Mengunjungi Rumah Baca Cahaya Inisiatif Amir Hamzah

Rumah Baca Cahaya yang ada di Desa Pohsangit Kidul. Hampir setiap hari rumah baca ini dipenuhi bocah. [wiwit agus pribadi]

Tergerak Lihat Buta Aksara, Dijadikan Tempat Berkumpul, Bermain dan Belajar
Kab Probolinggo, Bhirawa
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menambah literasi. Seperti yang dilakukan Muhammad Amir Hamzah. Dia berjuang mendirikan rumah baca di Desa Pohsangit Tengah, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo. Dengan keterbatasan fasilitas, rumah bacanya banyak dikunjungi anak-anak untuk belajar.
Sebuah tikar terhampar di depan rumah Zubaidah. Tikar itu tengah dibersihkan Muhammad Amir Hamzah. Ada empat kardus berisi buku yang kemudian dibuka dan ditata. Tak lama berselang, anak-anak desa setempat berdatangan. Seakan mereka sudah tahu jadwal jam rumah baca itu. Senyum dan canda, mereka pun memilih buku yang diinginkan. Ada sekadar suka melihat gambar isi buka, ada juga yang serius membacanya.
Di teras rumah itulah, mereka belajar, ngobrol dan saling bertanya. Melupakan sejenak permainan tradisional mereka ataupun kecanggihan teknologi seperti gawai. Begitulah suasana rumah baca ‘Cahaya’. Sebuah tempat yang diinisiasi Muhammad Amir Hamzah.
Amir Hamzah yang lahir di Probolinggo 8 Oktober 1999 itu sejatinya berasal dari Desa Bayeman, Kecamatan Tongas. Tapi hampir tiap hari dia pasti menyempatkan datang ke Desa Pohsangit Tengah. Tepatnya di Dusun Krajan, RT 04/RW 01 Desa Pohsangit Tengah. Tidak hanya datang, tapi berjuang agar rumah baca yang tengah dirintisnya aktif.
Meski jarak tempuh tempat tinggalnya ke Desa Pohsangit Tengah jauh, tetap dijalani. “Alhamdulillah, meski dengan fasilitas sederhana ini, rumah baca Cahaya yang aktif mulai awal Oktober (2021) tetap aktif. Semoga, rumah baca ini bisa terus berkembang dan dapat perhatian dari semua masyarakat,” kata anak kedua dari tiga saudara tersebut, Rabu (19/1) lalu.
Amir menerangkan, dirinya sebenarnya masih berstatus mahasiswa semester 7 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jurusan Pendidikan Moral Pancasila dan Kewarganegaraan (PMPKN). Nah, di akhir semester itu dirinya ingin merintis rumah baca. Sembari aktif di rumah baca, dirinya tetap bekerja mencari kerang di saat musimnya. Lumayan, hasilnya bisa buat tambah-tambah biaya kuliah dan merintis rumah baca.
Kenapa di Desa Pohsangit Tengah? Amir Hamzah memulai cerita ketika tahun 2020 lalu, dia dan temannya berkunjung ke Desa Pohsangit. Desa ini sulit untuk akses jaringan internet. Masih banyak anak-anak yang ada di sana, bermain permainan tradisional. Sama halnya saat zaman dia masih kecil.
Diamati kembali, tidak sedikit orang tua mereka yang latar belakang buta aksara. Mereka di tengah pandemi, hampir tidak sekolah. Dari situ, dirinya tergerak untuk buat rumah baca. Tempat mereka berkumpul, bermain dan belajar.
Ternyata, keinginannya itu disuport oleh organisasi Forum Lingkar Pena Cabang Probolinggo. Dari situ, dia mencari lokasi yang pemiliknya bersedia dijadikan tempat rumah baca. “Awal respons kurang dan sepi. Setelah saya ajak dan dekati anak-anak itu, perlahan terus tambah ramai,” terangnya.
Amir mengharapkan, rumah baca Cahaya dapat berkembang dan miliki tempat sendiri. Sehingga, mereka bisa datang berkunjung untuk membaca, pinjam buku kapan saja. Karena, memang belum ada perpustakaan. Jika harus ke perpustakaan daerah, pasti jauh. Nantinya, diharapkan buku-buku yang aa di rumah baca terus bertambah dan menjadi daya tarik anak-anak semakin rajin membaca.
“Rumah baca buka tiap hari. Karena saya dibantu Noor Lia Khan, mahasiswa UIN KHAS Jember yang jaga rumah baca ini. Kebetulan Noor Lia ini juga pemilik rumah yang dijadikan rumah baca. Bahkan ada bimbingan belajar juga,” ungkapnya.
Zubaidah, warga desa setempat mengaku tidak keberatan dengan aktivitas rumah baca yang dibuka Amir. Justru dirinya dan warga sekitar sangat senang. Sebab, anak-anak mereka ada yang mengajak dan menemani belajar. “Malah senang, karena ada yang mau ngajarin belajar. Susah kalau anak-anak main terus,” ungkap ibu dua anak itu. [wiwit agus pribadi]

Tags: