Menggeliat Wisata Hutan Mangrove Labuhan di Kabupaten Sampang

Distinasi hutan mangrove di Desa Labuhan, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang.

Sampang, Bhirawa
Desa wisata kini menjadi salah satu inovasi di tengah pandemi dua tahun terakhir. Memasuki kebiaasaan baru ini distinasi hutan mangrove di Desa Labuhan, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang mulai terlihat menggeliat dikunjungi wisata lokal dan luar Desa setempat.

Menurut kepala Desa Labuhan Jawahir konsep, wisata hutan mangrove memperkenalkan keindahan desa dan budaya masyarakat setempat melalui konsep wisata edukasi hutan mangrove. Pengembang wisata edukasi mangrove, diberi nama Wisata Bakau Labuhan Manis (WBLM) itu dibentuk untuk mengajak masyarakat agar sadar wisata. Senin (23/5/22).

Termasuk menyadari dampak manfaat wisata bagi perekonomian masyarakat desa,” ujarnya

Jawahiri menambahkan inovasi ini guna menciptakan desa mandiri dalam meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Termasuk untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan potensi desa ke publik.

Kedepan pengembangannyaabSalah satunya, sebagai sarana mempromosikan produk hasil olahan mangrove khas Desa, diantaranya Kopi, dan produk kecantikan dari mangrove.

Ia menambahkan, selama ini minat kunjungan wisatawan selalu ada.

Sehingga moment tersebut merupakan peluang untuk mengenalkan produk dan potensi desa ke masyarakat luar.

“Begitupun tidak banyak orang yang mengetahui fungsi pohon bakau atau manfaat bagi kehidupan manusia khususnya masyarakat pesisir pantai. Selain sebagai pemecah ombak mangrove juga berfungsi menahan air laut ketika pasang,” tuturnya.

Di sisi lain, konsep tentang local Living Tourism juga harus ada, artinya mengangkat kegiatan wisata dari kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.

Sehingga nantinya, wisatawan asing mendapatkan pengalaman wisata yang tidak dapat dirasakan di Negara asalnya.

Seperti, mengajak turis memandikan sapi atau ngarit karena dinilai lebih berkesan untuk mereka dari pada datang ketempat mewah.

“Jadi apapun yang ada didesa bisa jadi wisata. tidak harus membangun sesuatu yang besar melainkan membangun rasa cinta kepada desanya itu lebih penting,” katanya.

Sementara Nadir salah satu pengunjung saat ditemui di lokasi, tempatnya lumayan bagus, namun tempat akses masuk masih melalui Kantor Kecamatan Sreseh, dan dari jalan raya tempat wisatanya tidak terlihat. Kemudian selain itu, tiket masuk Rp. 5000 per-orang ditambah biaya parkir masih terlalu mahal untuk distinasi wisata pemula.

“Kemudian cita-cita melibatkan masyarakat lokal desa setempat untuk membuka usaha ekonomi kreatif di sekitar lokasi, masih belum maksimal, kami berharap distinasi ini benar-benar menjadi tempat wisata edukasi dan bisa mengangkat ekonomi masyarakat setempat. (lis.bb).

Tags: