melalui Dinas Sosial dan sejumlah dinas terkait di Kabupaten Situbondo, Tatok Hardiyanto diarak keliling Kota Situbondo. Mulai PNS, swasta dan elemen pemuda ikut mengarak Tatok menaiki mobil dengan pajangan piala emasnya.
Menurut Kadis Sosial Kabupaten Situbondo Lutfi Joko Prihatin, konvoi bersama Tatok merupakan perhatian dan apresiasi pemkab atas prestasi fenomenal tersebut. “Ini bentuk penghargaan kami kepada Tatok,” ujar mantan Kadis Perhubungan Kabupaten Situbondo itu. [Sawawi]

Tags: