Mengunjungi Kampung Sate di Desa Wringin Anom, Situbondo

Sejumlah warga yang ada di Kampung Sate Desa Wringin Anom Kecamatan Panarukan Situbondo kompak saat membuat sate lalat yang terbuat dari potongan kecil daging ayam. [sawawi]

Mampu Produksi Ribuan Tusuk Sate, Digemari Pelanggan hingga Luar Daerah
Kabupaten Situbondo, Bhirawa
Kabupaten Situbondo yang mempunyai garis pantai sepanjang 150 km, mulai dari Kecamatan Banyuglugur (berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo) hingga Kecamatan Banyuputih (berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi), dikenal memiliki khasanah masakan yang unik dan memiliki rasa enak dan nikmat. Salah satu diantaranya, Sate Lalat yang terbuat dari potongan kecil daging ayam. Masakan ini hampir merata di Desa Wringin Anom, Kecamatan Panarukan, Situbondo karena mampu memproduksi ribuan tusuk sate setiap harinya. Seperti apa keunikannya ?.
Jika Anda melintas dari arah Surabaya hendak pergi ke Pulau Dewata Bali, pasti melewati jalan raya Desa Wringin Anom, Kecamatan Panarukan. Titik desa ini persis berada sebelum anda memasuki kawasan Kota Situbondo, Lingkungan Karangasem Kelurahan Patokan.
Disana, ada satu titik Dusun bernama Kampung Sate. Sebagian penduduknya hampir rata menjadi penjual sate lalat dan mangkal diberbagai sudut strategis di Kota Santri Situbondo. “Ada yang mangkal di depan Pemkab Situbondo, Polres Situbondo, DPRD Situbondo dan di kawasan Jalan Wijaya Kusama Situbondo,” aku Hodri salah satu penjual sate lalat asal Kampung Sate Desa Wringin Anom.
Menurut Hodri, salah satu Dusun di Desa Wringin Anom, Kecamatan Panarukan dikenal luas dengan nama Kampung Sate. Nama itu cukup melegenda karena mayoritas warganya bekerja sebagai penjual sate. Mulai dari nenek moyang Hodri hingga anak anaknya saat ini juga terjun sebagai penjual daging sate. Kenapa disebut sate lalat ? Kata Hodri, penyebutan nama Sate Lalat karena potongan daging ayamnya sangat kecil sehingga di beri nama seperti itu. “Ya sangat dikenal dengan nama sate lalat. Tapi bukan berasal dari lalat lho,” urai Hodri.
Hodri lalu menceritakan, cara pembuatan sate lalat. Pertama daging ayam yang sudah dipotong itu diiris hingga menghasilkan potongan daging yang sangat kecil. Tidak terlalu lama, sudah menghasilkan ratusan tusuk. Kegiatan itu tampak di lakukan Hodri bersama tetangga yang lain setiap harinya. Bahkan, aku Hodri, hampir seluruh rumah warga yang ada di kawasan itu berprofesi sebagai penjual sate lalat. “Hari hari kami selalu membuat tusuk sate. Letaknya di salah satu dusun di Desa Wringin Anom, Kecamatan Panarukan, Situbondo,” ujar Hodri.
Sate di sini, urai Hodri, memiliki rasa yang berbeda dengan sate kebanyakan. Selain irisan dagingnya sangat kecil, juga memiliki racikan bumbu spesial. Karena itu, warganya menyebutnya dengan sate lalat. Ukurannya tidak jauh beda dengan lalat dan dicampuri dengan bumbu kacang yang khas. Akhirnya Dusun ini menamai dengan Kampung Sate. “Julukan itu bermula dari pekerjaan penduduk setempat yang mayoritas menjual sate. Taksasi kami sekitar 90 persen masyarakat di sini bekerja menjual sate,” terangnya.
Dia mengatakan, saat ini sedikitnya ada 50 warga berprofesi sebagai penjual sate. Dari catatan yang ada, aku Hodri, produksi sate di kampung Sate rata-rata mencapai 2.000 tusuk per hari. Tak sedikit pula, terang Hodri, aktivitas warga di sini, setiap pagi juga membuat sate sesuai dengan pesanan pelanggan. Hodri kembali mengaku pelanggan sate lalat ada di seluruh kecamatan di Situbondo. Mulai dari ujung barat sampai ujung timur, selalu ada pemesan. “Bahkan, ada pelanggan dari Bondowoso dan Jember. Termasuk diantaranya berasal dari tempat wisata, seperti Wisata Bahari Pasir Putih, Kampung Kerapu dan Kampung Blekok banyak juga yang memesan. Tentu yang dipesan masih sate mentahnya,” ujarnya.
Hodri menerangkan, ada sejumlah warga yang juga menyediakan pembelian sate yang sudah dibakar. Biasanya bisa dibeli langsung di setiap rumah di Kampung Sate. Satu porsi harganya Rp 10 ribu. Lebih jauh Hodri mengaku, sate lalat mulai dijual di kampungnya sekitar awal tahun 2000. Ketika itu, ada salah satu warga yang membawa dari Madura. Warga tersebut kemudian membuat untuk dijual. “Seiring waktu berjalan lama kelamaan, warga yang lain ikut membuat dan menjual sate lalat,” tandas Hodri.
Rekan Hodri bernama Suyono, menimpali, sebelumnya di Madura sudah lama sate sejenis dijual di pasaran. Menurut cerita yang ada, lanjut Suyono, sate lalat sudah ada sejak tahun 1970 silam di Madura. Awalnya berasal dari Madura dan berkembang pesat hingga masuk di wilayah Kecamatan Panarukan Kabupaten Situbondo sejak tahun 2000 silam. Seingat Suyono, pertama kali dijual di Kecamatan Panarukan, sate lalat itu langsung banyak yang suka. “Sehingga setiap penjual mendapatkan keuntungan yang besar karena dagangan laris. Warga banyak yang suka karena dagingnya empuk dan memiliki rasa yang enak dan gurih,” beber Suyono.
Fathor, warga asal Jalan Wijayakusuma Kelurahan Dawuhan Kecamatan Kota Situbondo sudah cukup lama menyukai sate lalat asli buatan Kampung Sate Desa Wringin Anom. Kata Fathor, ia biasa membeli sate lalat ditempat pangkalan langganannya di sebelah timur Kantor Kelurahan Dawuhan.”Disamping rasanya enak, harganya cukup terjangkau masyarakat. Saya rutin membelinya. Apalagi kalau ada tamu, pasti kami sediakan menu sate lalat ini untuk dimakan bersama sama,” pungkasnya. [sawawi]

Tags: