Meniru Kerja Nyata Pahlawan Penembus Batas

kahResensi Buku :
Judul Buku  : Kick Andy Heroes: Para Pahlawan Penembus Batas
Penulis    : Wisnu Prasetyo Utomo dan Tim Kick Andy
Penerbit    : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Tahun     :Februari,  2014
Tebal        : 162 halaman.
ISBN       : 978-602-291-010-7
Peresensi  : Muhammad Saleh
Pengajar di SD IT Tarbiatul Aulad, Barabai, Kalimantan Selatan.
Berbagi tidak perlu dimulai dari hal besar, tetapi dari hal kecil yang bisa kita lakukan. Itulah prinsip yang dianut oleh orang-orang yang menerima penghargaan dari Kick Andy Foundation atas dedikasi mereka yang bekerja tanpa kenal pamrih untuk orang lain dan lingkungan. Mereka disebut sebagai “Kick Andy Heroes”.
Buku ini penting untuk dibaca agar menumbuhkan motivasi dan semangat untuk berbagi walau dalam keadaan terbatas dan kekurangan. Karena kita sering mendengar kata “kalau” jika ingin memulai sesuatu yang dirasa kita tidak mampu melakukannya karena masih dalam keadaan yang tak memungkinkan.
Contohnya Yon Haryono, seorang  pelatih  angkat besi di Metro, Lampung. Ia mantan lifter nasional. Karena cedera yang dialaminya, ia harus memutuskan pensiun di usianya yang baru beranjak 24 tahun. Tekadnya menjadi atlet internasional dan mempersembahkan medali untuk Indonesia sirna.
Meskipun sudah tidak bisa bertanding, Yon memiliki cara lain untuk mewujudkan mimpinya. Selepas pensiun, Yon memilih menjadi pelatih angkat besi di kampung halamannya di Desa Tejosari, Metro, Lampung. Dengan bermodal sasana sederhana dan keterbatasan fasilitas, ia mendidik  anak-anak di kampungnya menjadi calon lifter. Yon tidak pernah putus asa dan menyerah walau dengan peralatan latihan yang tak memadai untuk melatih anak-anak didiknya. (hal.4-5).
Hasilnya sungguh luar biasa dan membuat bangga Indonesia. Dari kerja kerasnya, Yon berhasil melahirkan juara-juara angkat besi internasional sekelas SEA Games dan Olimpiade, seperti Triyatno dan Eko Yuli Irawan. Kerja kerasnya tidak sekedar membentuk atlet-atlet berprestasi, tetapi sedikit banyak juga turut memperbaiki kondisi perekonomian warga sekitar kampungnya.
Tak jauh berbeda dengan Yon, Liana Christanty yang di dorong oleh nurani keibuannya, mendirikan Pondok Hayat. Ia mengedukasi perempuan-perempuan untuk tidak melakukan aborsi dengan mengingatkan janin yang dikandung juga memiliki hak untuk hidup.
Liana mengambil keputusan yang tidak main-main. Ia memutuskan berhenti menjadi pengusaha. Ia ingin mengabdikan dirinya untuk membantu perempuan-perempuan yang hamil diluar nikah serta anak-anak yang tidak berdosa. (hal. 56).
Dana operasional Pondok Hayat tidak bisa dibilang kecil. Apalagi, mereka mesti menangani ibu-ibu dan anak-anak yang tentu butuh perawatan khusus. Namun, Liana bersyukur karena sampai sejauh ini donasi dan sumbangan ke Pondok Hayat masih sangggup menopang kebutuhan operasionalnya. Donasi itu berasal dari individu, lembaga, sampai orangtua perempuan hamil yang ia bantu yang berasal dari keluarga mampu. (hal. 62).
Kisah lainnya tentang perjuangan Bahruddin dalam merintis sekolah alternatif yang ia dirikan di kampung halamannya. Pada awalnya, perjuangan Bahruddin cukup berat. Ia mendatangi rumah-rumah warga mengajak anak-anak untuk belajar di Qaryah Thayyibah, sekolah yang ia bangun. Tidak sedikit yang menolaknya karena banyak warga yang masih terpaku pada pendidikan formal sekolah negeri.
Bahruddin tidak putus asa, dengan semangat dan kerja kerasnya, ia ingin melahirkan murid-murid berprestasi. Di Qaryah Thayyibah para siswanya diajak produktif berkarya. Salah satu modal penting yang mesti dimiliki anak-anak adalah kemampuan menulis. Hasilnya sungguh luar biasa, ada anak yang mampu menulis 25 buku pada usianya yang masih belia. Pun ada beberapa penerbit yang tertarik menerbitkan karya-karya tersebut.
Sekolah ini tak mengenal sistem ranking. Sistem ini dianggap Bahruddin hanya akan menanamkan semangat kompetisi yang negatif. Anak-anak bisa bermusuhan jika kompetisi berlangsung tidak sehat. Karena menurutnya, kunci kesuksesan bisa dilakukan dengan menambah teman, bukan memperbanyak musuh. (hal. 89).
Membaca buku ini akan menyadarkan kita, bahwa apa yang dilakukan pahlawan-pahlawan yang di kisahkan dalam buku ini hanyalah sebagian kecil contoh bahwa keterbatasan yang dimiliki bukanlah penghalang dan hambatan untuk dapat berbuat sesuatu untuk orang lain. Rasa sayang pada orang lain, lingkungan, juga pada alam telah memacu mereka untuk berbuat lebih pada orang lain. Sampai saat ini, jejak jasa mereka terekam dalam banyak kehidupan orang lain.

Tags: