Menjadi Guru Penulis yang Ciamik

Judul buku : Writing Is Selling
Penulis : Much. Khoiri
Penerbit : Pagan Press
Terbit : Cetakan Pertama 2018
Tebal : 108 halaman
ISBN : 978-602-0891-93-4
Peresensi : Sriyatni
Penggiat literasi di Ikatan Guru Penulis Tuban Jawa Timur
Menjadi guru penulis atau penulis pemula memang diakui banyak kendala. Namun, dengan banyak membaca akan memperkaya diksi dan tata bahasa. Apalagi selalu mengupgrade ilmu kepenulisan dan berdiskusi dengan penulis senior membuat ilmu menulis dijamin ciamik. Menulis pada hakikatnya adalah menjual. Menjual gagasan untuk dibaca dan diterima oleh orang lain. Karena dalam hidup manusia itu, menjual sesuatu. Jualan itu bisa berupa gagasan, produk, jasa, ketrampilan, talenta, atau kesempatan kepada konsumen.
Mindset utama untuk menghayati Writing Is Selling adalah memiliki ungkapan pengubah dunia. Artinya mengubah kata menjadi tindakan nyata, karena mindset seseorang sangat memengaruhi tindakannya. (hal 3). Orang lain tidak akan dapat mengubah diri anda kecuali anda sendirilah yang bisa mengubah, menjadi apa yang anda inginkan.
Menulis itu berkomunikasi untuk menyampaikan suatu pesan secara efektif dan tepat sasaran. Untuk memperlancar proses menulis, bisa dibayangkan seakan-akan pembaca dihadirkan dalam satu ruang komunikasi. Selain itu yang tidak kalah penting tulisan harus sesuai dengan kebutuhan pembaca. Dengan demikian menulis bukan hanya sekadar ekspresi melainkan berkomunikasi.
Untuk menjadi pintar seseorang harus banyak belajar dan berlatih. Namun, untuk menjadi bijaksana harus mengamati, menghayati, merenungkan, dan memetik hikmahnya. Jadikan menulis sebagai momen filosofis. RA Kartini tidak berjuang mengangkat senjata di medan perang. Namun, RA Kartini menuliskan semua kisahnya untuk memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Maka, RA Kartini lebih dikenang oleh rakyat Indonesia, daripada pahlawan-pahlawan wanita lain yang bertaruh nyawa dan mengangkat senjata bergerilya melawan penjajah.
Menulis ibarat menebar benih kepada pikiran dan jiwa pembaca. Maka, tebarkan kebaikan dengan cara benar, santun, dan beradab. Jadikan tulisan-tulisan itu menginspirasi banyak orang. Sehingga akan lahir tulisan-tulisan kebaikan berikutnya.
Jika seseorang sedang belajar maka, belajarlah pada ahlinya karena seorang ahli menguasai ilmu teoritis dan praktis. Sejarah menunjukkan bahwa orang-orang hebat selalu berguru pada orang-orang hebat sebelumnya. Seorang murid bisa sukses seperti gurunya, atau bahkan lebih karena semua orang mempunyai keunikan dan kekhasan masing-masing.
Pikiran manusia seperti payung, dia akan bermanfaat jika terbuka. Demikian pula pikiran manusia akan berkembang jika mau membuka diri. Menerima kritik, saran, masukan, dan pengalaman baru dari orang lain. Karena sesungguhnya di atas langit masih ada langit. Manusia penuh dengan kekurangan dan juga kelebihan masing-masing.
Membangun dan menjaga spirit untuk menulis sangat penting. Dengan menulis kita dapat mewariskan ilmu pengetahuan yang telah susah payah kita raih dengan penuh perjuangan. Mudah-mudahan jariyah ilmu pengetahuan yang kita torehkan mendapat limpahan pahala yang mengalir sepanjang waktu.
Mendidik diri untuk menulis dengan memperdalam pengetahuan dan wawasan. Sebagai pendidik yang mendidik orang lain, seyogyanya kita mampu mendidik diri kita agar patut diteladani. Karena sesungguhnya anak-anak lebih melihat praktik yang kita kerjakan daripada apa yang kita ucapkan.
Menulis dapat melawan kepikunan. Tubuh memerlukan asupan gizi yang cukup agar kondisi fisik tetap bugar. Sedangkan otak butuh nutrisi dari informasi, salah satunya dari membaca. Menulis menjaga neuron-neuron dalam otak manusia agar tetap dinamis. JK Rowling tetap sehat ketika menulis serial Harry Pottr meski usianya tak muda lagi.
Perjuangan tidak harus mengangkat senjata. Lewat tulisan kita dapat menangkis serta melawan gempuran dahsyat teknologi yang kurang sesuai dengan kepribadian bangsa. Imam Al-Ghazali dengan Ihya Ulumuddin berjuang untuk keilmuan dan keulamaan umat Islam. Begitu pula penulis dan pejuang keilmuan seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Batutah, Imam Bukhari, Buya HAMKA, Gus Dur dan sebagainya.
Mengikat ilmu dengan tulisan, sebagai pembelajar kita perlu menuliskan apa yang telah kita pahami sebagai ilmu pengetahuan. Semakin banyak belajar maka, akan semakin banyak yang dapat kita tuangkan ke dalam tulisan. Mengapa kita harus menulis? Tentu jawabanya karena kita lemah dalam mengingat dan menghafal semua yang telah kita lakukan. Maka abadikan semua dengan tulisan.
Dengan membaca buku ini anda juga akan memahami bagaimana mencintai kata, menentukan topik, membuat kerangka tulisan, mengembangkan ide, dan menyesuaikan bahasa dengan genre tulisan. Menulis adalah seni, memahami ars poetica penulis, dan enam jurus menjadi writerpreneur. erakhir pesan Pak EMCHO, hargai penulis belilah karyanya karena penulis berjuang untuk mewujudkan karya-karyanya.
———- *** ————-

Rate this article!
Tags: