Mengunjungi Bangunan Tua di Ploso, Jombang

Kondisi bangunan tua yang diduga bekas Sekolah Ongko Loro, di Ploso, Jombang beberapa bulan yang lalu. [Arif Yulianto]

Diduga Gedung Sekolah Ongko Loro, Tempat Ayah Bung Karno Jadi Mantri Guru
Kab Jombang, Bhirawa
Bangunan tua yang terletak di belakang sebuah mini market di sisi timur Jalan Raya Ploso-Babat di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang diduga merupakan sisa bangunan Sekolah Ongko Loro. Sekolah di mana Raden Soekeni Sosrodihardjo, ayah presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno (Bung Karno), saat bertugas menjadi Mantri Guru (kepala sekolah) di Ploso, Jombang pada masa penjajahan Belanda.
Sekilas, jika dilihat dari Jalan Raya Ploso-Babat tidak akan tampak karena tertutup minimarket yang diduga dulunya merupakan bagian depan dari bangunan tua tersebut. Namun jika masuk ke timur melewati sebuah gang di sebelah selatan mini market, akan tampak pagar sebelah selatan bangunan dengan bekas pintu masuk di sebelah selatan yang sudah ditutup.
Di sisi timur, pagar bangunan tua ini berbatasan langsung dengan rumah-rumah warga sekitar. Sementara jika masuk rumah warga untu melihat sisi utara bangunan, maka di situ juga akan terlihat pagar tembok setinggi tembok pagar sebelah selatan. Di sebelah utaranya lagi terdapat sebuah sungai.
Saat Bhirawa memasuki bangunan tua ini beberapa waktu lalu, dengan melewati sebuah lubang seukuran tubuh orang dewasa di sisi barat pagar sebelah selatan bangunan, tampak sebuah pemandangan bangunan yang sudah tidak utuh dan di sana sini terdapat belukar yang cukup lebat. Nampak yang tersisa yakni tembok-tembok dengan plengkungan-plengkungan yang merupakan ciri khas arsitektur kolonial modern, lebih khususnya merupakan arsitekur kolonial modern ala Eropa.
Hal itu seperti dikatakan Sastrawan Binhad Nurrohmat yang juga pernah mengunjungi tempat tersebut beberapa bulan yang lalu. “Plengkungnya jelas tipologi gedung modern kolonial. Bukan tipologi tradisional,” kata Binhad Nurrohmat, Sabtu (18/1).
Meski begitu, Binhad Nurrohmat menambahkan, agak sulit bagi dirinya untuk mengidentifikasi bangunan tersebut dengan membandingkan dengan bangunan lain karena kondisi bangunan itu yang sudah hancur. “Tapi identifikasinya sukar untuk dicarikan keserupaannya dengan gedung kolonial yang lain karena kondisinya sudah hancur,” tambah dia.
Seperti diketahui, Raden Soekeni Sosrodihardjo pernah tinggal di Ploso, Jombang selama beberapa tahun saat ia menjadi Mantri Guru setelah pindah dari Surabaya. Kepindahan Raden Soekeni dari Surabaya ke Ploso ini juga pernah di tulis di dua buku yakni buku berjudul Candradimuka, buku tentang Trilogi Spiritualitas Bung Karno yang ditulis sejahrawan Jombang, Dian Sukarno dan buku yang berjudul Ida Ayu Nyoman Rai, Ibu Bangsa yang ditulis 7 orang profesor dan 1 orang doktor antara lain Dr Nurinwa Ki S Hendrowinoto, Prof Dr AA Putra Agung, Prof Dr Aminudin Kasdi, Prof Dr Tadjoer Rizal Baiduri, Prof Dr Fabiola D Kurnia, Prof Dr Roesminingsih, Prof Dr A Fatchan dan Prof Dr Jacob Sumardjo.
Raden Soekeni Sosrodihardjo pindah bertugas dari Surabaya ke Ploso berdasarkan beselit Nomor. 16232 tanggal 28 Desember tahun 1901. Raden Soekeni bertugas di Ploso, (masuk Kabupaten Jombang saat ini) mulai tahun 1901 hingga tahun 1907.
Terkait bangunan tua yang diduga sebagai bekas gedung Sekolah Ongko Loro, tempat Raden Soekeni berdinas ini, juga pernah disampaikan oleh Khoirul (47), juru kunci rumah Bung Karno semasa kecil di Ploso, Jombang di Desa Rejoagung Gang Buntu yang sekarang dirubah oleh warga setempat menjadi Gang Bung Karno. “Saat tinggal di Ploso, ayah Bung Karno dulu katanya mengajar di sekolah itu,” kata Khoirul beberapa waktu yang lalu.
Bung Karno sendiri diduga kuat lahir di lokasi yang dulunya merupakan rumah yang lahannya di jaga oleh Khoirul. Bung Karno terlahir dengan Raden Koesno Sosrodihardjo. Di sejumlah data disebutkan, Ida Ayu Nyoman Rai, ibu kandung Bung Karno mengikuti sang suami (Raden Soekeni Sosrodihardjo) saat bertugas di Ploso.
Namun bangunan rumah yang diduga kuat merupakan tempat lahir Bung Karno itu saat ini tinggal pondasi dan bongkahan rumah serta sumur dan satu kamar mandi. Rumah tersebut roboh pada sekitar lima tahun yang lalu.
Bung Karno diduga kuat lahir di rumah itu merujuk dua dokumen tertulis yakni, dokumen pendaftaran sekolah Bung Karno di THS (ITB) Bandung dan tulisan tangan Raden Soekeni Sosrodiharjo. Pada dua dokumen ini ditulis bahwa Bung Karno lahir pada 06 Juni 1902, bukan 06 Juni 1901. Meski pada dokumen itu ditulis tempat kelahiran Bung Karno yakni Soerabaia.
Terkait tulisan Soerabia di dua dokumen ini, juru kunci Situs Persada Soekarno, nDalem Pojok, Wates, Kediri, R Kushartono menyatakan bahwa pada tahun 1902, wilayah Ploso, Jombang merupakan bagian dari (Karesidenan) Soerabia (Surabaya).
“Tapi kalau BK (Bung Karno) lahir di Surabaya yang masa itu (1902) wilayahnya sampai Ploso, Jombang, ini yang benar menurut kami, dan sesuai data autentik. Data autentik tanda lahir tulisan tangan ayah Bung Karno dan data catatan arsip THS Bandung. Kemudian juga data beselit-beselit Belanda. Jika data-data ini kita gabungkan, kesimpulnya Bung Karno lahir tanggal 06 Juni 1902 di Ploso yang waktu masuk wilayah Surabaya. Jadi dikatakan Sukarno lahir di Surabaya tidak salah. Tapi Surabaya tempo dulu bukan Surabaya wilayah saat ini,” pungkas Kushartono. [arif yulianto]

Tags: