Menjadi Pahlawan Bagi Anak

Amir RifaiOleh :
Amir Rifa’i
Staf Markaz Dakwah FAI dan Mahasiswa Pascasarjana UMM
Akhir-akhir ini kita semua disuguhi dengan berbagai berita yang sangat beraneka ragam, mulai dari dunia politik, kekuasaan, ekonomi sampai kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak dan masih banyak berita-berita lain yang tersaji oleh media saat ini. Namun berita yang membahas tentang kekerasan terhadap anak serta solusinya yang akan menjadi topik yang akan kita bahas dalam secuil tulisan ini.
Saat ini hampir semua media menyuguhi berita yang sama yakni tentang kekerasan pada anak, terutama kekerasan seksual. Kasus kekerasan seksual terhadap anak mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tulisan sederhana ini merupakan sambungan dari tulisan beberapa hari lalu yang pernah dimuat di koran harian Bhirawa.
Tapi yang menjadi persoalan disini adalah apakah tidak ada perlindungan/pelindung bagi anak tersebut ketika berada diluar rumah? Ini menjadi persoalan tersendiri bagi anak, oleh karena itu kejahatan yang terus meningkat dari tahun-ketahun membuat kita semua prihatin bahkan ragu ketika meninggalkan anak sendiri diluar. Pelindung disini bukan berarti kita mengambil pembantu atau perawat khusu bagi anak, tapi lebih klepada pengawasan terhadap anak supaya lebih aman dan terhindar dari kejahatan yang setiap saat bisa menghampirinya.
Saat ini, kita semua yang seharusnya bertanggung jawab terhadap anak, telah memperlakukan anak dengan mengabaikan dan seringkali tidak menyediakan kebutuhan anak secara tepat. Padahal menurut psikologi anak sangat membutuhkan perhatian mulai dari emosi seperti sentuhan, cinta dan pengasuhan, hal inilah yang kurang dipenuhi oleh orang tua saat ini. Selain itu, kita cendrung lalai dalam mengasuh dan memberi perhatian sehingga banyak sekali yang memperlakukan dan memperspsikan kekerasan sebagai sebuah candaan. Yang sering terjadi saat ini adalah kekerasan fisik. Perlakukan kasar secara fisik terhadap anak, seperti mencubit, menendang, memukul atau mengguncang, ini semua termasuk dalam katagori kekerasan fisik yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh siapapun dan kepada siapapun tapi ini sering dipersepsikan hal biasa oleh kita. memang kekerasan fisik kerap kali tak ada batas jelas antara menyiksa dan mendisiplinkan. Hal ini sangat sering sekali dialami oleh anak-anak kita.
Selain kekerasan berupa fisik yang tersebut diatas, kekerasan seksual juga kerap sekali menghampiri anak-anak disekeliling kita yang sering dilakukan orang dewasa terhadap anak. Contoh yang saat ini menjadi keprihatinan kita bersama bahkan menjadi perbincangan sampai tingkat internasional adah si -Emon- yang telah memakan korban sampai 95 lebih. Betapa tidak, seorang pria yang baru berumur 24 tahun sudah menjadi ancaman bagi anak-anak kita. Orang tua mana yang tidak merasa prihatin dengan hal semacam ini?.
Hari ini, tidak ada orangtua yang merasa aman akan keadaan anak-anaknya.  Anak laki-laki maupun perempuan, semua berpotensi sebagai korban. Baik itu korban kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Baik itu yang dilakukan oleh orang luar maupun orang yang terdekat dengan kita. Dalam hal ini ada beberapa pihak yang dianggap sangat bertanggung jawab dalam maraknya kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak.  Pertama, keluarga. Memang keluarga adalah pendidik pertama kali yang mengajarkan kepada anak tentang apapun tapi saat ini keluarga dianggap lalai dalam menjalankan fungsi pendidikan terutama pendidikan seks terhadap anak sehingga memudahkan pelaku untuk melakukan perbuatan bejatnya.
Pihak yang kedua adalah lingkungan.  Lingkungan masyarakat yang cendrung acuh tak acuh, masa bodoh dan tidak peka terhadap keadaan sekitar membuat pelaku kejahatan bebas melakukan aksinya. Bisa dibayangkan, bagaimana mungkin didepan teras rumah yang dekat dengan jalan raya bisa terjadi tindak kekerasan, bagaimana mungkin di toilet sebuah sekolahan bisa terjadi perbuatan keji pada seorang anak tanpa ketahuan?  Apakah tetangga tidak melihat? apakah semua masyarakat yang lalu lalang tidak mencegah? Apakah orang tua atau guru tidak memperhatikan perubahan sikap terhadap anak? Memang tidak bisa dibantah bahwa lingkungan juga seringkali memberikan pengaruh buruk, yang melahirkan para pelaku kejahatan. Sungguh ini menjadi ironi dan dilemma bagi kita semua jika lingkukangan disekitar kita tidak bisa menjamin keamanan anak.
Adapun fihak Ketiga yang harus bertanggung jawab serta melindungi anak-anak kita adalah negara. Negara sangat bertanggung jawab dalam menentukan perlindungan dan keamanan bagi anak, terutama mereka yang masih mengenyam dunia pendidikan. Jika kita mau menuduh maka Negara termasuk pihak yang paling bertanggung jawab dalam melindungi keselamatan anak. Walaupun tidak bisa dipungkiri dalam Negara kita ini sudah ada yang namanya Komnas Perlindungan Anak, tapi masih belum maksimal dalam menciptakan keamanan bagi anak. Oleh karena itu pembenahan secara keseluruhan harus dilaksanakan.
Sedangkan fihak yang keempat adalah kita semua. Baik masyarakat kecil, menengah maupun para elit. Baik pelajar, mahasiswa, guru maupun dosen bahkan professor. Kita semua dibebani tanggung jawab atas keamanan yang ada disekitar kita. Kita tidak bisa hanya berpangku tangan menunggu penanganan dari pemerintah atau aparatur negara, tapi hendaklah kita juga menjadi pahlawan atas keamanan lingkuangan kita, sehingga kita bisa tenang jika memang tidak ada yang mengancam.
Kita semua tentu berharap yang terbaik bagi anak-anak kita supaya selalu dalam keadaan baik-baik saja. Namun apa daya jika kejahatan setiap saat mengintai kita tanpa mengenal batas usia. Oleh karena itu menjadi pahlawan bagi anak hendaknya kita jadikan sebagai kewajiban bagi diri kita masing-masing supaya hal-hal yang tidak kita inginkan tidak terjadi. Kewaspadaan menjadi hal yang penting dikala semua menjadi resah oleh kejahatan yang meraja lela.
Entah kita guru, orang tua atau siapapun, marilah kita semua menjadi penjaga yang baik bagi kemakmuran bersama dan terwujudnya lingkungan yang harmonis sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran terhadap semua. Semoga kedepanya tidak pernah terjadi kejahatan seperti yang tidak kita inginkan.

———— *** ————

Rate this article!
Tags: